Berita Utama
Jumat, 19 Januari 2007, 12:06:31 WIB
Presiden Buka The First Conference IFIP
Islam Perlu Kepemimpinan Visioner
Presiden SBY membuka acara The First Conference of International Forum for Islamist Parliamentarian (IFIP) di Hotel Millenium, Jakarta, Jumat (19/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
“Kita tidak boleh membiarkan diri kita tertinggal dalam keraguan dan terisolasi, kita harus berdiri di garis depan dari globalisasi. Kita harus mengikuti umat-umat sebelum kita yang berpikir selangkah lebih maju. Dengan kekuatan satu miliar umat, dengan segala potensi dan kekuatan untuk mendorong globalisasi, untuk melepaskan kekuatan yang membangun, untuk membawa kedamaian dan kemakmuran," kata Presiden SBY.
Presiden mengatakan bahwa kita sudah tertinggal dalam revolusi industri dan transportasi, juga tertinggal dalam revolusi militer modern dengan teknologi dan strategisnya. Begitupun dalam hal teknologi komunikasi dan informasi, kita masih belum menjadi pemain utama. Tapi hal ini tidak boleh menghalangi kita untuk mengambil peran aktif dan memimpin dalam revolusi informasi yang sekarang sedang berjalan. “Kita tidak boleh tertinggal dalam revolusi yang sangat penting ini," SBY menegaskan.
SBY mencontohkan Cina dan India yang telah melakukan transformasi dengan dramatis, dimana mereka saat ini menjadi kekuatan global yang sedang tumbuh. “Dunia Islam juga bisa melakukan hal itu, seperti Cina dan India. Tetapi seperti mereka, itu membutuhkan perencanaan, disiplin, pemerintahaan, keterbukaan, reformasi, dan kerja keras," SBY menambahkan.
“Untuk melakukan itu semua, umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang baik dan visionaries. Umat Islam tidak bisa berjalan tanpa arah. Umat Islam membutuhkan panduan dari para pemimpin formal dan informal, yang mengetahui bagaimana dunia bergerak, yang dapat memimpin sejalan, dan melakukan keputusan-keputusan sulit yang dapat membawa pencerahan, kebijaksanaan, dan bimbingan,“ ujar Presiden SBY.
Karena itu, lanjut Presiden, kualitas kepemimpinan dari dunia Islam menjadi sangat kritikal. “Kita akan perlu untuk melihat kepemimpinan di pemerintahan, parlemen, komunitas bisnis, media, LSM, dan komunitas sipil yang luas,“ katanya.
“Terakhir, untuk mewujudkan itu semua, adalah penting bagi umat Islam untuk merangkul dengan konstruktif, pikiran yang terbuka, pandangan yang jauh ke depan, positif, dan perilaku yang kreatif. Umat Islam harus melanjutkan usaha keras untuk sederhana dalam segala hal, toleransi, dan harmonis. Ini adalah tiang-tiang utama untuk perdamaian yang berlangsung lama, kemakmuran, modernisasi, dan demokrasi untuk umat Islam,“ kata Presiden.
Konferensi IFIP yang pertama ini dihadiri oleh seklitar 200 peserta dari 25 negara, dengan tema “Peaceful Reform and Democracy Toward a Better Future”. Presiden hadir dengan didampingi oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ketua DPR Agung Laksono, dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. Usai memberikan pidato sambutan, Presiden membuka secara resmi konferensi tersebut dengan memukul gong. (nnf)



