Berita Utama

Dialog dengan Masyarakat Indonesia di Moskow

"Sangat Baik Bila Kita Jalin Kerjasama dengan Rusia"

Presiden SBY saat dialog dengan WNI di Kedubes RI di Moskow, Rusia, Kamis (30/11) malam. (foto: a.tohir/presidensby.info)
Presiden SBY saat dialog dengan WNI di Kedubes RI di Moskow, Rusia, Kamis (30/11) malam. (foto: a.tohir/presidensby.info)
Moskow: Presiden SBY didampingi Ibu Negara dan beberapa menteri, Kamis (30/11) malam melakukan dialog dengan WNI di Rusia, bertempat di Kedubes RI di Moskow. Presiden dan rombongan dari Bandara Internasional Vnukovo 2, Moskow setibanya dari kota St. Petersburg di wilayah utara, langsung menuju ke kantor Kedubes yang berada di Jl. Novokuznetskaya No.12, Moskow.

Sekitar 150 WNI hadir di kantor Kedubes, terdiri dari berbagai kalangan, termasuk para mahasiswa. Sebelum dialog dimulai, masyarakat Indonesia melakukan makan malam bersama, dengan menu masakan Indonesia. Presiden dan Ibu Ani ditemani Dubes RI di Moskow, Susanto Pudjomartono beserta istri makan malam di Wisma Indonesia..

Dialog dengan warga Indonesia dipandu Susanto Pudjomartono. Menurut mantan wartawan ini, dirinya dan masyarakat Indonesia di Rusia tidak pernah mimpi mendapat kunjungan Presiden SBY dan rombongan. “Kami, masyarakat Indonesia merasa bersyukur Presiden dan rombongan bisa hadir di sini,” kata Susanto.

Pada awal sambutannya, Presiden mengatakan bahwa dirinya sudah dua kali datang ke Rusia dalam kapasitas yang berbeda. “Saya berkunjung ke Rusia dengan rombongan yang lengkap ini adalah kunjungan saya yang pertama sebagai Kepala Negara. Tetapi sebenarnya ini adalah kunjungan saya yang kedua ke Rusia. Saya ke sini pertama kali tahun 1996, ketika duta besarnya masih Bapak Rachmat Witular, dan waktu itu saya bertugas sebagai Komandan Pengamat Militer PBB di Bosnia. Saya beberapa hari berada di sini, dan sempat melakukan sholat Idul Fitri di sini,” kata SBY.

Kepada masyarakat Indonesia di Rusia, SBY menjelaskan tujuan kunjungannya ke Rusia dengan rombongan yang lengkap terdiri dari beberapa menteri, gubernur dan beberapa rektor PTN. “Para Gubernur punya agenda sendiri, yang diintegrasikan dengan agenda-agenda saya. Kami ke Rusia ini adalah untuk meningkatkan kerjasama ke depan, karena Rusia adalah sahabat Indonesia. Bahkan dahulu sebelum tahun 1965 hubungan Indonesia – Rusia amat dekat. Kemudian ada dinamika politik di tanah air dan dinamika pula secara global, membuat hubungan kedua negara relatif berjarak. Setelah ada perubahan dan perkembangan baru politik dalam negeri kita sejalan dengan makin susutnya Perang Dingin, maka kita akan mempererat hubungan kembali dengan Rusia,” kata SBY.

Rusia adalah negara yang memiliki prospek yang baik dan di waktu mendatang akan menjadi negara yang maju, kata SBY. “Negeri ini potensi nasionalnya besar, wilayahnya besar, penduduknya memiliki potensi yang tinggi, sumber energinya kuat dan reformasi yang dijalankan negeri ini maju sehingga dapat disimpulkan bahwa negeri besar ini punya potensi yang besar pula. Karena itu sangat baik apabila kita menjalin dan meningkatkan kerjasama atas dasar saling menghormati, kesetaraan dan memenuhi kepentingan bersama,” jelas SBY.

