Berita Utama
Rabu, 29 November 2006, 10:40:55 WIB
Korut Juga Harus Patuhi Resolusi PBB
Tokyo: Indonesia sekali lagi menerapkan politik luar negeri bebas aktifnya bagi permasalahan Semenanjung Korea. Hal ini ditegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada jumpa pers dengan media massa Indonesia di Hotel Imperial, Tokyo, sebelum bertolak menuju Rusia, Rabu (29/11) pagi.Presiden menjelaskan hal tersebut saat ditanya mengenai langkah-langkah Indonesia terhadap permintaan bantuan Jepang untuk masalah Korea Utara. “Sejak semula, posisi kita adalah peaceful solutions, diplomatic solutions. Oleh karena itu kita tetap mengandalkan six-party talks untuk bisa dijalankan kembali,” ujar Presiden.
Menurut Presiden SBY, uji coba nuklir Korut hanya akan menambah ketegangan baru dan mengancam stabilitas di kawasan Asia Pasifik. Masalah ini juga dapat memicu terjadinya proliferasi senjata nuklir di kawasan serta menghambat upaya perlucutan senjata nuklir secara komprehensif. Karena itu Presiden berharap Korut juga dapat menahan diri untuk tidak meneruskan kegiatan-kegiatan itu. “Dengan adanya dua resolusi Dewan Keamanan PBB, tentunya negara anggota PBB harus mematuhi, memenuhi resolusi itu, comply with resolusi yang telah dikeluarkan itu,” jelas Presiden.
Indonesia saat ini memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Korut maupun Korsel. Selama ini pula, Indonesia juga aktif untuk ikut berkontribusi. “Sebetulnya kalau Saudara ingat beberapa bulan yang lalu menteri dari Korea Selatan datang ke saya di Jakarta, yang juga ingin ada kontak dan komunikasi lanjutan dengan counterpart-nya di Korea Utara. Saya sampaikan message ini melalui chanel-chanel, utusan khusus saya, dan surat saya juga kepada pimpinan Korea Utara Kim Jong-il dan juga lewat Dubes Nana Sutresna, saya sampaikan sebenarnya ada komunikasi kita, walaupun tidak secara langsung. Dengan demikian Indonesia masih berharap ada satu solusi yang bagus,” tambah Presiden SBY.
Presiden mengingatkan kembali bagaimana Indonesia berhasil memfasilitasi reunifikasi sebuah keluarga yang terpisah pada era pemerintahan Presiden Megawati. “Dengan semangat yang sama, Indonesia selalu siap sebetulnya, untuk melakukan langkah-langkah yang aktif, yang konstruktif, dengan catatan semua pihak benar-benar ingin permasalahan Semenanjung Korea ini selesai secara damai—diplomatically, politically—dengan demikian tidak lebih mengancam lagi keadaan di Semenanjung Korea, bahkan di Asia Timur pada khususnya. Posisi itu tidak berubah dan kita akan terus aktif untuk ikut berkontribusi dari solusi persoalan Semenanjung Korea,” jelas Presiden menutup konferensi persnya. (meg)



