


Jumat, 6 Oktober 2006, 19:30:45 WIB
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyobo menyatakan dukungannya terhadap Bank Indonesia yang telah melunasi utang kepada IMF. Presiden menyatakan hal itu dalam keterangan pers usi rapat konsultasi dan koordinasi dengan Tim Ekonomi, Jumat (6/10).
“Saya tentu mendukung dengan sangat, dan ini menjadi bagian dari kerangka ekonomi kita sekarang ini dan ke depan karena meskipun di banyak negara utang itu dianggap biasa kalau itu untuk membiayai pembangunan, dan apabila ekonomi negara yang bersangkutan berada dalam kapasitas untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. Tetapi yang jelas akibat krisis, utang kita terlalu besar, baik dalam ukuran debt to GDP ratio maupun dalam ukuran komponen utang dalam anggaran pendapatan dan belanja kita,“ kata Presiden.
“Oleh karena itu kita bertekad untuk terus menerus mengurangi rasio utang terhadap GDP kita. Alhamdulilah dari mulai 80 persen pada tahun 2000 terus susut. Tahun 2004 sudah menjadi 54 persen, tahun 2005 itu mencapai 48 persen. Harapan kita tahun 2006 turun lagi mendekati 40 persen dan seterusnya makin turun hingga Indonesia dari ukuran debt to GDP ratio betul-betul sehat, lebih sehat dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara," Presiden menambahkan.
Komponen debt to GDP ratio, lanjut SBY, juga masih tinggi. Persoalannya bukan hanya di situ, tapi kita harus mengejar lagi agar dalam kerangka APBN, komponen utang ini, pembayaran bunga dan pokoknya juga berkurang serendah mungkin dikaitkan dengan besaran APBN. "Di situlah yang kita harapkan penerimaan dalam negeri, penerimaan pajak meningkat dengan baik. Pajak bisa meningkat kalau dunia usaha juga berkembang dengan baik, dan demikian merupakan kerja kita semua agar dalam jangka menengah dan jangka panjang betul-betul utang kita makin susut secara dramatis, dan kita tidak membebani lagi anak cucu kita dengan beban yang secara tidak adil harus mereka tanggung,“ papar Presiden.
“Inilah yang saya jelaskan bagaimana langkah kita untuk mengelola utang ini, dan dalam banyak kesempatan di luar negeri. Sebagai contoh, saya juga menyerukan kepada negara-negara maju uhtuk melihat kembali negara-negara berkembang yang mengalami kesulitan finansial karena tanggungan utang. Meskipun Indonesia tidak pernah berpikir dan meminta untuk penghapusan utang, tapi banyak kerangka yang bisa kita lakukan seperti debt to environment swap jadi pertukaran. Utang ditukar dengan program lingkungan, pendidikan, bencana alam, dan lain-lain. Itu sangat membantu negara seperti Indonesia dalam membangun ekonominya, yang akhirnya juga meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Yang jelas kita akan sangat serius untuk mengelola utang ini dengan tujuan makin sehat, makin kecil, dan akhirnya ekonomi kita secara nasional betul-betul jadi lebih sehat dan tumbuh dengan baik,“ kata Presiden. (nnf)
