Berita Utama

SBY di Universitas Keio, Tokyo:

Tanpa Kebebasan Pers, Tak Ada Transparansi Dalam Pemerintahan

Presiden SBY menyampaikan pidato usai menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Keio, di kampus Universitas Keio, Tokyo, Senin (27/11) siang. (foto: a.tohir/presidensby/info)
Presiden SBY menyampaikan pidato usai menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Keio, di kampus Universitas Keio, Tokyo, Senin (27/11) siang. (foto: a.tohir/presidensby/info)
Tokyo: Saya mempunyai hubungan yang dekat dengan media dan wartawan, karena pekerjaan saya memang mengharuskan saya dekat dengan mereka. Demikian antara lain dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pidatonya di kampus Universitas Keio, Tokyo, seusai menerima gelar Doktor Honoris Causa dari universitas tua ini, Senin (27/11) siang. SBY memperoleh gelar kehormatan itu untuk bidang Media dan Pemerintahan.

“Karena sifat pekerjaan saya, saya diperlukan oleh media sebagai nara sumber. Tapi sebaliknya saya juga memerlukan mereka. Tentu saja media telah membuat pekerjaan saya dan pekerjaan seluruh pejabat di daerah jadi tertantang dan jadi terbuka kepada masyarakat, “kata SBY.

Memang, lanjutnya, “Ada hubungan antara pekerjaan saya dengan tekanan-tekanan dari media. Tetapi semua itu justru membuat saya konsentrasi pada pekerjaan dan tanggungjawab saya. Menurut saya, tanpa kebebasan pers, tidak ada transparansi dalam pemerintahan. Tanpa transparansi dalam pemerintahan, tidak ada demokrasi,” tambahnya.

Tetapi kebebasan pers juga ada resikonya. “Belum lama ini kami mengalami krisis yang hebat akibat pemuatan kartun oleh media Barat. Akibatnya, reaksi dan protes muncul di beberapa benua karena ada yang merasa terhina oleh pemuatan kartun itu. Di Indonesia, kami mencoba menanggapinya lebih konstruktif. Kami menguandang wartawan-wartawan senior, bertemu dalam forum Inter Media Dialogue, untuk memberi gambaran tentang Islam dan Barat, serta mendiskusikan beberapa isu antara lain mengenai kebebasan, toleransi dan perdamaian,” kata SBY. (nas)