Berita Utama
Sabtu, 25 November 2006, 19:50:59 WIB
Presiden: Harga Pupuk Tidak Dinaikkan
Presiden SBY menanam pohon ebony usai pencanangan Hari Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat tahun 2006, di Desa Bantimurung, Kecamatan Kalabbirang, Kabupaten Maros, Sulsel, Sabtu (25/11) sore. (foto: anung/presidensby.info).
Sebelumnya, H. Rahman, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan di Sulsel mengatakan bahwa ada dua hal yang ingin disampaikan dalam kesempatan bertemu dengan Presiden, yaitu kegelisahan petani saat ini karena hendak dinaikkannya harga pupuk. Apalagi, menurutnya, harga dasar gabah tidak dinaikkan. Kedua, kata H. Rahman, kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras juga akan membuat petani gelisah.
Menjawab apa yang dikeluhkan H.Rahman, di hadapan ribuan masyarakat Maros dan daerah-daerah sekitarnya menegaskan bahwa untuk sementara pemerintah tidak akan menaikkan harga pupuk. Apalagi kalau harga dasar gabah atau beras belum ada penyesuaian. “ Saya sudah berbicara berdua dengan Pak Anton, kita tidak ingin tiba-tiba menaikkan harga pupuk. Tidak mungkin Menteri Pertanian ingin membuat susah petani. Tidak mungkin kita membuat kebijakan yang sebelumnya kita olah secara masak,” kata SBY disambut tepuk tangan masyarakat.
“Karena itu saudara-saudara kita para petani kita harap tenang. Semua akan berajalan seperti biasa. Kalau ada sesuatu, akan kita bicarakan baik-baik. Saya pastikan, agar bapak tidak menafsirkannya macam-macam, tidak ada kenaikan pupuk dalam waktu dekat ini,” kata SBY lagi. Dijelaskan bahwa saat ini pemerintah mempunyai kerjasama dengan Iran dan Yordania, dalam industri pupuk. “Hal ini kita lakukan agar nantinya kita tidak kekuarangan pupuk. Pemerintah juga melakukan kerjasama dengan Ukraina untuk mengadaan pupuk.. Pendek kita semua itu kita pikirkan, karena tanpa pupuk yang cukup, petani akan mengalami kesulitan. Kita tetap terus memikirkan pelayanan kepada petani,” tambahnya.
Mengenai pertanyaan mengapa pemerintah mengimpor beras, Presiden menjelaskan bahwa negara kita adalah negara agraris, dalam arti pertanian luas seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan lain-lain. “Amat rugi dan kalah kita, kalau kita tidak mendayagunakan potensi pertanian yang besar ini. Mari kita kelola dan mari kita tingkatkan produksi dengan manajemen dan cara-cara bertani yang bagus. Demikian juga pemasarannya yang bagus. Inilah yang kita lakukan,” katanya.
“Kita semua ingin, dan Menteri Pertanian sudah mencanangkan untuk ketahanan pangan. Masak kita terus menerus harus impor. Kita tidak ingin impor beras, jagung, kedelai atau yang lain. Oleh karena untuk tahun 2010 kita berharap beras kita sudah harus mencukupi kebutuhan kita sendiri. Kedelai makin sedikit impor, demikian juga jagung dan daging sapi dan sebagainya,” lanjutnya.
Artinya, jelas Presiden, “Kalau pertanian di seluruh Indonesia kita kembangkan, maka kita akan mencapai swasembada dan ketahanan pangan. Nah, semua terpulang pada kita. Beberapa hari lalu, di Bogor, saya mendengar ikrar dari seluruh gubernur. Kami Gubernur dari seluruh Indonesia sebagai ketua Dewan Ketahanan Provinsi ingin meningkatkan sekian persen untuk mencapai katahanan pangan. Saya senang sekali mendengarnya. Saya ingin tahun depan dan tahun-tahun berikutnya produktivitas pangan di seluruh Indonesia meningkat. Kalau sudah cukup, buat apa impor? Mari kita tingkatkan produktivitas. Mari kita tingkatkan produksi beras dan lain-lain,” kata SBY.
“Kalau ada masalah berupa bencana, kekeringan, kemarau panjang dan sebagainya, maka kekurangan itu bukan karena kita tidak bekerja sungguh-sungguh. Mari kekurangan itu kita cari solusinya. Sebab kalau yang kita konsumsi kurang, maka harganya akan naik. Kalau harganya naik, maka kemiskinan meningkat. Jadi kalau ada persoalan semacam ini, mari kita rundingkan bagaimana solusinya. Yang penting petani tidak boleh dirugikan. Itulah sebabnya ada harga patokan gabah, ada harga patokan beras, yang setiap saat kita tentukan dan kita naikkan agar kalau ada gejolak harga dan gejolak persediaan beras, petani tidak dirugikan. Petani tidak boleh dirugikan, tetapi masyarakat luas juga jangan sampai membeli beras dengan harga yang tidak terjangkau. Impor dan ekspor bukan tujuan, tetapi impor terjadi kalau kita kekurangan,” kata Presiden SBY.
Selain didampingi Ibu Negara, dalam kunjungannya ke Sulsel ini Presiden didampingi antara lain Mendagri M.Ma’ruf, Seskab Sudi Silalahi, Sesmil Bambang Sutedjo, Karumga Ahmad Rusdi dan Jubir Presiden, Andi Mallarangeng. (nas/win)
(nas/win)



