Berita Utama

Indonesia Harus Bantu Rekonsiliasi Irak

Tokyo: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpendapat, yang paling berkepentingan atas masa depan Irak adalah bangsa Irak sendiri. Oleh karena itu, Presiden menyerukan benar-benar ada sebuah rekonsiliasi di Irak agar mereka bisa membentuk pemerintahan sendiri. Presiden mengatakan hal itu dalam konferensi pers dengan wartawan Indonesia di Hotel Imperial, Tokyo, Rabu (29/11) pagi.

“Dalam kaitan itu tentu kita harus membantu Irak dalam rekonsiliasi dan memperkuat kapasitas pemerintahannya,” ujar Presiden SBY.

Menjadi tanggung jawab masyarakat internasional agar Irak bisa mengatasi persoalannya kelak, dan kemudian menyelesaikan dengan baik. “Itu sebetulnya yang saya maksudkan. Ada beberapa yang salah mengerti dengan kita perlu membantu—tanggung jawab kita—agar Irak bisa mengatur persoalannya. Dan suatu saat kita berpendapat bahwa Amerika Serikat, koalisi, tentu meninggalkan Irak karena bagaimanapun kehadiran yang permanen, besar-besaran di situ, juga menimbulkan permasalahan tersendiri pada tingkat domestik, maupun tingkat internasional,” Presiden SBY menambahkan.

Presiden menjelaskan, pasukan koalisi dan Amerika Serikat suatu saat akan mundur dari Irak. Karena itu mesti ada satuan pengamanan yang bisa membantu sekali lagi pemerintah Irak melaksanakan tugas-tugasnya. “Itulah yang saya sebut dengan new set up security element,” kata Presiden SBY.

“Dan saya berharap tindakan-tindakan yang terlalu sepihak, yang unilatreral, tentu harus dihindari karena Irak harus didengar, demikian juga sahabat-sahabat yang lain, termasuk Indonesia. Kita berharap juga ikut menyumbangkan pikiran dan kontribusinya bagi penyelesaian Irak secara menyeliuruh,” lanjut SBY.

Dalam semangat dan sikap dasar itulah, Presiden SBY berharap persoalan Irak bisa diselesaikan secara tepat, secara adil, dan bijak. “Dan kita akan aktif untuk berkomunikasi. Saya juga sedang mempersiapkan komunikasi dengan Perdana Menteri Irak Al Maliki tentang pikiran-pikiran dasar Indonesia agar keadaan di Irak tidak bertambah buruk dan sebaliknya akan bertambah baik. Itu respon saya terhadap dinamika yang ada di Irak,” Presiden menegaskan.

Mengenai kondisi pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon pasca terbunuhnya Menteri Perindustrian Lebanon Pierre Gemayel, Presiden menjelaskan sangat percaya pasukan kita cukup profesional. Meskipun ada perubahan keadaan di Lebanon, mereka tetap menjalankan tugasnya. “Tentu kewaspadaan prajurit kita perlu ditingkatkan, dengan demikian mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata Presiden menjawab pertanyaan seorang wartawan.

Presiden SBY selalu memelihara komunikasi dengan PM Lebanon Fouad Siniora, juga dengan Presiden Emile Lahoud. “Harapan saya, sekali lagi, benar-benar kemelut yang terjadi di Lebanon dapat dicarikan solusinya secara damai,” ujarnya.

Mandat pasukan Kontingen Garuda XXIII-A sangat jelas, di bawah UNIFIL dan mencegah atau menghentikan konflik. “Bahkan pasukan kita akan digelar di sepanjang blue lines—daerah yang kritis sebetulnya—tetapi menjadi kantong-kantong penting untuk memastikan tidak terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang bisa merusak perdamaian,” tutur Presiden. (meg/har)