Berita Utama
Minggu, 24 Desember 2006, 20:00:46 WIB
Penanganan Bencana Alam Sumatera Sudah Berjalan Baik
Bogor: Dalam musim penghujan ini, Indonesia dan Malaysia mengalami bencana yang mengakibatkan banjir di Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Untuk Indonesia, skala banjir cukup besar terutama di daerah Aceh, Sumatera Utara, Riau dan sedikit di Sumatera Barat. “Untuk bencana alam ini, sistem kita di tingkat nasional maupun tingkat daerah sudah bekerja dengan baik,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan keterangan persnya di Puri Cikeas, Bogor, Minggu (24/12) petang.Dalam komunikasinya dengan para Gubernur Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat maupun Sekretaris Daerah Riau, Presiden SBY telah mendapat laporan bahwa mereka sudah mengambil langkah-langkah nyata di lapangan. “Disamping itu, Bakornas juga sudah bekerja. Bahkan malam hari ini, Wakil Presiden selaku Ketua Bakornas juga akan melakukan rapat lanjutan untuk memastikan Bakornas memberikan dukungan yang efektif kepada daerah dalam unit Satkorlak dan Satlak dalam mengemban tugasnya,” ujar Presiden.
“Sekarang ini Satkorlak dan Satlak ditugasi untuk mencari para korban yang dikabarkan hilang, memberikan bantuan bagi mereka yang berada di daerah pengungsian terutama obat-obatan dan makanan. Rehabilitasi agar kehidupan segera pulih kembali juga segera dilaksanakan,” tambahnya. Hadir mendampingi Presiden adalah Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, Panglima TNI Djoko Suyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni.
Untuk membantu para korban, TNI sudah disiagakan dan ditugasi oleh Panglima TNI. “Mereka mulai bekerja, terutama memberikan bantuan kepada daerah-daerah yang membutuhkan. Bahkan akan diberangkatkan lagi pesawat Hercules dan dua Helikopter Super Puma untuk memperkuat mobilitas udata di daerah bencana banjir, karena menurut laporan, jalan yang menghubungkan Lok Shumawe dan Medan juga tidak bias dilewati. Maka keberadaan helikopter menjadi sangat penting,” kata Presiden di hadapan wartawan.
Presiden SBY menghimbau kepada masyarakat luas dan masyarakat yang mampu untuk meningkatkan rasa solidaritas dan setia kawan dengan memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terkena bencana banjir. “Apalagi kejadian ini bertepatan dengan periangatan Hari Raya Natal dan Hari Raya Idul Adha, marilah kita jadikan moment ini untuk berbagi,” ujar Presiden.
Bencana tsunami di Aceh yang dialami Indonesia dua tahun lalu, memberikan pelajaran berharga kepada Indonesia tentang bencana. “Indonesia secara geografis dan geologis adalah daerah rawan bencana. Untuk itu harus mempunyai sistem yang canggih untuk bias mengantisipasi dan bias melakukan langkah-langkah tanggap darurat,” jelas Presiden. Secara fisik, pemerintah sudah membangun early warning system. “Penyampaian berita cepat dalam hitungan 2-12 menit setelah terjadi bencana sudah kita sosialisasikan dan lakukan, meskipun ini membutuhkan anggaran dan teknologi yang tidak sedikit. Dalam hal inilah kita bekerja sama dengan Jepang dan Jerman,” lanjutnya.
Yang tidak kalah penting menurut Presiden adalah tanda-tanda manual yang sekarang sudah dipasang di banyak tempat yang memungkinkan terjadinya bencana. “Sudah mulai dipasang tanda-tanda kemana arah harus menyelamatkan diri bila terjadi bencana dan tanda-tanda mengenali datangnya tsunami,” kata Presiden. Sedangkan mengenai bencana alam yang tidak bias terdeteksi, Presiden menjelaskan bahwa langkah tanggap darurat adalah solusi yang tepat. (osa)



