Berita Utama
Sabtu, 16 Desember 2006, 16:45:53 WIB
AMM Sampaikan Penghargaan pada Indonesia
Presiden SBY hari Sabtu (16/12) sore menerima Ketua Tim Aceh Monitoring Mission, Pieter Feith, di kantor kepresidenan. (foto: anung/presidensby.info)
Kedatangan Tim AMM ini untuk mengucapkan terimah kasih atas segala bantuan pemerintah Indonesia selama AMM melaksanakan tugas monitoring di Aceh, hingga selesainya Pilkad di seluruh Aceh. Saat menerima tamu-tamunya, Presiden didampingi Menlu Hassan Wirajuda, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, dan dua Jubir Presiden, Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Djalal.
Seusai pertemuan, kepada wartawan Dino Patti Djalal menjelaskan, Tim AMM ini baru saja di terima Presiden SBY, sehubungan dengan berakhirnya masa tugas di Aceh 15 Desember 2005. ”Tim AMM menghadap Presiden dengan dua hal. Pertama, ingin mengucapkan terimah kasih kepada pemerintah Indonesia atas dukungan dan kerjasama yang diberikan, dan memberikan analisa mengenai pelaksanaan AMM selama ini, serta memberikan medali kepada Presiden SBY,” kata Dino, yang tampil bersama Pieter Feith.
“ Presiden SBY mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan pengorbanan Tim AMM, karena tugas yang dilakukan AMM selama ini bukan tugas yang ringan. Presiden juga mengatakan, AMM bukan hanya bagian dari sejarah tetapi juga membantu menulis sejarah. Dengan membantu menulis sejarah berarti membantu memajukan proses perdamaian di Aceh, yang sebetulnya merupakan perdamaian sangat langka kalau dilihat dengan konflik – konflik di dunia yang masih terus berkobar dewasa ini. Presiden menambahkan, yang penting ke depan adalah pemantapan proses perdamaian Aceh atas dasar MoU Helsinki,” kata Dino.
Presiden SBY juga menegaskan komitmennya untuk bekerjasama dengan Gubernur Aceh, siapapun yang terpilihnya nantinya. "Menurut Presiden ada beberapa hal yang dipandang sebagai prioritas yakni reintegrasi GAM, dan juga pembangunan kesejahteraan di Aceh. Pemerintah pusat akan terus membantu pemerintahan baru di Aceh untuk dapat menangani hal-hal ini dengan baik,” kata Dino.
Selain itu, tambah Dino Patti Djalal, Presiden SBY juga mengatakan bahwa kantor AMM sekarang sudah ditutup. Ini merupakan suatu kelangkaan, sebab tidak begitu banyak misi Uni Eropa yang ditutup. Artinya kalau kantornya sudah ditutup berarti tugasnya sudah rampung,” ujar Dino.
Sementara itu, Ketua Tim AMM Pieter Feith mengatakan, "Tugas kami untuk memonitor implementasi dari MoU Helsinki antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka telah selesai, dan ini semuanya berkat dukungan dan kerjasama pemerintah Indonesia dan masyarakat Aceh dalam proses perdamaian di Aceh. Malam ini kami akan meninggalkan Indonesia untuk kembali ke negara kami masing-masing. Untuk itu, kami memberikan penghargaan European Security and Defence Policy Service dari Uni Eropa, atas keputusan politis pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan konflik Aceh secara damai,” ujarnya.
Aceh Monitoring Mission adalah sebuah tim yang dibentuk berdasarkan MoU antara pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, dan mulai bertugas di Aceh sejak 15 September 2005. AMM adalah misi Uni Eropa yang pertama di Asia, dan bentuk kerjasama pertama dengan negara ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, kemudian ditambah dengan negara – negara yang tergabung dalam Uni Eropa antara lain Swiss dan Norwegia. (win)



