Berita Utama
Kamis, 9 November 2006, 13:01:56 WIB
Profil Sembilan Orang Pahlawan Nasional
Jakarta: Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai jasa-jasa pahlawannya. Hari Kamis (9/11) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan kepada sembilan orang pejuang di Istana Negara. Berikut adalah profil singkat para penerima gelar tersebut.Alm. Pangeran Mangkubumi/Sultan Hamengku Buwono I (1717 – 1792)
Setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta, maka Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Hasil perjuangan HB I sejak tahun 1746 dirumuskan dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tahun 1755. Ini merupakan bukti semangat nasionalisme dan patriotisme HB I dalam membela kepentingan rakyat dalam menegakkan kewibawaan dan kedaulatan Mataram. Perjuangannya itu menjadi cikal bakal tumbuhnya gerakan nasional kebangsaan. Atas jasa-jasanya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna.
Alm. K.H. Noer Alie (1914 – 1992)
Tahun 1937 K.H. Noer Alie bersama Hasan Basri membentuk organisasi Persatuan Pelajar Betawi, dimana beliau menjadi ketuanya. Setelah Agresi Militer I Belanda, beliau mendirikan organisasi gerilya baru dengan nama Markas Pusat Hizbullah Sabililah, di Tanjung Karekok, Cikampek. Saat meletus pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, bersama rekan-rekan perjuangan di organisasi Islam, beliau ikut menumpas gerakan tersebut khususnya di daerah Bekasi dan Jakarta sekitarnya. Atas jasa-jasa beliau, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Alm. R.M. Tirto Adhi Soerjo (1875 – 1918)
R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya, Soenda Berita, pers pertama yang terbit di Cianjur. Beliau adalah pioner pers pribumi. Melalui surat kabar Medan Prijaji, pemikiran beliau menjadi cikal bakal nasionalisme dengan memperkenalkan istilah Anak Hindia. Beliau juga menyadarkan masyarakat Indonesia tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Alm. H. Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng (1901 – 1958)
Untuk mempertahankan proklamasi, Pajonga Daeng Ngalie membentuk Laskar Gerakan Muda Bajoang sebagai wadah perjuangan bersenjata yang diketuainya sendiri. Hal ini menunjukkan beliau memiliki karakter pejuang yang tidak mau kompromi dengan penjajah Belanda. Pada bulan Juli 1946 ketika Van Mook melakukan Konferensi Maleno untuk membentuk negara boneka Indonesia Timur, maka Lascar Lipan Bajoang Pajonga Daeng Ngalie melaksanakan konferensi antar laskar se-Sulawesi Selatan guna menyatukan visi strategis dan kekuatan perjuangan. Perjuangan dan pengabdian beliau mengundang nilai-nilai persatuan dan berskala nasional. Atas jasa-jasanya itu, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Alm. Opu Daeng Risadju (1880 – 1964)
Pada tahun 1946, Opu Daeng Risadju beserta Pemuda Republik melakukan serangan terhadap tentara NICA. Tapi sebulan kemudian, tentara NICA melakukan serangan balik terhadap pasukan beliau. Beberapa bulan kemudian beliau ditangkap di Latonro dan dipaksa berjalan kaki sejauh 40 km menuju Watampone. Karena banyak mengalami penyiksaan, beliau menjadi tuli seumur hidup. Perjuangan beliau telah memegang peranan penting dan secara aktif dalam perjuangan kebangkitan nasional dan masa revolusi fisik kemerdekaan RI di wilayah Tanah Luwu khususnya, dan Sulsel umumnya. Atas jasa-jasa Opu Daeng Risadju, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Alm. Andi Sultan Daeng Radja (1894 – 1963)
Sejarah perjuangan Andi Sultan Daeng Radja menentang kehadiran pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia telah dilakukannya sejak masih menjadi siswa pada opielding School Voor Indiandsche Ambtenar di Makassar. Pada akhir Agustus 1945, ia mendirikan wadah untuk membela negara PPNI (Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia). Atas jasa-jasanya, pemerintah RI menganugerahi Andi Sultan Daeng Radja gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna.
Alm. Izaak Huru Doko (1918 – 1985)
Izaak Huru Doko memimpin dan mengorganisir tenaga-tenaga nasional untuk menghadapi Pemerintah Reaksioner Belanda (NICA) dan kaki tangannya. Ia pernah menjabat Menteri Penerangan N.I.T yang membantu perjuangan RI dan mengembalikan Presiden dan Wakil Presiden serta pemerintah RI ke Yogya. Karena perjuangan inilah, maka dalam tahun 1948, NIT diakui secara resmi oleh Pemerintah RI. Izaak Huru hampir menjadi korban G30S/PKI, dan termasuk dalam daftar utama orang yang harus dilenyapkan. Atas jasa-jasanya itu pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Alm. DR. Mr. H. Teuku Muhammadd Hasan (1906 – 1997)
Bulan Agustus 1945, Muhammad Hasan diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia perwakilan Sumatera. Beliau ikut membahas UUD 1945 beserta pasal-pasal serta ikut memilih Presiden dan Wakil Presiden pertama. Beliau wafat tahun 1997 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Pemerintah RI menganugerahi Teuku Muhammadd Hasan gelar Pahlawan Nasional.
Alm. K.H. Muhammad Isa Anshary
K.H. Muhammad Isa Anshary memperjuangkan kemerdekaan terhadap ancaman Jepang, dan amat berjasa mengembalikan Jawa Barat ke pelukan Indonesia. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahi Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama. (osa)