“Dalam prospektif itulah pemerintah memperluas cakupan kerjasama bilateral antara Indonesia – Rusia. Kita ingin memformulasikan kerjasama ini dengan baik. Saya sudah dua kali melakukan pertemuan dengan Presiden Putin. Yang pertama di Chili dalam pertemuan APEC tahun 2004. Dan yang kedua di Bhusan, Korea Selatan, juga disela-sela pertemuan APEC. Insya Allah besok adalah pertemuan yang ketiga kalinya antara saya dengan Presiden Putin,” tambah SBY.

Kesan SBY terhadap pertemuannya dengan Putin, dijelaskan, selalu membuka peluang yang baik untuk meningkatkan kerjasama Indonesia – Rusia. Sektor yang akan kita tingkatkan kerjasamanya nanti antara lain bidang pertahanan dan industri pertahanan. "Kita ingin meningkatkan kerjasama dalam bidang pertahanan, dalam hal ini teknik pertahanan, industri dan teknologi. Rusia adalah negara yang maju di bidang teknologi militer dan pertahanan. Oleh karena itu untuk kepentingan pengembangan industri pertahanan dan teknologi militer Indonesia, maka kerjasama dengan Rusia ini tentu patut kita lakukan, agar kita memperoleh keuntungan yang besar untuk meningkatkan kapasitas industri pertahanan kita,” jelas SBY.

“Perlu diketahui bahwa kita menggunakan pesawat tempur buatan Rusia yaitu Sukhoi dan helikopter yang kita kembangkan yaitu M-17 dan M-35. Karena kita belum bisa membuat pesawat tempur, maka kerjasama dalam pengadaan Sukhoi ini dibenarkan. Kebijakan yang kita lakukan sejak dua tahun lalu, apabila sistem persenjataan dan peralatan militer bisa diproduksi di dalam negeri, wajib hukumnya kita menggunakan produksi dalam negeri. Tetapi kalau belum bisa diproduksi di dalam negeri maka kita akan mengadakannya dari negara lain dalam kerangka kerjasama yang baik, sehat dan menguntungkan kita, misalnya adanya alih teknologi,” kata Presiden SBY.

Saat ini kita memiliki pesawat tempur dari AS yaitu F-16 dan F-5, juga Hawk dari Inggris. “Nah sekarang kita berharap dapat memiliki satu skuadron pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia. Pengalaman kita yang lalu, kalau kita hanya tergantung pada satu sumber pengadaan, negara X misalnya, kemudian ada embargo atau yang lain, maka kita dalam posisi yang sulit. Oleh karena itu salah satu pertimbangan kita untuk melengkapi satu skuadron pesawat Sukhoi, agar kita juga memiliki sumber-sumber lain yang kuat dari negara lain, bukan hanya dari satu negara,” kata Presiden.

Mengenai industri dalam arti luas, kita juga akan menimba pengalaman dan kemajuan dari Rusia. Sedang bidang energi, Rusia adalah penghasil sumber energi yang besar dalam tingkat global, baik minyak, gas atau sumber energi lain. “Kita memang juga punya, tetapi dalam skala yang lebih kecil. Di sinilah kita akan menimba dari Rusia yang memiliki jam terbang dan pengalaman dalam bidang energi ini. Oleh karena itulah kita akan menggalang kerjasama dalam bidang energi ini,” kata SBY.

Selanjutnya adalah kerjasama dalam bidang pendidikan, pariwisata dan budaya. “Saya tahu banyak mahasiswa Indonesia belajar di sini, demikian juga Malaysia dan India, banyak mengirimkan mahasiswanya belajar ke Rusia. Saya akan mendorong lebih banyak lagi generasi muda kita di tanah air untuk belajar dan menimba ilmu di Rusia. Kitapun juga akan mengundang lebih banyak mahasiswa Rusia untuk belajar budaya di Indonesia, agar hubungan antar kedua bangsa ini dapat ditingkatkan lagi,” kata SBY di hadapan masyarakat Indonesia yang berada di Rusia. (nas)