Berita Utama

Rapat Kabinet Bahas Revitalisasi Ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menko Perekonomian Boediono saat memberi keterangan pers, seusai Ratas Kabinet, Kamis (26/10) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menko Perekonomian Boediono saat memberi keterangan pers, seusai Ratas Kabinet, Kamis (26/10) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Masih dalam suasana hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1427 H, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan Rapat Terbatas (Ratas) Kabinet yang memfokuskan pada revitalisasi keadaan ekonomi secara umum di Kantor Presiden, Kamis (26/10) siang. Hadir dalam ratas antara lain Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Meneg BUMN Sugiharto dan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng.

Menko Perekonomian Boediono usai ratas menjelaskan, dalam sidang tersebut Presiden mengingatkan kembali kepada para menteri yang hadir tentang hal-hal yang merupakan sasaran utama pemerintahan dalam bidang ekonomi. “Beberapa menteri menyampaikan laporan dari departemen mereka dan menteri keuangan melaporkan mengenai situasi ekonomi secara keseluruhan dengan menggunakan indikator-indikator dini,” kata Boediono.

Hal yang disoroti, kata Boediono, adalah bahwa inflasi sudah membaik dan diharapkan terus membaik, sesuai dengan sasaran yang diinginkan pada akhir tahun. “Pertumbuhan ekonomi dideteksi adanya perbaikan pada kwartal kedua yang cukup riil. Artinya akan ada penguatan di bidang pertumbuhan ekonomi setelah kwartal kedua. Diharapkan, pertumbuhan ekonomi selama tahun 2006 mendekati apa yang diprediksi pada APBN kita,” lanjut Boediono.

Sementara Sri Mulyani menjelaskan tentang laporan rutin setiap bulan untuk menggambarkan apa yang bisa dipantau berdasarkan indikator-indikator awal ekonomi. “Tentu tujuannya adalah untuk melihat apakah kegiatan ekonomi ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan, dan juga untuk mendeteksi persoalan-persoalan yang sangat spesifik pada sektor riil,” ujar Sri Mulyani kepada wartawan. “Untuk indikator makro ekonomi dari mulai inflasi, untuk bulan Oktober 2006 pasti secara akumulatif maupun year-on-year diharapkan akan turun, karena sudah merupakan akhir dari benchmark untuk mengukur kenaikan BBM pada bulan Oktober 2005 yang lalu, sehingga perubahan menjadi single digit pada bulan November ini memang pasti diharapkan, karena secara teoritis maupun secara kalkulasi matematis itu bisa kita lihat,” tambahnya.

Lebih lanjut Sri Mulyani mengatakan, yang menjadi perhatian pemerintah tentu saja adalah pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan kemiskinan. “Untuk pertumbuhan ekonomi, beberapa indikator dini yang bisa ditampilkan yaitu dari penerimaan pajak terutama yang disumbangan oleh sektor-sektor. Dari dua hal yaitu transaksi di masyarakat dilihat dari total PPN sampai dengan September, maupun transaksi luar negeri yaitu dari PNN barang masuk dan barang keluar, semuanya menunjukkan trend dalam kwartal ketiga ada konfirmasi bahwa indikatornya meningkat cukup konsisten,” terang Menteri Keuangan.

“Artinya, diharapkan pada kwartal ketiga nanti diwujudkan dalam pertumbuhan ekonomi akan menunjukkan penguatan yang cukup konsisten. Kwartal kedua kemarin 5,2 persen, kita mengharapkan pada kwartal ketiga akan lebih tinggi dari itu, bahkan duharapkan sekitar 5,5 persen,” ujar Sri Mulyani.

Konfirmasi kedua yang bisa dipantau adalah dari konsumsi semen, konsumsi listrik dan berbagai kegiatan produksi seperti barang impor untuk barang modal maupun barang impor logam dan kimia. “Itu semuanya menunjukkan suatu trend yang makin positif pada kwartal ketiga. Tentu itu menciptakan momentum pertumbuhan atau pemulihan ekonomi,” tambahnya.

Kata Meneku, Presiden SBY mengingatkan menteri-menteri yang terlibat harus memelihara momentum ini sehingga bisa menciptakan kepercayan diri dan sekaligus adanya suatu terjemahan dalam bentuk kegiatan kongkrit investasi yang bisa dilakukan baik oleh investor dalam negeri maupun investor luar negeri. “Untuk beberapa hal yang sifatnya kebijakan, tadi Presiden menugaskan kepada Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk melihat, seandainya dibutuhkan insentif-insentif tambahan untuk bisa memperkuat trend investasi maupun momentum pertumbuhan ekonomi. Tentu nanti kita akan lihat berbagai sektor yang dianggap critical dan crucial untuk mendapatkan insentif itu, kita akan pelajari lebih lanjut,” jelas Sri Mulyani. (osa/mit)