Berita Utama
Minggu, 3 Desember 2006, 12:00:33 WIB
Presiden:
Pengadaan Sukhoi adalah Bagian dari Politik Bebas Aktif Indonesia
Presiden SBY dan Presiden Putin, di Istana Kremlin, Moskow, Jumat (1/12) sore. (foto: a.tohir/presidensby.info)
Demikian juga kerjasama militer yang dilakukan Indonesia dengan Rusia, adalah bagian dari politik luar negeri yang dianut Indonesia. Saat berdialog dengan masyarakat Indonesia di Moskow, Presiden menjelaskan, mengapa Indonesia akan membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia.
“Saat ini kita memiliki pesawat tempur dari AS yaitu F-16 dan F-5, juga Hawk dari Inggris. Pengalaman kita yang lalu, kalau kita hanya tergantung pada satu sumber pengadaan, negara X misalnya, kemudian ada embargo atau yang lain, maka kita dalam posisi yang sulit. Oleh karena itu, salah satu pertimbangan kita untuk melengkapi satu skuadron pesawat Sukhoi, yaitu agar kita juga memiliki sumber-sumber lain yang kuat dari negara lain, bukan hanya dari satu negara,” kata Presiden.
Sementara itu, Sekjen Departemen Pertahanan RI, Letjen TNI Sjafrie Sjamsudin, dalam penjelasannya kepada wartawan di atas pesawat dalam pernebangan Moskow – Jakarta mengatakan bahwa kerjasama yang telah ditandatangani antara Indonesia – Rusia dalam bidang teknik militer, adalah suatu payung yang akan ditindak lanjuti untuk pengadaan alusista (alat utama sistem pertahanan) yang diperlukan oleh TNI pada periode 2006 – 2010.
“Dalam egreement tersebut disebutkan, salah satu fasilitas yang kita peroleh dari Rusia adalah State Credit atau kredit negara, yang merupakan satu formulasi pendanaan yang baru bagi Rusia setelah 15 tahun setelah Rusia menjadi Negara Federasi. Kredit negara ini mempunyai keunggulan berupa effiensi, karena tidak memakai management fee dan sebagainya, kata Sjafrie, yang pada hari Jumat (1/12), bersama Direktur Kerjasama Militer Rusia, Mikhail Bithe, membubuhkan tandatangannya pada dokumen kerjasama teknik militer kedua negara. Penandatanganan kerjasama itu disaksikan SBY dan Putin.
Mabes TNI, lanjut Sjafrie, “Sesuai dengan kebutuhan masing-masing angkatan, telah menyusun daftar kebutuhan. Angkatan Darat mengusulkan pengadaan helikopter MI- 7 dan MI-35 untuk kebutuhan helikopter serbu dan transportasi. TNI Angkatan Udara, yang menjadi prioritas, akan melengkapi satu skuadron pesawat tempur Sukhoi, dimana sebelumnya kita telah memiliki 4 Sukhoi. Setelah 4 Sukhoi tersebut kita persenjatai, maka akan kita lanjutkan dengan pengadaan 6 Sukhoi, terdiri dari 3 unit Sukhoi SU-27 dan 3 unit Sukhoi SU-30. Ini akan menjadi prioritas kita, dan diharapkan pada tahun 2007 pesawat-pesawat Sukhoi itu akan kita peroleh secara bertahap sehingga harapan kita pada tahun 2008 kita telah memiliki satu skuadron pesawat Sukhoi,” jelas Sjafrie.
“Sedang TNI Angkatan Laut mengusulkan pengadaan 2 unit kapal selam Kilo Class, yang tempat industrinya telah kita tinjau di kota St.Petersburg. TNI-AL juga mengusulkan pengadaan tank amphibi jenis BMP-3F untuk Marinir,” tambahnya.
Ini semua, lanjut Sjafrie, menjadi bagian dari kerjasama teknik militer antara Indonesia – Rusia. “Akan tetapi kerjasama ini juga akan berkembang kearah peningkatan profesionalisme, dimana training dan pendidikan-pendidikan akan menjadi salah satu bagian yang akan dikembangkan oleh angkatan bersenjata kedua negara dengan cara tukar menukar personil dalam rangka peningkatan profesionalisme.”
Ditambahkan, untuk kerjasama ini, dilengkapi pula dengan pendatanganan property right, yang merupakan rambu-rambu agar semua kerjasama Indonesia – Rusia memiliki rambu-rambu pengaman. “Dengan demikian kerjasama pertahanan tidak hanya kita lihat dari aspek kebutuhan, tetapi juga dari aspek legalitas,” kata Sjafrie Sjamsudin, Sekjen Departemen Pertahanan RI. (nas)



