Berita Utama

Presiden Terima Sheikh Yusuf Al Qardhawi

Presiden SBY tukar menukar  cinderamata dengan Syeikh Yusuf Al Qardhawi, di Kantor Kepresidenan, Selasa (9/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY tukar menukar cinderamata dengan Syeikh Yusuf Al Qardhawi, di Kantor Kepresidenan, Selasa (9/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Sheikh Dr. Yusuf Al Qardhawi, ulama terkemuka dari Timur Tengah, Selasa (9/1) pagi, di Kantor Presiden. Yusuf Al Qardhawi yang berkunjung ke Indonesia atas undangan Presiden, datang didampingi Menteri Agama Maftuh Basyuni. Ini adalah pertemuan kedua antara Presiden SBY dan Yusuf Al Qardhawi. Sebelumnya, keduanya bertemu di Doha, ibukota Qatar, tanggal 1 Mei 2006 ketika Presiden SBY melakukan serangkaian kunjungan kenegaraan ke lima negara di Timur Tengah, termasuk Qatar.

“Saya sangat gembira dapat bertemu kembali dengan Yang Mulia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kata-kata beliau yang selalu saya ingat adalah tidak baik suatu pemerintah tidak mau mendengarkan nasehat dari para ulama. Saya melihat bahwa ulama kalau mendekat kepada pemerintah dan pemerintah dekat dengan ulama, maka akan terjadi perbaikan,” kata Yusuf Al Qardhawi dalam bahasa Arab.

Dalam pertemuan tersebut, topik pembicaraan seputar permasalahan Indonesia, Timur Tengah seperti Palestina, Iran, Irak dan umat Islam secara umum. Yusuf Al Qardhawi menyatakan kesediaannya untuk mengikuti perkembangan permasalahan-permasalahan yang dihadapi Indonesia, dan membantu untuk menyelesaikannya dengan baik. Ulama yang saat ini berusia 81 tahun lebih banyak menghabiskan waktunya di Doha, Qatar.

Kata Al Qardhawi, tidak ada perbedaan antara kekuasaan dan agama. Islam tidak mengenal perbedaan itu. Agama dan negara merupakan satu kesatuan. “Oleh karena itu, kerjasamanya antara para ulama dan pemerintah adalah satu keharusan. Yang dituntut didalam ajaran agama Islam adalah terlaksananya syariat-syariat Islam dengan baik di suatu negara, dan adanya kerjasama antara pemerintah dan para ulama,” lanjutnya.

“Sejauh seorang pemimpin tersebut senang dengan para ulama, maka ulama akan mendekat kepadanya. Kalau pemimpin itu soleh, maka banyak ulama yang akan mendekat kepadanya. Kalau pemimpin tersebut absolute dan dzolim maka ulama enggan untuk mendekatinya,” jelas Al Qardhawi. Menurutnya, Presiden SBY adalah tipe pemimpin yang dekat dengan ulama. “Beliau ingin mendengarkan nasehat-nasehat dari pada ulama. Saya tidak punya potensi untuk mendekati beliau, karena beliau yang mendekati saya maka saya sambut dengan baik. Ini merupakan suatu fakta yang terpuji,” tutupnya. (osa)