Berita Utama
Minggu, 19 November 2006, 20:07:43 WIB
Presiden:
"Tidak Ada Yang Istimewa Dengan Kunjungan Presiden Bush"
Presiden SBY saat memberi keterangan pers di Hotel Horison, Hanoi, Minggu (19/11) petang. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY mengatakan, kunjungan Presiden AS ke Indonesia sama dengan kunjungannya ke Denpasar, Bali, terdahulu. ”Pertama, ini adalah kunjungan balasan dari kunjungan kita ke AS. Yang kedua, tentu bertujuan untuk lebih meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan dan persahabatan,” ujar Presiden. ”Tidak ada agenda lain, tidak ada topik khusus seperti sebagaimana yang dikhawatirkan orang bahwa Indonesia didikte untuk mengikuti apa yang diinginkan AS,” tegas Presiden.
Menurut Presiden, tidak ada yang luar biasa dari kunjungan Presiden Bush itu. ”Saya mengikuti terus apa yang berkembang di masyarakat luas, termasuk yang diliput oleh media massa, baik cetak maupun elektronik. Ada yang berkomentar seolah-olah penyambutan kita terhadap kunjungan AS ini berlebihan. Ada yang mengatakan mengapa pengamanannya super-super ketat, lantas ada yang bertanya, apa kepentingannya bagi Indonesia menerima kunjungan Presiden AS itu. Ada lagi yang mengatakan, ah pasti kita didikte, Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan yang saya agak prihatin, muncul di tayangan-tayangan televisi ancaman oleh beberapa kalangan di dalam negeri terhadap tamu negara kita,” kata Presiden SBY di hadapan wartawan.
Menurut SBY, Indonesia memiliki kerjasama yang luas dengan AS, begitu juga dengan negara-negara besar lainnya. AS adalah mitra dagang Indonesia terbesar nomor dua. Tahun 2005 yang lalu, volume perdagangan Indonesia sekitar 14 milyar dollar AS. Indonesia mengekspor 9,9 milyar dollar AS, hampir 10 milyar dollar AS. Indonesia mengimpor 3,9 dollar AS, hampir 4 milyar dollar AS. Dari 14 milyar dollar AS itulah, Indonesia surplus 6 milyar dollar AS, setara dengan Rp 55 trilyun. ”Kita mendapatkan keuntungan untuk memasarkan produk-produk dalam negeri kita. Artinya, dengan pasar yang besar ini, pertanian, industri, dan jasa kita akan bergerak dan membawa keuntungan bagi ekonomi nasional kita,” ujar Presiden.
”Tidak selalu, kebijakan AS itu segaris dengan kebijakan kita. Tidak selalu Indonesia klop dengan apa yang dilakukan dengan pemerintah AS. Ingat ketika tiga-empat tahun yang lalu, AS melakukan operasi militer ke Irak. Indonesia dengan gamblang dan jelas tidak setuju,” tegas Presiden. Presiden juga menyinggung tentang keinginannya menjalankan politik luar negeri yang bebas aktf. ”Di waktu yang lalu kita dikritik berpolitik ke kiri-kirian, atau pada periode yang lain ke kanan-kananan. Kita ingin dalam dunia yang berubah dan makin berubah ini, persahabatan dan kerjasama dengan semua negara membawa keuntungan yang wajib kita pelihara,” lanjutnya.
Lebih lanjut Presiden SBY mengatakan, pihak AS justru menyerahkan perencanaan dan persiapan kunjungan Presiden Bush ke Bogor kepada pihak Indonesia. ” Namun ada beberapa tayangan di televisi yang memberitakan bahwa kedatangan Presiden Bush akan diganggu, akan disabot, kalau perlu dengan serangan-serangan fisik. Terus terang, bagi pengamanan Presiden AS itu juga dijadikan input,” tegas Presiden. ”Kalau terjadi sesuatu kepada Kepala Negara/Kepala Pemerintahan -bukan hanya pada Presiden Bush yang datang ke Indonesia - yang tidak kita inginkan, maka dunia akan menyalahkan negara kita, bangsa dan pemerintah kita. Saya tidak ingin saudara-saudara kita di seluruh tanah air dilihat oleh dunia sebagai bangsa yang tidak bisa menjamin keamanan kunjungan kawan, kepala negara dari negara-negara sahabat,” kata Presiden.
Ditambahkan, hal-hal yang akan dibahas dengan Presiden Bush adalah berkaitan dengan kerjasama di bidang kesehatan, pendidikan, pencapaian MDG, penanganan bencana alam, teknologi. ”Jadi tidak benar, kalau semua itu ditetapkan Amerika, didikte Amerika,” tegas Presiden. SBY berharap apa yang dikatakan ini mendapatkan pemahaman yang utuh dan benar akan masalah tersebut.
Pada saat menyampaikan keterangan persnya, Presiden didampingi Menko Perekonomian Boediono, Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, Menlu Hassan Wirajuda, Mendag Mari E. Pangestu, Kepala BKPM M. Lutfi, Dubes RI untuk Vietnam Artauli Tobing, serta Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. Keterangan Pers Presiden SBY lengkap dapat dilihat pada kolom Pers. (osa)



