Berita Utama
Selasa, 31 Oktober 2006, 23:29:32 WIB
Laporan Kunjungan SBY Selama di Cina
Presiden SBY dan rombongan tiba di Lanud Halim PK dari kunjungan ke China, Selasa (31/10) malam, disambut Wapres Jusuf Kalla. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden menjelaskan bahwa pertemuan bilateral dengan PM RRC Wen Jiabao di Naning membahas evaluasi dari apa yang telah disepakati dan ditetapkan oleh kedua negara sebagai agenda kerjasama. Baik pada saat kunjungan Presiden SBY ke Beijing tahun 2005 lalu maupun kunjungan Presiden Hun Jin Tao ke Indonesia, juga tahun lalu, yang diikuti dengan serangkaian kegiatan, kunjungan Wapres, para menteri, dan lain lain untuk memastikan bahwa apa yang disepakati dalam kerangka kemitraan strategis itu berjalan dengan baik.
“Kami bahas kemarin dengan PM Wen Jiabao bahwa pada prinsipnya tekanan utama kita adalah implementasi atau realisasi dari kerjasama di bidang investasi, perdagangan, energi, pariwisata dan pembangunan infrastruktur di Indonesia," kata Presiden.
Mengenai masalah perdagangan, Presiden SBY menjelaskan kedua negara berkomitmen untuk meningkatkan volume perdagangan menuju 30 miliar dilar AS pada tahun 2010. "Pada prinsipnya masih jadi komitmen bersama, diharapkan on track. Dengan demikian bisa kita tingkatkan volume perdagangan itu. Tentu Indonesia berpendapat bahwa perlu dipertahankan keseimbangan, dengan demikian kepentingan kita dapat diwujudkan dalam peningkatan kerjasama perdagangan tersebut," ujar Presiden yang didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang menyambut kedatangan Presiden dan Ibu Negara di Lanud Halim Perdana Kusumah dan yang menyertai lawatan ke RRC tersebut.
Soal investasi yang dibahas dalam kunjungan ke Beijing tahun 2005 lalu, Presiden mengatakan, diperkirakan paling tidak 8 miliar dolar AS bisa direalisasikan dengan kerjasama pihak dalam negeri Indonesia. "Kemarin sudah bisa direalisasikan, berupa kontrak senilai 4,3 miliar dolar AS, terutama kerjasama di bidang energi," Presiden menambahkan.
“Disamping untuk mengolah energi yang konvensional, kita tekankan dan titikberatkan untuk pengembangan energi yang non konvensional, yang renewable, terutama adalah pengembangan biofuel atau bioenergi," ujar Presiden.
Sedangkan di bidang pariwisata, telah ada kesepakatan membentuk semacam joint promotion centre yang akan dipikirkan bentuknya. Menurut Presiden, ada pikiran untuk melakukan kerjasama langsung, misalnya penerbangan Guilin-Bali dengan paket wisata menarik. Diharapkan 12 juta wisatawan di Guilin setiap tahun --satu jujta diantara turis asing-- sebagian bisa berkunjung ke Bali. "Demikian juga sebaliknya, wisatawan yang berkunjung ke Bali diharapkan juga bisa berkunjung ke Guilin, tempat yang cukup terkenal sebagai objek wisata di Tiongkok," lanjut Presiden.
Kerjasama teknik pertahanan, Presiden menjelaskan, akan dilakukan pembicaraan mengenai proses implementasinya. Juga sekaligus kerjasama keamanan non tradisional di Selat Malaka. Selain itu juga dibahas kerjasama menghadapi avian flu dan lain lain.
Soal kunjungan ke Shanghai, Presiden menjelaskan bahwa hasil solo exhibition cukup berhasil. Jumlah pengunjung sekitar 28.000 orang dengan nilai transaksi yang terjadi dalam waktu 3-4 hari pameran mencapai 32 juta dolar AS. Selain itu juga ada rencana investasi setelah dilakukan pembicaraan dalam solo exhibition itu yang mencapai 150 juta dolar AS. "Mudah-mudahan bisa menggerakkan kembali perdagangan kita. Pengalaman ini menunjukkan, setiap Indonesia melakukan solo exhibition, baik di dalam maupun luar negeri, dengan pembeli dari domestik maupun mancanegara hasilnya cukup baik. Saya mendorong para pengusaha, Kadin, pemerintah daerah yang terkait untuk terus mengembangkan bisnis MICE ini, terutama pameran-pameran dagang yang ternyata minat untuk membeli dan memesan produk Indonesia, handicraft dan lain lain cukup tinggi. Kita harapkan dengan pengalaman selama ini bahwa di Cina, Jepang, dan Timur Tengah lebih meningkatkan upaya kita untuk melakukan pameran dagang serupa," kata Presiden.
Mengenai Energy Forum, yang dipimpin langsung oleh Menteri ESDM, Menteri BUMN, dan dunia usaha, Presiden mendapat laporan pertemuan itu cukup berhasil. Energi forum berikutnya lagi akan dilaksanakan di Palembang pada tahun 2008. Harapan kita bisa dibangun kerjasama yang lebih konkret dengan mendayagunakan kemampuan dalam negeri kita, perusahaan-perusahaan domestik kita, untuk mendapatkan peluang yang lebih besar lagi," jelas Presiden.
Presiden juga menjelaskan, dari kunjungannya ke pabrik pengolahan sampah menjadi energi listrik di Pudong, Shanghai, diketahui bahwa teknologi yang mereka gunakan tidak terlalu rumit. "Dengan apa yang saya lihat di Shanghai itu saya mendorong nantinya kepada pihak dalam negeri seperti PT PAL , ITB, barangkali bisa memikirkan pembangunan pabrik serupa, paling tidak bisa kerjasama dengan negara-negara sahabat agar kita memiliki satu teknologi yang memang dibutuhkan. Kita dengar sampah menjadi persoalan di banyak tempat, banyak yang sudah berusaha untuk mengatasi ini dengan baik tetapi sering belum dipahami dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat luas. Maka kemarin kita lihat bersama saya mengundang juga LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup untuk melihat sama-sama bahwa ada teknologi yang bisa kita bangun, baik secara domestik murni maupun kerjasama dengan negara sahabat yang bisa mengatasi masalah ini," kata Presiden. (nnf/mit)



