Berita Utama
Rabu, 20 Desember 2006, 14:38:03 WIB
Untuk Stabilkan Harga Beras
Pantau Operasi Pasar dan Percepat Pembagian Raskin
Presiden SBY memberi keterangan pers soal penanganan ketersediiaan beras, di Loji Gandrung, Solo, Jateng, Rabu (20/12) siang. (foto: a.tohir/presidensby.info)
“Tadi pagi saya berkomunikasi dengan Menteri Perekonomian, setelah sebelumnya berbicara dengan Gubernur Jateng sebagai kelanjutan dari upaya pemerintah untuk menstabilkan harga beras di beberapa daerah. Baru saja saya juga berkomunikasi dengan Wakil Presiden untuk mengkordinasikan semuanya ini,” kata Presiden SBY memulai penjelasannya, kepada wartawan.
Untuk memenuhi ketersediaan beras dengan harga yang relatif terjangkau, menurut Presiden, ada dua hal yang akan dilaksanakan. "Pertama, operasi pasar ditempat-tempat yang diperlukan agar terus dijual dengan harga yang lebih murah. Operasi pasar yang berlangsung sekarang ini kita nilai harganya masih relatif tinggi. Dengan demikian kita belum dapat menurunkan harga pada tingkat yang tepat untuk bisa dibeli rakyat kita,” ujar Presiden.
Kedua, lanjutnya, beras untuk rakyat miskin atau raskin yang biasanya diberikan pada bulan Januari, akan dipercepat penyerahannya. “Kita berharap besok raskin sudah dapat disalurkan. Dengan dua langkah ini, saya berharap harga beras kembali menjadi stabil dan terjangkau oleh rakyat. Dengan demikian tidak menjadi masalah sosial dan ekonomi. Saya meminta kepada para gubernur, bupati dan walikota bersama-sama dengan jajaran Bulog, memastikan baik operasi pasar maupun penyaluran raskin ini berjalan dengan baik. Tolong dipantau dan dilihat dinamika pasar, dan mencegah upaya untuk membeli besar-besaran sehingga mengurangi stok yang ada di pasar ataupun perilaku yang lain,” tegas Presiden. Presiden SBY berharap langkah-langkah ini bisa dapat mengatasi masalah yang dihadapi khususnya kenaikan harga beras di beberapa tempat.
Ketika menyinggung persoalan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, Presiden mengatakan, “Saya menyampaikan kepada Dirut Perumnas dan Meneg Pera untuk model perumahan yang ada di Karanganyar Jateng ini dapat dikembangkan di tempat-tempat lain, meskipun kondisi dan situasinya berbeda. Barangkali modelnya sedikit berbeda, tetapi yang jelas dengan bantuan pembiayaan yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten, kemudian diangsur oleh para pembeli rumah dan kerjasama yang konstruktif antara pengembang dari pihak pemerintah, diharapkan benar-benar segera terealisasi. Terutama untuk golongan buruh dapat berjalan lebih cepat dan lebih luas lagi,” kata Presiden.
Selain harus terealisasi dengan baik, Presiden juga menegaskan bahwa pembanguan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah juga harus diikuti dengan kepedulian lingkungan yang sehat. “Seperti perumahan di Karanganyar, setiap seratus rumah dibangun pos kesehatan, sehingga masyarakat juga sadar akan kesehatan dan kebersihan lingkungannya.
Sesaat sebelumnya, Presiden SBY didampingi Ibu Ani dan rombongan, telah meninjau serta menyarahkan secara simbolis kunci 10 ribu unit rumah kepada para calon penghuni komplek perumahan di Desa Jeruk Sawit, Karanganyar, Jawa Tengah. Harga setiap unit RSS ( Rumah Sehat Sederhana) untuk masyarakat berpenghasilan rendah ini Rp 17 juta/unit dengan luas tanah 21 M2, dengan uang muka Rp 1 juta. Setap unit rumah mendapatkan subsidi sebesar Rp 9 juta rupiah dari Kementerian Perumahan Rakyat, sedangkan Rp 7 juta sisanya dapat diangsur selama sepuluh tahun, dengan angsuran Rp 130 ribu/bulan. (nnf/osa)



