Berita Utama

Presiden pada Peringatan Nuzulul Quran di Pamekasan

Islam Mendorong Masyarakat Berfikir Rasional

Presiden SBY tiba di Masjid Agung Asy Syuhada Pamekasan, Senin (9/10) malam untuk memperingati Nuzulul  Quran Tingkat Nasional . (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY tiba di Masjid Agung Asy Syuhada Pamekasan, Senin (9/10) malam untuk memperingati Nuzulul Quran Tingkat Nasional . (foto: abror/presidensby.info)
Pamekasan: Perjuangan dan keberhasilan Rasulullah dalam membangun masyarakat wajib kita teladani dalam rangka membangun masyarakat negara kita. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada peringatan Nuzulul Quran tingkat nasional di Masjid Agung Asy Syuhada, Pamekasan, Pulau Madura, Jawa Timur, Senin (9/10) malam. "Dengan meneladani perilaku Nabi Muhammad, Insya Allah bangsa kita akan menjadi bangsa yang aman, damai, adil, maju dan sejahtera sebagaimana yang kita cita-citakan bersama."

Menurut Presiden, bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran, karena pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijrah, wahyu pertama diturunkan Allah kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Dengan diturunkannya wahyu pertama itu, maka dengan resmi beliau diangkat menjadi Nabi yang membawa risalah untuk disampaikan kepada umat manusia.

“Setelah peristiwa itu, ayat demi ayat diturunkan kepada Nabi Muhammad. Proses itu memakan waktu lebih dari 22 tahun hingga menjadi Al Quran yang utuh seperti yang kita kenal sekarang ini. Selama lebih dari 22 tahun itu Rasulullah berjuang menyampaikan risalah, mengajak secara rasional manusia untuk beriman dan mematuhi kaidah moral serta menegakkan tatanan masyarakat yang aman, adil dan sejahtera,” kata SBY.

Dikatakan, “Dalam sejarah bangsa dan negara kita, kita tidak dapat mengabaikan pengaruh Al Quran. Pengaruh itu sangat terasa, baik sebelum atau sesudah kemerdekaan. Perintah telah mendorong masyarakat kita untuk mengenal huruf dan tulisan. Sebelum kedatangan penjajah, masyarakat kita telah menggunakan huruf Arab untuk tulis-menulis, disamping berbagai aksara yang dimiliki suku-suku bangsa di kepulauan Nusantara. Dengan menguasai cara menulis dan membaca, maka masyarakat dapat memperoleh informasi, dan mendalami serta mengembangkan ilmu pengetahuan,” kata Presiden.

Ajaran Islam sangat mendorong masyarakat untuk berfikir secara rasional. Dengan menjadi manusia yang rasional, masyarakat bisa mulai berfikir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan berfikir pula untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Dalam membangun bangsa dan negara ke arah kemajuan itu, sangat mutlak bagi bangsa kita untuk bersatu padu, tambah Presiden.

“Al Quran menyuruh kita untuk bersatu padu di jalan Allah, Dan melarang kita tercerai berai. Kalaupun diantara kita terdapat perbedaan-perbedaan pendapat, salurkanlah secara wajar. Kita harus menjunjung tinggi kehalusan budi dan tutur kata dalam berucap dan berbuat antar sesama. Kita tidak boleh saling meremehkan, apalagi saling jelek-menjelekkan dengan menggunakan kata-kata yang kasar dan menusuk perasaan,” tambah Presiden.

Ajaran Islam juga memerintahkan umatnya untuk menjauhi segala fitnah yang dapat merugikan harkat dan martabat seseorang. “Semua dasar-dasar ahlak yang saya kemukakan tadi patut menjadi dasar pegangan kita dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara. Tidak akan ada kemajuan bagi suatu bangsa jika bangsa itu mengabaikan kaidah-kaidah ahlak. Jika kaidah-kaidah ahlak itu dirusak atau dijungkirbalikkan, maka masyarakat tidak akan pernah merasakan adanya perdamaian, ketenteraman dan keharmonisan. Kalau keadaan seperti itu yang terjadi, maka bangsa kita akan merugi dan negara kita akan mengalami kemunduran. Saya yakin, tidak ada seorangpun diantara kita yang menginginkan bangsa kita mengalami kemunduran," lanjut SBY.

“Agar kita tidak terus merugi, saya mengajak umat Islam di tanah air untuk mengambil hikmah bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Hati nurani yang bersih akan selalu dilindungi oleh niat yang baik dan tutur kata yang sopan. Jangan ada diantara kita yang mengira bahwa di jaman reformasi dan demokrasi saat ini, orang dapat berbicara dan berbuat apa saja seperti yang dia kehendaki, tanpa memikirkan perasaan orang lain, apalagi masyarakat luas,” kata Presiden.

Selain kaidah-kaidah ahlak, jangan pula dilupakan bahwa dasar negara kita adalah hukum. “Istilah hukum sendiri adalah istilah yang bisa kita jumpai di dalam Al Quran, yang menegaskan bahwa di dalam kehidupan masyarakat perlu adanya aturan-aturan. Hukum itu berisi kaidah-kaidah yang mengatur hak dan kewajiban seseorang. Setiap hak pasti ada kewajiban. Namun masyarakat kita, akhir-akhir ini cenderung mengedepankan hak, tetapi sering melupakan kewajiban,” lanjutnya.

Aparat penegak hukum yang dibenani tugas dan tanggung jawab menegakkan hukum dengan mudah dilawan atau dipaksa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan cara misalnya mengerahkan massa secara besar-besaran, bahkan kadang-kadang disertai perusakan. “Saya mengajak kepada seluruh warga bangsa, marilah kita mentaati semua ketentuan hukum yang berlaku dan menghormati prosedur-prosedur dan tatanan yang berlaku pula. Ketaatan kepada hukum itu adalah kewajiban semua pihak, baik rakyat maupun aparat pemerintah, anggota DPR serta semua pejabat penyelenggara negara. Tanpa hukum, maka masyarakat dan negara akan runtuh, perlahan-lahan tetapi pasti. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita semua kecuali mentaati kaidah-kaidah hukum yang berlaku. Jauhi pemaksaan dan kekerasan serta patuhilah hukum. Insya Allah, masyarakat, bangsa dan negara kita akan selamat, kata Presiden SBY.

Sebelumnya, pada acara peringatan Nuzulul Quran di Pamekasan, Prof.Dr. Muhammad Nuh, Rektor ITS (Institut Teknologi 10 November Surabaya) telah menyampaikan Hikmah Nuzulul Quran, disusul sambutan oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni. Presiden didampingi Ibu Negara, tiba di Pamekasan Senin (9/10) sore, kemudian melakukan buka puasa bersama masyarakat di Pendopo Kabupaten Pamekasan.

Tampak hadir dalam peringatan Nuzulul Quran di Pamekasan antara lain sesepuh masyarakat Madura dan mantan Gubernur Jatim Moh.Noer, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menag Maftuh basyuni, Mensos, Bachtiar Chamsyah, Meneg BMUN Sugiharto, Menkes Siti Fadilah Supari, Menteri Pertanian Anton Pariyantono, Menteri PDT Saifullah Yusuf, Menteri PU Djoko Kirmanto, Seskab Sudi Silalahi, Sesmil Bambang Soetedjo, KASAL Slemet Subiyanto, Jubir Presiden Andi Mallarangeng, Karumga Ahmad Rusdi, Staf Khusus Yenni Wahid, serta Bubernur Jatim beserta Ibu Imam Utomo dan Bupati Pamekasan Ahmad Syafii, serta Dubes Pakistan untuk Indonesia, Alibaz Khan. (nas)