Berita Utama
Kamis, 23 November 2006, 13:00:35 WIB
Presiden Buka Seminar dan Lokakarya Perempuan Parlemen Se-Indonesia
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggarisbawahi sisi gelap kaum perempuan Indonesia menjadi lima hal, yang merupakan pengalaman yang dilihat dan didengarnya sendiri dari peninjauannya ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kelima hal tersebut adalah perempuan di daerah konflik, perempuan di daerah bencana, perempuan di daerah miskin dan tertinggal, perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dan masih adanya perempuan yang menjadi korban penyelundupan dan perdagangan.“ Apa yang saya lihat, apa yang saya alami, dialog saya dengan komponen masyarakat seperti itu, kaum perempuan lah yang lebih menanggung beban. Baik penderitaan, kesulitan dan psikologi dari kondisi seperti itu, baik di daerah bencana, daerah konflik maupun kantong – kantong kemiskinan. Mereka harus memikirkan dapurnya terus berasap, dan memikirkan bagaimana pendidikan putra – putrinya, kesehatannya dan lain – lain. Jadi kalau ada yang bertanya bahwa permasalahan tersebut bukan hanya dialami oleh kaum perempuan, benar, tetapi secara de facto kaum perempuanlah yang lebih merasakan semuanya itu. Dari potret itu semua, yang ingin saya sampaikan adalah ada sesuatu yang harus kita angkat, “ kata Presiden di hadapan peserta Silaturahmi Seminar dan Lokakarya Nasional Perempuan Parlemen se-Indonesia, yang berlangsung di Hotel Sahid Jakarta, Kamis (23/11).
Untuk mengatasi permasalahan diatas, Presiden menegaskan bahwa negara yang berarti kita semua untuk berbuat lebih banyak lagi. “Kita semua, pertama - tama negara, berarti kita semua, yang mengemban tugas di lembaga - lembaga negara, masih harus berbuat lebih banyak lagi, do more, untuk meningkatkan perlindungan, pemberdayaan, dan pemajuan kaum perempuan.Yang kedua pemerintah, saya, para menteri, gubernur, bupati walikota, dan jajaran pemerintahan di negeri ini juga harus makin gigih mengembangkan kebijakan dan program - program yang berkaitan langsung dengan perlindungan, pemberdayaan dan pemajuan kaum perempuan, “ kata Presiden.
“Kaum perempuan sendiri, kaukus ini, saya kira juga harus terus secara aktif berpartisipasi dan berkontribusi untuk menyukseskan semua yang kita upayakan dan ikhtiarkan tadi, negara dan pemerintah. Kalau kita bersinergi dan menyatukan energi dengan ketulusan yang tinggi dengan semua yang kita lakukan untuk mencapai tujuan itu sesuai dengan semangat dan tekad kita, dan dengan ridho allah SWT saya yakin tahun demi tahun kondisi dan situasi yang dihadapi oleh kaum perempuan di negeri kita akan semakin baik, “ lanjutnya.
Presiden juga menekankan perlunya mendorong bergeraknya ekonomi lokal. “Menggerakan ekonomi lokal semacam usaha kecil dan menengah, banyak kisah yang sukses karena mengajak dan melibatkan dan memberdayakan kaum perempuan. Saya pernah meninjau sebuah koperasi di Surabaya, semua pengelola nya perempuan. Luar biasa hasilnya, dengan ketekunan kegigihan, ketelitian kaum perempuan yang mengelolanya, “ kata Presiden..
“Mari kita ubah kaum perempuan yang hanya menjadi objek menjadi subjek, menjadi pelaku, pemrakarsa. Itu adalah proses yang harus kita lewati. Proses sosiologis sebagaimana negara-negara maju, dulunya ratusan tahun seperti itu. Mari kita jadikan kaum perempuan sebagai bagian dari perubahan, dari reformasi, dari pembaharuan dari berbagai komunitas, “ himbaunya.
Acara yang diselenggarakan oleh Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPP-RI) ini mengusung tema Reposisi, Refungsionalisasi, dan Revitalisasi Perempuan Parlemen. Dihadiri oleh Ketua DPR Agung Laksono, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, MEnteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, dan para anggota perempuan dari DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi / kabupaten / kota. Presiden yang didampingi oleh Jubir Andi Mallarangeng, kemudian meresmikan pembukaan acara tersebut dengan memukul gong, usai menyampaikan sambutannya. ( nnf )



