Berita Utama

Presiden Harapkan Swasta Respon Penurunan Suku Bunga

SBY shalat berjamah seusai berbuka puasa bersama anak-anak yatim di Istana Negara, Jumat (6/10). (foto: anung/presidensby.info)
SBY shalat berjamah seusai berbuka puasa bersama anak-anak yatim di Istana Negara, Jumat (6/10). (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Presiden berharap agar penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia dapat diikuti oleh bank-bank di Indonesia, sehingga dapat mendorong pihak swasta untuk kembali mengembangkan usahanya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal itu dalam bagian lain keterangan persnya usai Rapat Konsultasi dan Koordinasi dengan Tim Ekonomi di Kantor Presiden, Jumat (6/10) sore.

“Pemerintah berkewajiban memperbaiki iklim investasi secara nasional tetapi tentunya dengan Bank Indonesia menurunkan suku bunganya, harapan saya bank-bank di negeri kita juga menurunkan suku bunga kredit, yang akhirnya bisa mendorong pihak swasta untuk kembali mengembangkan usahanya sehingga sektor riil bergerak. Dunia usaha bergerak itu adalah kewajiban dari sektor swasta, dukungan pemerintah, respon pemerintah, dari ini semua adalah policy-policy yang kita lakukan untuk perbaikan iklim investasi sesuai dengan paket yang telah kita tentukan,“ kata Presiden.

“Sebenarnya paralel dengan kebijakan moneter yang dikembangkan pemerintah juga melakukan upaya-upaya agar terjadi sinergi justru semangat saya sekarang ini karena bank Indonesia, pemerintah terus menjalankan kewajibannya dan mengajak dunia usaha untuk juga tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan penurunan suku bunga yang menurut saya lebih baik untuk penggerakkan sektor riil ini,“ kata Presiden.

Mengenai merger atau penggabungan bank-bank pemerintah, Presiden mengatakan bahwa arsitektur perbankan kita atau road map penyehatan dan restrukturisasi perbankkan kita sudah di keluarkan oleh Bank Indonesia. “Tentu ada pekerjaan-pekerjaan dan kewajiban pemerintah untuk melakukan langkah-langkah sehubungan dengan itu agar dunia perbankan Indonesia menjadi lebih sehat dan tumbuh dengan baik, kita tentu terus meningkatkan satu cetak biru, bagaimana menuju ke policy yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, “ kata Presiden

“Banyak pilihan dan road map sedang kita matangkan dimana kita menuju kesitu, tentu saja barangkali pemerintah masih memiliki kepentingan untuk mempertahankan bank-bank BUMN yang punya tugas dan peran khusus misalkan untuk bantuan pada dunia pertanian, kredit perumahan, membantu usaha kecil dan menengah, hal-hal seperti itu, dengan demikian kita akan lebih fokus, lebih terkelola dengan baik, dan dengan demikian lebih sehat lagi dunia perbankan di Indonesia, karena kalau keadilannnya ada, kompetisinya baik, pasarnya baik, akan lebih bagus lagi. Kita juga mengikuti itu dan kita juga sedang mematangkan sekarang bagaimana proses menuju kesitu yang terbaik, bagaimana memperlakukan atau meletakkan bank-bank BUMN di waktu yang akan datang,” lanjutnya.

“Merger adalah salah satu solusi dan saya kira sudah dibahas bagaimana insentif perpajakkan dalam rangka merger di situ, ini yang sedang kita sinkronisasikan dari segi moneter dan dari segi fiskal,“ kata Presiden lagi.

Mengenai undang-undang investasi yang sekarang sedang diproses di DPR, Presiden mengatakan bahwa setelah dilakukan pembahasan secara mendalam keinginan kita bisa segera diterbitkan, bisa diberlakukan. Makin cepat makin baik. “Posisi sekarang sedang dalam pembahasan tingkat I di DPR. Kita pantau saja, kita berikan dorongan agar pembahasan itu berjalan dengan baik dan menghasilkan undang-undang yang betul-betul baik, baik untuk pertumbuhan ekonomi kita, baik untuk investasi, baik untuk rakyat kita, kemudian benar bahwa kita melihat memantau bahwa tetangga-tetangga kita seperti China, India, Vietnam yang terus mengembangkan iklim investasinya agar betul-betul makin bergerak ekonomi negara-negara itu,“ kata Presiden.

“Yang kita lakukan sama sebenarnya saya melihatnya kita tidak perlu khawatir terhadap China, India maupun Vietnam, karena di tengah-tengah kompetisi kita dengan negara-negara itu kita juga bisa bekerja sama dalam bidang perdagangan, bidang investasi dan lain-lain. Dan ternyata hubungan kerjasama kita, misalkan dengan China, cukup bagus. Harus kita gunakan pertumbuhan negara besar itu untuk kepentingan ekonomi kita. Tetapi yang jelas mereka maju, investasi mengalir, ekonominya tumbuh karena iklimnya bagus. Kita harus melakukan hal yang sama kalau perlu sama baiknya atau lebih bagus di waktu yang akan datang," ujar Presiden.

“Itulah gunanya kita betul-betul melaksanakan reformasi. Siapapun harus ikut memperbaiki iklim investasi, semua berkepentingan. Tentunya pemerintah menjadi penjuru di sini, pemerintahan yang baik, pemerintahan yang responsif, perijinannya tidak bertele-tele, jumlah harinya yang makin pendek, jangan ada pungutan-pungutan liar --jadi high cost economy. Tapi juga hukum kita, penegak hukum, harus sama-sama para hakim, para jaksa, kepolisian, untuk membuat semuanya lancar, tidak membebani ekonomi kita. Stabilitas politik, keamanan, investor akan lebih tertarik untuk berusaha di situ. Yang kita lakukan sama dengan mereka sebenarnya: perbaikan iklim investasi. Saya yakin dari tren yang ada sekarang ini kita juga akan tumbuh sebagai pertumbuhan negara-negara yang dianggap emerging market itu dengan catatan semua pihak menjalankan kewajibannya dengan serius dengan penuh tanggung jawab sekarang ini dan di waktu yang akan datang," kata Presiden lagi. (nnf)