Berita Utama

Presiden:

EPA untuk Membuka Peluang Lebih Besar

Tokyo: Economic Partneship Agreement (EPA) antara Indonesia-Jepang kelak akan membuka peluang luar biasa, dan Indonesia akan banyak sekali mendapat keuntungan. Presiden SBY mengatakan hal itu dalam bagian lain keterangan persnya kepada wartawan Indonesia di Hotel Imperial, Tokyo, Rabu (29/11), sebelum bertolak ke Rusia.

Persetujuan terhadap prinsip-prinsip (Agreement in Principles) EPA atau Perjanjian Kemitraan Ekonomi ini telah dilakukan antara Indonesia-Jepang. “Kewajiban kita setelah nanti keran untuk ekspor ke depan dibuka lebih lebar, impor menjadi lebih kompetitif lagi dan menguntungkan kita. Tentu yang saya katakan tadi kewajiban kita menata rumah tangga kita sendiri, regulasinya, kebijakannya, mekanisme hubungan pusat dan daerah itu kita tingkatnya, dengan demikian suasana akan lebih kondusif,” kata Presiden.

“Bayangkan bila kita tidak memiliki EPA dengan Jepang. Malaysia sudah punya, Singapura sudah punya, Meksiko sudah punya. Meksiko meningkat 30 persen perdagangannya dengan Jepang. Yang menguntungkan Meksiko, merka lewat jalan tol, jalan kita banyak hambatan. Dalam konteks itulah, sebenarnya EPA—the bottom line adalah bagaimana kita mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dalam kerjasama investasi, perdagangan, energi, dan lain-lain,” SBY menambahkan.

Diharapkan, tahun depan EPA ini sudah bisa diimplementasikan. Untuk itu, banyak hal harus dan kini tengah dilakukan pihak Indonesia. Menurut Presiden, Jepang mengikuti proses dan perkembangan dari reformasi dan restrukturisasi yang kita jalankan, termasuk upaya kita untuk membuat iklim investasi lebih sehat dan kondusif bagi kerjasama dengan negara sahabat. Jepang juga mengetahui bahwa paket reformasi dan restrukturisasi juga memerlukan UU Investasi, UU Pajak, UU Bea dan Cukai yang baik, penegakan hukum, desentralisasi yang juga konstruktif untuk pengembangan usaha.

“Mereka juga mencatat bahwa meskipun ini belum rampung semuanya, tetapi ada kemajuan, ada progress. Oleh karena itu, terus terang, pertemuan saya dengan tujuh pengusaha utama yang akan meningkatkan investasinya di Indonesia dan pihak lain, kali ini memang tidak diangkat secara khusus. Tetapi kami menyadari karena ini bukan hanya kepentingan Jepang, kepentingan kita sendiri, kepentingan kerjasama dengan negara lain, maka reformasi dan restrukturisasi harus tetap berjalan,” ujar Presiden SBY. (meg/har)