Berita Utama

Presiden Inginkan

Landasan Ekonomi yang Tidak Membebani Generasi Mendatang

Presiden SBY meresmikan pembukaan perdagangan bursa efek pertama tahun 2007 di Gedung Bursa Efek Jakarta, Selasa (2/1) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY meresmikan pembukaan perdagangan bursa efek pertama tahun 2007 di Gedung Bursa Efek Jakarta, Selasa (2/1) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Dari evaluasi akhir 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melihat sektor riil sudah mulai bergerak, meskipun masih ada yang belum sesuai harapan. Kondisi yang baik ini harus dipertahankan. “Dengan demikian kita meletakkan landasan makro ekonomi yang tidak membebani generasi yang akan datang,” kata Presiden dalam sambutan peresmian pembukaan perdagangan Bursa Efek pertama tahun 2007 di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Selasa (2/1) pagi.

Landasan mikro dan makro ekonomi yang tidak membebani generasi mendatang dan bisa dikalkulasikan, lanjut Presiden, akan menyehatkan pertumbuhan nasional kita.

Pada kesempatan itu, Presiden SBY menyampaikan tiga misi utama di tahun 2007. “Pertama, ekonomi nasional Indonesia harus makin baik sebagai landasan utama kita memecahkan masalah sosial dan ekonomi. Kedua, bersama-sama dengan pihak swasta, pemerintah mengembangan program-program yang bersifat public private partnership. Dan ketiga, pemerintah akan menjalankan program terarah yang langsung melawan kemiskinan,” seru Presiden SBY.

Presiden mengingatkan bahwa ada momentum baik di tahun 2007 ini dan ada kesempatan yang tidak kecil dari perkembangan ekonomi mikro dan kepercayaan mitra-mitra Indonesia. Dengan kesempatan dan momentum itu, Presiden berpesan agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan bekerjasama untuk mengelola dan mengembangkan ekonomi nasional. “Mari lebih kita eratkan kerjasama kita untuk ekonomi kita dan rakyat kita,” seru Presiden

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa banyak rekor sudah dicapai oleh industri pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat lebih dari 50 persen, dari level 1.162 pada awal 2006 menjadi 1.805 pada akhir tahun. Transaksi saham harian meningkat menjadi Rp 1,84 triliun dari Rp 1,6 triliun pada awal 2006. “Ini merupakan prestasi tertinggi dalam sejarah industri pasar modal Indonesia dan kita disebut sebagai tiga terbaik di dunia,” kata Sri Mulyani.

Menurut Presiden SBY, industri pasar modal mencerminkan prospek dan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara nasional. “Peningkatan-peningkatan itu adalah kepercayaan dari investor dan pasar, tidak hanya dari pasar domestik tapi juga pasar global,” kata Presiden. “Ekonomi sangat tergantung pada trust dan confidence, karena itu jangan kita sia-siakan faktor ini disamping faktor-faktor riil sumbangan dari kebangkitan atau besarnya pasar modal di negara kita,” SBY menambahkan.

Karena krisis yang menimpa Indonesia di tahun 1997, makro dan mikro ekonomi Indonesia terpukul dan sebagian kolaps. “Dari tahun ke tahun kita berusaha untuk memperbaiki wajah ini. Dalam perkembangannya, tahun demi tahun, makro ekonomi kita pulihkan. Kondisi di tahun tahun 2006 dan awal 2007 ini, sebagian besar dari makro ekonomi kita telah pulih, bahkan ada yang melebihi keadaan sebelum krisis. Tetapi dari makro ekonomi ada juga faktor yang menjadi tantangan kita yaitu pengangguran,” ujar Presiden.

Hadir dalam acara tersebut, antara lain, Menko Perekonomian Boediono, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Kepala Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Ahmad Fuad Rahmany, Gubernur BI Burhanudin Abdullah, dan mantan Menkeu Mari’e Muhammad. (osa)