Berita Utama
Sabtu, 13 Januari 2007, 22:09:46 WIB
Presiden:
ASEAN Bertransformasi Dari Asosiasi Menjadi Komunitas
Presiden SBY didampingi, antara lain, Menko Perekonomian, Menlu, Mensesneg, dan Mendag memberikan keterangan pers di Hotel Shangri-La Mactan, Cebu (Filipina), Sabtu (13/1) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Dengan piagam baru ini, lanjut Presiden SBY, diharapkan ASEAN yang kini beranggotakan 10 negara benar-benar dapat tumbuh dan berkembang menjadi satu perhimpunan negara-negara di Asia Tenggara yang dapat mencapai tujuan-tujuan didirikannya organisasi ini, yakni untuk kepentingan semua negara anggota dalam merespon perkembangan dan tantangan jaman pada era globalisasi dewasa ini.
“Hal yang penting yang saya ingin sampaikan berkaitan dengan rancangan piagam baru ASEAN ini adalah kalau di waktu yang lalu hinggga saat ini ASEAN lebih dilihat sebagai sebuah asosiasi yang longgar. Kita ingin menuju ke sesuatu yang lebih people centre dan kemudian betul-betul menjadi organisasi yang efektif untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tentu ini memerlukan perubahan dan penyesuaian dari segi organisasi atau institusi, tetapi menyangkut juga culture atau behaviour atau ASEAN way in doing their business dalam arti luas,“ kata Presiden SBY.
Presiden juga mengatakan bahwa prinsip atau norma baru yang diangkat adalah sejalan dengan berkembangnya nilai-nilai universal yang diadopsi oleh masyarakat global. Sebagai contoh, ASEAN ke depan ingin benar-benar menjunjung nilai-nilai demokrasi, penghormatan pada hak asasi manusia, tata pemerintahan yang baik atau good governance, pembangunan ekonomi yang betul-betul bisa menyentuh kesejahteraan rakyat semua negara-negara anggota ASEAN. Ini juga menjadi tekanan dalam rancangan piagam ASEAN yang baru nanti.
"Pembahasan juga berlanjut, baik waktu pertemuan dengan EPG maupun dalam retreat tadi, bahwa semua track yang mendasari kegiatan ASEAN diharapkan bisa berjalan paralel sehingga ASEAN harus betul-betul dimiliki oleh semua. Bukan hanya government to government relation, tapi juga kebersamaan di dalam dunia usaha, kerjasama antar parlemen termasuk kerjasama antar civil society," Presiden SBY menambahkan.
“Janganlah ASEAN dipandang sebagai perhimpunan yang sifatnya elit, tetapi betul-betul milik semua rakyat dari negara-negara anggota ASEAN. Ini tentu akan mengubah kultur, cara pandang, dan semua kegiatan intra ASEAN untuk masa mendatang. Tentu saja banyak hal yang akan dituangkan dalam piagam baru ASEAN tersebut. Tapi satu hal sebagaimana yang Indonesia sampaikan --kemarin juga saya sampaikan-- dalam transformasi ini tentulah kita tidak harus dan kita menghindari perubahan-perubahan yang dramatis, tetapi harus betul-betul mengalir sebagaimana sebuah transisi atau transformasi dilakukan," ujar Presiden.
“Dengan demikian transformasi ini juga akan sustainable, kemudian betul-betul tidak akan ada keterputusan dari nilai norma ataupun benang merah keberhasilan ASEAN di waktu yang lalu, yang tentunya sebagian besar masih tetap relevan untuk kita kembangkan di waktu yang akan datang. Kita berharap dengan piagam ASEAN yang baru ini semua kerjasama dapat kita laksanakan dengan baik," Presiden menjelaskan.
SBY menegaskan, ASEAN menjadi milik kita semua dan kemudian dengan piagam ini juga kita akan bisa melakukan hubungan yang baik dengan organisasi manapun, seperti Uni Eropa, APEC yang sebagian anggotanya sama, atau regional grouping lain yang diharapkan dalam banyak hal ASEAN masih tetap menjadi penggerak utama dan diorientasikan untuk kepentingan ASEAN sebesar-besarnya. “Kita berharap piagam ASEAN yang baru betul-betul bisa menjawab segala persoalan dan bisa membangun kerangka baru bagaimana kerjasama kita ini bisa berlangsung secara efektif lagi," kata Presiden SBYi. (nnf)



