Fokus

Rabu, 24 Januari 2007, 14:33:55 WIB

SBY Terima Managing Director IMF, Rodrigo de Rato

Indonesia Tidak Berencana Ajukan Pinjaman pada IMF

 

Presiden SBY menyambut  Managing Director IMF, Rodrigo de Rato, di Kantor Kepresidenan, Rabu (24/1) siang. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Presiden SBY menyambut Managing Director IMF, Rodrigo de Rato, di Kantor Kepresidenan, Rabu (24/1) siang. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Jakarta : Indonesia tidak berencana untuk mengajukan pinjaman lagi kepada International Monetary Fund ( IMF ).Hal itu dipastikan oleh Menko Perekonomian Boediono kepada wartawan seusai mendampingi Presiden SBY bertemu dengan Managing Director IMF Rodrigo de Rato dan tim, di kantor Presiden, Rabu (24/01).

“ Tidak ada rencana atau keperluan untuk itu, kita baru saja membayar kembali. Di sinipun tidak dibahas, dan tidak ada dalam rencana pemerintah untuk itu. Ini adalah kunjungan kehormatan yang tidak ada agenda khusus. Intinya adalah bertemu untuk bertukar pikiran dan bertukar informasi menyangkut beberapa hal, “ kata Boediono.

De Rato pada konferensi pers yang sama juga menegaskan bahwa pertemuan tersebut sama sekali tidak membahas mengenai rencana pinjaman. “ Kita semua tahu bahwa pemerintah Indonesia memutuskan untuk membayar kepada IMF dua bulan lalu, dan kami sangat menyambut baik keputusan itu. Bukan hanya karena mengenai uangnya, tetapi karena itu menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia semakin membaik. Dan merupakan keberhasilan bagi masyarakat Indonesia, dari upaya yang dilakukan selama bertahun – tahun. Pertemuan kami untuk membahas mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat. Terutama mengenai instrument untuk memberikan masyarakat Indonesia ekonomi yang kokoh untuk berubah, “ kata De Rato.

Boediono menjelaskan bahwa hal – hal yang dibicarakan antara Presiden SBY dan de Rato adalah mengenai situasi Indonesia, Presiden menyampaikan program yang telah kita lakukan sejak Indonesia keluar dari program IMF tahun 2003 sampai sekarang. Fokus pembicaraan pada apa yang diterangkan oleh Presiden kepada IMF, yaitu masalah triple track strategy, atau strategi tiga jalur yaitu stabilitas, pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan dan peningkatan lapangan kerja. Juga disebutkan masalah mengenai peran dari UKM dan pertanian yang sangat penting di dalam strategi kita, dan menteri UKM dan Menteri Pertanian juga ikut hadir pada pertemuan tersebut, kata Boediono.

Menurut Boediono, dalam pertemuan itu juga dibahas masalah kebijakan energi Indonesia, bahwa Indonesia akan melakukan diversifikasi energi. “ Ini semua adalah mengenai Indonesia sendiri. Tetapi pembahasan juga sampai kepada masalah regional dan masalah global. Dan sekaligus masalah mengenai tata kelola atau internal mengenai IMF yang kita sebagai anggota tentunya berkepentingan untuk mendengarkan dan memberikan pandangan mengenai apa yang terjadi, “ kata Boediono.

"Mengenai bidang regional, isu yang dibahas antara lain integrasi keuangan di kawasan ini, masalah gerakan modal yang ada plus minusnya, ada masalah ada benefitnya, juga masalah China, mengenai peranan China dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di kawasan ini, maupun dikawasan global termasuk mengenai masalah – masalah fleksibilitas, mengenai exchange rate atau sistem kurs itu pengaruhnya. Itu adalah poin – poin yang menjadi pembicaraan Presiden SBY dan De Rato," kata Menko.

Masalah global, menurut Boediono juga disinggung, yaitu menyangkut masalah perkembangan ekonomi 2007, bagaimana peran Amerika, Eropa, Jepang, China dan ini dibahas bersama antara beliau termasuk masalah yang di luar itu, global warming, dan lain lain.

“Masalah internal IMF yang tentunya kita berkepentingan, Presiden juga menyampaikan pandangan Indonesia mengenai salah satu aspek dari reformasi internal itu adalah masalah penentuan kuota yang kita ketahui mengenai berapa besar hak suara kita. Ada usulan untuk mengubah formula mengenai kuota ini. Presiden menyampaikan pandangan Indonesia bahwa antara lain kita menginginkan bahwa dalam formula itu aspek – aspek seperti besarnya ekonomi , bukan hanya beberapa hal mengenai cadangan devisa. Besarnya ekonomi dan keterbukaan ekonomi ini dan peran ekonomi Indonesia di dalam kawasan ini perlu mendapat perhatian dalam formula ini, Tujuannya untuk supaya Indonesia representasinya cukup signifikan, “papar Boediono. ( nnf )

 

 

Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang