Berita Utama
Kamis, 23 November 2006, 20:30:35 WIB
Rapat Bahas Ledakan Pipa Gas di Sidoarjo
Presiden Instruksikan Daerah Segitiga di Porong Sebagai Daerah Bahaya
Jakarta: Pasca ledakan pipa gas di daerah luapan lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Kabupten Sidoarjo, Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Kamis (23/11) sore menginstruksikan, daerah segitiga Kali Porong, jalan tol Porong/ Gempol dan rel kereta api seluas kurang lebih 440 hektar, agar dijadikan dangerous area , atau daerah berbahaya.Instruksi itu disampaikan kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, beserta Tim Pengarah dan Tim Nasional Pelaksana Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, dalam rapat terbatas yang diadakan khusus untuk melaporkan kronologis, kendala dan upaya penanganan kejadian tersebut, di Kantor Presiden, Kamis (23/11) siang.
Purnomo, didampingi Meneg LH Rachmat Witoelar, Menteri PU Djoko Kirmanto, Gubernur Jawa Timur Imam Oetomo, dan Ketua Tim Nasional Penanggulangan Luapan Lumpur Sidoarjo Basuki Hadi Mulyono, menjelaskan hal itu kepada waratawan Kamis (23/11) petang, seusai mengikuti rapat terbatas.
Dalam rapat yang juga dihadiri Wapres Jusuf Kalla, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Kelautan Freddy Numberry, Menkominfo Sofyan Djalil itu, Purnomo melaporkan kronologis terjadinya ledakan pipa gas tersebut. “Jalan tol Porong – Gempol ditutup mulai hari Senin 20 November 2006, jam 12.15 WIB, karena telah terindikasi adanya pergerakan tanggul tol pada posisi Km 38, 4. Jadi sejak hari Senin jalan tol memang sudah ditutup. Di lokasi itu hanya ada petugas Timnas dan kontraktor yang sedang bekerja, sehingga tidak ada masyarakat umum. Timnas berada di lapangan itu termasuk dari TNI dan Polri, “ kata Purnomo.
“Hari Rabu tanggal 22 November 2006, sekitar pukul 16.00 WIB di pusat semburan terindikasi pergerakan tanggul utama, tanggul yang melingkari dari pusat semburan tadi. Kemudian sekitar pukul 20.11 WIB di lokasi km 38 jalan tol Porong - Gempol terjadi percepatan pergerakan tanggul utama, tanggul yang melingkari pusat semburan tadi ini dan penurunan tanggul utama lebih 2 meter, diikuti ledakan gas, kebakaran dan jebolnya tanggul tol. Tanggul tol itu adalah tanggul yang membentengi tol dari mengalirnya air dan lumpur, “ jelas Purnomo.
Menurut analisis Purnomo, peristiwa ini diperkirakan akibat dari terjadinya land subsidence atau turunnya lapisan tanah, sehingga terjadi perlemahan terhadap kekuatan tanggul dan menyebabkan runtuhnya tanggul, maka air dan lumpur menggenangi jalan tol. Kejadian land subsidence ini juga menyebabkan pecahnya pipa gas transmisi, sehingga gas bumi bertekanan 440 psi keluar dari pipa, lantas terbakar.
"Kemudian transmisi pipa tersebut, yang merupakan transmisi dari Pulau Pagerungan yang memang menjadi supply gas utama untuk Jawa Timur dari blok Kangean dan Maleo, lapangan Santos dari perusahaan Australia, ke Porong lalu ke Gresik , berdiameter 28 inci itu pipanya milik Pertamina. Aliran gas kemudian mati secara otomatis, karena memang ada control otomatic di sana. Pada sistem pipa - pipa, dan sisa gas yang ada di dalam pipa- pipa otomatis terbakar, jadi gas yang menyembur dan terbakar itu adalah keluar dari pipa," lanjutnya.
Akibat kejadian itu, korban meninggal sebanyak 7 orang, yaitu Kapten Affandi (Danramil Balungbendo, Sidoarjo), Serda Hafiz (Yon Zipur Brawijaya), Tri Iswandi (karyawan PT Jasa Marga), Yusman Edianto ( PT Jasa Marga), Bripka Slamet (PJR Polda Jatim), Bripda Fanny Saputra ( PJR Polda Jatim), dan Eddy Sutarno dari PT Adhi Karya. Sedangkan yang belum diketahui nasibnya sebanyak 4 orang, masing-masing Kapten Hendro (Danramil Taman, Sidoarjo), Fransiscus Prasetyo ( PT Jasa Marga), Haryo (PT Adhi Karya) dan Doddy dari PT Guna Bangun Pratama. Korban luka sebanyak 12 orang. Dari 12 korban luka itu, yang masih tinggal dalam perawatan di rumah sakit sebanyak 7 orang.
Purnomo menegaskan bahwa semua korban meninggal maupun luka adalah petugas. “Tidak ada masyarakat umum, karena memang tolnya sudah ditutup sejak hari Senin, “ kata Purnomo.
Ditambahkan, pasokan gas bumi untuk 3 konsumen gas bumi utama Jawa Timur yaitu Perusahaan Gas Negara (PGN ), Petrokimia Gresik (PKG ) dan Perusahaan Listrik Negara ( PLN) yang mendapatkan aliran gas melalui pipa transmisi tersebut, kini terhenti. Jalan tol ruas Porong Gempol tergenang air dan lumpur, sehingga saat ini tidak bisa difungsikan, yang mengakibatkan arus lalu lintas kemudian terganggu.
Adapun tindakan yang dilakukan saat ini adalah Search and Rescue ( SAR ) untuk menemukan dan menyelamatkan korban, yang dilaksanakan oleh SAR TNI, dan Polri, dibantu oleh SAR Mahameru yang merupakan relawan dan masyarakat. “Masih terus dilakukan pencarian secara serius untuk mencari korban yang belum ditemukan pada saat ini, “ kata Purnomo.
“Kemudian juga dilakukan isolasi pipa gas di 2 stasiun, yaitu di Stasiun Penerima Porong dan Stasiun Sidoarjo, serta dilakukan pengamanan oleh Polri. Kami tadi pagi dari pemerintah dan Tim Nasional juga melakukan kunjungan ke rumah duka, keluarga korban yang meninggal dan yang juga dirawat di rumah sakit Sidoarjo serta menyerahkan bantuan, “ kata Purnomo.
“Juga telah dilakukan pengamanan umum, agar masyarakat tidak memasuki rawan bahaya. Tadi kami tekankan di lapangan agar masyarakat mematuhi petunjuk dari petugas. Instruksi – instruksinya penting, karena daerah tersebut memang daerah rawan bahaya. Rencana tindak lanjut untuk tanggul dan prasarana jangka pendek yaitu meninggikan dan memperkuat tanggul pond A dan B , untuk melindungi masyarakat Kedung Bendo dan memperbaiki tanggul utama di sekitar semburan lumpur, serta membuat tanggul di relief well dua, karena memang pond A dan B itu dekat sekali dengan relief well dua, dan memperbaiki tanggul jalan tol serta membersihkan badan jalan tol, “ kata Purnomo lagi.
Upaya berikutnya adalah memperbaiki dan menambah kapasitas beberapa ruas jalan dan persimpangan jalan nasional dan provinsi yang lama, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. “ Itu rencana jangka pendek yang kami lakukan. Untuk kelancaran pasokan gas, untuk jangka pendeknya, pasokan gas untuk kebutuhan PGN itu akan diambil dari pipa Pertamina di sebelah hulu, dari lokasi ledakan melalui Stasiun Penerima Gas Porong. Pekerjaan untuk pengaliran ini diperkirakan akan selesai dalam waktu 2 hari. Jadi industri – industri di Porong dalam 2 hari ini akan sudah bisa menerima gas lagi, sehingga mereka sudah bisa aktif lagi untuk melakukan kegiatannya, “jelas Purnomo. “ Kita juga punya rencana jangka menengah dan jangka panjang yang tentu nanti kita akan sampaikan kepada publik langkah – langkah kita selanjutnya," tambahnya.
Sedangkan kendala yang sekarang dihadapi, kata Purnomo lagi, adalah medan yang berat. "Danau lumpur yang baru dengan suhu yang cukup tinggi, cukup menyulitkan upaya dari tim SAR, sehingga 4 orang korban masih belum diketemukan. Dekatnya tempat kejadian dari pusat semburan dan intensitas kerusakan mengakibatkan perbaikan tanggul membutuhkan waktu.
Dan rencana pemasangan pipa gas di permukaan tanah masih mengalami ancaman, karena memang sedang diteliti mengenai pergerakan tanah yang diduga sekarang ini masih berlangsung.
“Demikian tadi kami laporkan kepada bapak presiden dan wakil presiden, dan petunjuk beliau adalah yang pertama agar daerah tersebut, ada daerah segitiga yaitu Kali Porong, jalan tol, rel KA yang luasnya sekitar 440 Ha, dinyatakan sebagai daerah dangerous area. Daerah itu ditutup total, dan akan diawasi oleh petugas," kata Purnomo.
Purnomo menambahkan bahwa pengaliran lumpur ke Kali Porong akan dipercepat, agar tidak terganggu karena sebentar lagi tiba musim hujan. "Jadi harus dilakukan langkah – langkah pengamanan agar penanganan lumpur itu tetap jalan, dan juga agar lumpur itu mengalir ke muara Kali Porong. Demikian juga telah dilakukan pengaturan terhadap infrastruktur, jalan tol, transmisi listrik dan jalan kereta api." Kata Purnomo, Presiden menyebutkan bahwa ini sudah merupakan status disaster, sehingga negara harus mulai memikirkan hal ini. (nnf )



