Berita Utama
Selasa, 26 Desember 2006, 12:00:57 WIB
Presiden: Kita Sering Menghadapi Pemberitaan yang Kurang Berimbang
Presiden SBY foto bersama pimpinan dan staf Antara, pada acara HUT ke 69 LKBN Antara di Wisma Antara, Selasa (26/12) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
“Saya rajin menyimak tayangan televisi dan me-review media massa cetak dalam dan luar negeri. Nampak tipologi media asing saat mengangkat berita negeri kita dengan interest dan cara pandang mereka sendiri. Itu wajar, karena berita asing tidak memiliki ikatan emosional dengan kita. Barangkali tidak paham apa yang dimaksud patriotisme dan nasionalisme." Patriotisme, nasionalisme, menurut SBY, tidak boleh digunakan sembarangan tanpa melihat hakikat dan nilainya.
“Bagi wartawan media asing yang tidak memilki ikatan seperti itu, maka ketika mewartakan berita tentang Indonesia, penggalan-penggalan berita yang ada di negeri kita ini, tentu dipilih mana yang marketable. Dalam kompetisi media massa global saat ini, kadang-kadang melihat Indonesia snapshotnya kebakaran, bencana, korupsi, terorrisme, kekerasan. Bukan motion picturenya, misalnya bagamana delapan tahun era reformasi Indonesia pasca krisis,” kata Presiden
“Dampak dari ini semua, dari snapshot seperti itu, citra kita bisa dipersepsikan keliru. Indonesia kok masih seperti itu, kekerasan dimana-mana, konflik dimana-mana, dan seterusnya. Berita sepenggal-sepenggal ini juga masuk di living room di jagat raya, ditonton oleh manusia sejagat,” ujar Presiden
Menurut SBY, dampak dari berita sepenggal-sepenggal itu, bagi calon mitra bisnis atau investor, akhirnya menahan diri ke Indonesia. ” Saya berdialog dengan teman saat ke Kuala Lumpur. Kami takut ke Indonesia. Tunggulah sampai Indonesia lebih baik. Kita berinvestasi ke Vietnam saja, Thailand, India, China dan lain-lain,” kata SBY menirukan temannya itu. Menurut Presiden, kerugian akan bertambah apabila kita menerima apa saja yang digambarkan tayangan-tanyangan dalam broadcasting dan media massa seperti itu,” katanya.
Kata SBY, ” Demokrasi dan reformasi tidak boleh dihentikan, karena saya berpendapat bagaimanapun akan jauh lebih baik hidup dalam era demokrasi dibandingkan era otoritarian atau sistim yang fasis. Tidak ada alasan satupun untuk tidak melanjutkan reformasi, trasformasi dan demokrasi ini. Tetapi di dalam negeri kita juga menghadapi pemberitaan yang kurang berimbang dan tidak akurat. Pers dalam negeri kita juga kadang beberapa kejadian masih kurang berimbang. Beberapa sisi kurang akurat. Akibatnya rakyat kita sendiri kurang mendapatkan gambaran yang utuh. Lebih jauh lagi, kepercayaan terhadap negara dan pemerintahnya sendiri bisa menurun. Maka kita mengalami kerugian yang kedua,” katanya .
"Oleh karena itu, saya mengajak untuk mendorong yang namanya balance news. Apa yang sudah berhasil dilakukan negara, pemerintah, gubernur, walikota atau bupati, katakan ini sudah berhasil. Yang belum berhasil, katakan belum berhasil. Yang jelek katakan, ini masih jelek. Tapi yang baik, jangan malu-malu, katakan Alhamdulillah ini sudah baik,” ujar Presiden SBY. (win)



