Berita Utama
Kamis, 19 Oktober 2006, 15:15:40 WIB
Peresmian PLTA Musi Ujan Mas
Presiden: Kita Harus Jaga Debit Air Sungai Musi
Bengkulu: Pemerintah menyadari bahwa ketersediaan pasokan listrik di seluruh tanah air belum sepenuhnya mencukupi. Sejak Indonesia merdeka 61 tahun yang lalu hingga hari ini, kapasitas tenaga listrik Indonesia secara nasional adalah 25.000 MW, sedangkan kebutuhan dan permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun untuk rumah tangga, industri, bangunan pemerintah, komersial dan lain-lain. "Jauh dari mencukupi," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya saat peresmian pengoperasian PLTA Musi Ujan Mas di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Kamis (19/10) siang.”Oleh karena itu," lanjutnya, " Insya Allah dalam 3-4 tahun ke depan kita akan meningkatkan kapasitas tenaga listrik itu dengan tambahan tenaga sebesar 10.000 MW atau 40 persen dari kapasitas yang ada sekarang ini. Diharapkan setelah itu perbandingan permintaan dan ketersediaan tenaga listrik makin baik, makin rasional, sehingga diharapkan makin bergerak roda perekonomian dan demikian pula pelayanan publik dapat lebih baik lagi," kata Presiden.
Menurut Presiden, Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang tidak ternilai. "Hutan, gunung, sungai, danau, serta kandungan mineral di perut bumi adalah anugerah yang sangat besar. Di Pulau Sumatera dapat disaksikan hutan yang lebat, gunung yang menjulang, lembah dan ngarai yang indah serta sungai-sungai besar yang mengalir melintasi beberapa provinsi. Semuanya itu harus kita jaga, kita olah dan kita manfaatkan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat kita. Salah satu kekayaan alam yang harus kita jaga, kita olah dan kita manfaatkan itu adalah aliran sungai Musi. Kita harus menjaga debit air sungai Musi agar tetap mengalir dan tidak mengalami kekeringan. Upaya itu dapat kita lakukan dengan menjaga kondisi hutan dan resapan air di sekitarnya. Jika hutan gundul, ancaman banjir dan longsor di musim hujan akan mengancam kita semua. Sebaliknya jika musim kemarau tiba, akibat hutan yang gundul itu, debit air sungai akan berkurang. Kekurangan debit air akan menyebabkan turbin pembangkit listrik tidak akan berfungsi. PLTA Musi yang kita bangun dengan susah payah dalam waktu yang lama dan dana yang besar ini tidak akan bermanfaat jika ketersediaan air yang menggerakkan turbin tidak mencukupi," jelas Presiden.
Pemerintah memprioritaskan penggunaan sumber daya energi, termasuk energi air untuk pembangkit tenaga listrik. Energi air, baik sungai maupun danau, potensinya cukup besar. Namun pemanfaatannya baru sekitar 9 persen saja. Oleh karena itu untuk lebih mengintensifkan potensi tenaga air di Pulau Sumatera telah direncanakan pembangunan PLTA lainnya. ”Meskipun pembangunan PLTA memerlukan dana yang lebih besar dibanding pembangkit listrik yang menggunakan energi lain, namun pemerintah tetap merencanakan membangun PLTA ini. Kita perlu manfaatkan energi yang melimpah agar tidak terbuang percuma," tambah Presiden.
"Akhir-akhir ini pertumbuhan permintaan listrik cukup tinggi, sementara kemampuan PT. PLN untuk memenuhi permintaan itu kurang. Kondisi ini tentu saja menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan tenaga listrik dapat menimbulkan krisis penyediaan tenaga listrik di tanah air sebagaimana yang pernah terjadi para beberapa waktu yang lalu di pulau Jawa dan Bali. Dalam upaya mempercepat rasio elektrifikasi nasional dan tercukupinya infrastruktur sarana tenaga listrik di seluruh tanah air, terutama bagi masyarakat di perdesaaan, daerah belum berkembang, dan terpencil, pemerintah telah membentuk 28 satuan kerja proyek listrik perdesaaan. Satuan ini didanai sepenuhnya dari APBN 2006, yang dialokasikan sebesar Rp 648 miliar. Sesungguhnya dana tersebut belum mencukupi untuk menyediakan tenaga listrik bagi sekitar 40 persen rumah tangga di tanah air, namun dana yang dialokasikan ini diharapkan dapat memicu bergulirnya roda prekonomian di perdesaan agar dapat tumbuh dengan baik," lanjutnya.
"Mengingat besarnya biaya sebuah PLTA, saya mengajak kepada seluruh komponen masyarakat untuk menjaga keberadaannya. Pengoperasian PLTA Musi ini untuk jangka waktu yang lama, perlu diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungan. Pelestarian hutan di hulu dan sisi sungai Musi terutama di sekitar Kepahiang dan Rejang Lebong, harus dijaga untuk menjaga ketersediaan air di aliran sungai sangat diperlukan bagi kebutuhan operasional pembangkit tenaga listrik," katanya.
"Saya melihat hutan di sekitar Kepahiang bagus, masih baik, jangan sampai dirusak oleh tangan-tangan yang jahil. Jangan sampai dicuri oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Kalau ada kejahatan, penebangan liar, pencurian kayu, segera lapor kepada kepolisian, dan tembuskan kepada saya. Mereka tidak bertanggung jawab mengeruk keuntungan bermiliar-miliar. Hancur lingkungan, menderita masyarakat di sekitarnya. Mari kita amankan bersama seluruh wilayah ini terutama yang berkaitan dengan pentingnya PLTA ini, " kata Presiden.
Ikut mendampingi Presiden dalam kunjungan kerjanyanya ke Bengkulu, antara lain, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadarma Ali, Seskab Sudi Silalahi, Sesmil Bambang Sutedjo, Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng dan Staf Khusus Presiden Irfan Edison, Sardan Marbun, Heru Lelono, dan Yenny Wahid. (nnf)



