Fokus

Selasa, 21 November 2006, 13:00:45 WIB

Presiden:

Keberhasilan Pertaniaan adalah Kunci Mengurangi Kemiskinan

 

 Presiden SBY memberi sambutan pada  acara penutupan  Konferensi Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional 2006, di Istana Bogor, Selasa (21/11) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY memberi sambutan pada acara penutupan Konferensi Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional 2006, di Istana Bogor, Selasa (21/11) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Bogor : Masih banyak negara yang mengalami kerawanan pangan, tidak hanya Indonesia. Berdasarkan data dari FAO, terdapat kurang lebih 854 juta jiwa manusia di dunia kekurangan pangan. Seperempat dari seluruh jumlah itu adalah kelompok penduduk Indonesia yang mengalami kekurangan pangan. Kelompok masyarakat ini tidak mampu mencukupi bahan pangan untuk mereka sendiri walaupun bekerja di sektor pertanian. Mereka inilah yang menjadi sasaran perhatian Dewan Ketahanan Pangan.

Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara Penutupan Sidang Pleno Konferensi Dewan Ketahanan Pangan di Istana Bogor, Selasa (21/11) pagi. Di hadapan kurang lebih 300 undangan yang hadir yang terdiri dari peserta konferensi dari seluruh Indonesia serta para undnagan lainnya, SBY mengajak untuk bekerja keras membangun pertanian serta mempercepat reformasi agraria. "Kita ingin memperbaiki pola-pola bertani, agar hasil yang dicapai lebih tinggi dan berkualitas. Kita harus memperbaiki cara cara memasarkan hasil-hasil pertanian agar petani kecil kita sejahtera," SBY menambahkan.

Keberhasilan pembangunan pertanian Indonesia merupakan kunci dalam mengurangi kemiskinan dan kerawanan pangan. Menurut SBY, bahan makanan pokok harus tersedia dan cukup dengan harga yang terjangkau. SBY mengajak seluruh aparatur negara baik di pusat dan di daerah untuk bekerja sama dan serius menghadapi masalah kemiskinan dan kerawanan pangan di Indonesia.

Ditambahkan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk memanfaatkan sekitar 9 juta hektar lahan tidur yang tersebar di seluruh Indonesia agar dapat dimanfaatkan oleh para petani. Kebijakan tersebut dikeluarkan karena berdasarkan pengamatannya, ketahanan pangan di Indonesia baru dapat terwujud apabila dilakukan bukan hanya intensifikasi lahan pertanian dan diversifikasi produk, tapi juga ekstensifikasi lahan pertanian dari yang ada sekarang.

“Kita juga perlu terus menyadarkan masyarakat mengenai pola makan, misalnya bahwa nasi bukanlah satu-satunya makanan pokok untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. Program penganekaragaman pangan dengan memanfaatkan bahan lokal perlu ditingkatkan. Namun untuk melakukan sosialisasi mengenai hal tersebut memang membutuhkan waktu dan pengenalan secara intensif, ia menambahkan,” tambahnay.

“Meskipun kita mengajak semua untuk bersama-sama bekerja keras mengatasi kerawanan pangan, tapi bukan berarti Indonesia tidak mengalami kemajuan apapun. FAO menyatakan Indonesia telah mengalami kemajuan yang pesat dalam mengurangi angka kekurangan pangan dan kemiskinan. Namun kita tidak boleh berhenti sampai disini. Karena masih banyak lagi yang harus kita lakukan di waktu mendatang," kata Presiden SBY.

Hadir pula pada acara penutupan konferensi ini antara lain Menko Perekonomian Boediono, Menteri Pertanian Anton Apriyantotno, Menteri Perdagangan Mari Pangestu, Menteri Dalam Negeri M. Ma'ruf, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Seskab Sudi Silalahi, Kepala Bappenas Paskah Suzetta serta jubir Andi Mallarangeng. (mit)

 

 

Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang