Berita Utama

SBY Hadiri Zikir dan Tasyakuran Aceh Damai

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara, Sabtu (9/12) pukul 09.00 WIB, menghadiri acara Zikir dan Tasyakuran Terwujudnya Aceh Damai sekaligus silaturahmi Idul Fitri 1427 H dengan masyarakat Aceh serantau, di Masjid Istiqlal Jakarta. Setibanya di Istiqlal, Presiden SBY disambut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Mustafa Abubakar, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Kuntoro Mangkusubroto, serta Muspida NAD.

Pada kesempatan ini, Plt Gubenur NAD Mustafa Abubakar, atas nama rakyat Aceh, menyerahkan Bungong Jaroe Perdamaian kepada Presiden SBY dan Ibu Negara. Bungong Jaroe adalah seperangkat pakaian adat kebesaran Aceh. Dalam terminologi Aceh, Bungong Jaroe adalah buah tangan, berupa cindera mata yang sangat aspiratif dari masyarakat dan pemerintah Aceh atas peran Presiden SBY yang luar biasa dalam mewujudkan perdamaian di Bumi Serambi Mekkah.

“Dalam hubungan Aceh dengan pemerintah pusat sejak 61 tahun silam, baru inilah untuk pertama kalinya Bungong Jaroe diberikan kepada seorang Kepala Negara dan kami sangat gembira dan bangga karena Presiden SBY adalah orang pertama yang berhak menerimanya,” kata Mustafa Abubakar. “Tak ada yang dapat menyangkal bahwa Presiden SBY beserta Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang menjadi Dwi Tunggal memprakarsai dan membuka pintu dialog damai di Aceh, sehingga terwujudnya nota kesepakatan damai antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki pada 15 Agustus tahun lalu,” Mustafa menambahkan.

Sementara itu, Presiden SBY dalam sambutannya mengatakan, saat ini kita semua berupaya sekuat tenaga meneruskan upaya penyelesaian masalah Aceh secara menyeluruh. “Kita perlu membangun kembali Aceh, setelah didera konflik yang berkepanjangan dan musibah besar akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada 2004 yang lalu, kita berharap suasana kekeluargaan dan keakraban selalu menyertai kita, sehingga persoalan yang muncul di masa lalu yang mengakibatkan gangguan keamanan, degradasi sosial budaya, dan krisis ekonomi pada lapisan masyarakat bawah dapat kita selesaikan dengan sebaik-baiknya,” ujar Presiden.

Konflik berkepanjangan di Aceh, kemudian terjadinya tsunami, telah melahirkan kemiskinan, perasaan tidak nyaman, pengikisan akar budaya Aceh, saling curiga, dan trauma berkepanjangan. “Karena itu, saya berupaya keras untuk tetap konsisten memberikan perhatian yang serius dalam menjaga situasi dan kondisi yang terus membaik di NAD saat ini. Pemerintah akan berupaya menciptakan perdamaian yang abadi di Aceh serta meneruskan rehabilitasi dan rekontruksi untuk membangun kembali Aceh pasca bencana. Kita semua sungguh ingin menyaksikan masa depan Aceh yang aman, adil dan sejahtera, dalam keutuhan dengan keluarga besar bangsa Indonesia,” kata Presiden SBY.

Usai memberikan sambutan, Presiden beserta seluruh undangan yang memenuhi Masjid Istiqlal melakukan zikir dan tasyakuran dipandu jamaah Pesantren Mudi Mekar Al-‘Aziziyyah. Hadir dalam acara itu, antara lain, Menko Polhukam Widodo AS, Mendagri M.Ma’ruf, Meneg Perumahan Rakyat M.Yusuf Asyari, Menkominfo Sofjan Djalil, Menteri PU Djoko Kirmanto, Seskab Sudi Silalahi, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, Wakil Ketua MPR AM.Fatwa, serta tokoh masyarakat Aceh seperti Bustanil Arifin, Hasballah M.Saad, serta sejumlah duta besar negara sahabat. (win)