Berita Utama

Ibu Rupiah Bertanya pada SBY

Jember: Ibu Rupiah seorang petani Tebu asal Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, dengan suara terbata-bata menahan bertanya kepada Presiden pada acara temu wicara Presiden RI dengan petani tebu, kopi, tembakau, dan kedelai serta usaha kecil dan menengah di Desa Rejo Agung, Minggu (8/10) siang. Ibu Rupiah mengaku sangat bangga sekaligus gugup dapat berbicara di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dipilihnya secara langsung pada Pemilu tahun 2004 lalu.

Ibu Rupiah bertanya dengan lugu, mengapa para petani kesulitan mendapatkan pupuk untuk tanamannya akhir-akhir ini . “Tebu tidak akan hidup bila tidak diberi pupuk, sementara kami para petani sangat sulit mendapatkan pupuk. Kalau adapun, belinya harus mengantri seperti ketika hendak membeli sembako. Tolong hal ini diperhatikan pak Presiden,” kata Ibu Rupiah dengan logat Jawa kental.

Presiden SBY menjawab bahwa bahan utama pembuatan pupuk adalah gas dan phospat. Sedangkan gas di Indonesia dulunya banyak dihasilkan oleh industri gas di Aceh dan Kaltim. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab terhambatnya produksi pupuk “Kita sedang membangun beberapa tempat untuk produksi gas, salah satunya di Irian Jaya. Mudah-mudahan dapat segera terlihat hasilnya. Namun kita tidak tinggal diam, sementara yang lain masih berusaha memproduksi gas, kita juga bekerjasama dengan negara lain untuk impor pupuk dengan harga yang relatif murah,” jawab Presiden.

Presiden SBY juga mendukung pendapat dan masukan Bapak Buang, petani Cengkeh asal Jombang tentang perlunya intensifikasi dan rehabilitasi tanaman cengkeh tanpa perlu memperluas lahan. “Yang paling baik memang tidak memperluas lahan terus menerus agar terjadi keseimbangan ekosistem,” kata Presiden SBY. Presiden kemudian intruksikan para menteri terkait yang ikut dalam rombongan dan Gubernur Jatim agar intensifikasi dan rehabilitasi tanaman cengkeh dapat direalisasikan secara maksimal.

Dalam kesempatan itu, Presiden tidak lupa mengajak semua penegak hukum, pejabat negara, dan masyarakat untuk memberantas illegal logging. “Itu sangat merugikan rakyat dan pemerintah. Hanya sebagian orang yang tidak bertanggung jawab saja yang kaya, namun rakyatlah yang menanggung bebannya. Bila memang sudah tertangkap orangnya, hukumannya juga harus nyata,” lanjut Presiden. Rakyat dan media massa diminta Presiden untuk ikut mengawasi peradilan bagi pelaku illegal logging agar mendapat hukuman yang pantas. (osa)