Berita Utama

Presiden Bertemu Kepala Staf Gabungan AS

Bahas Hubungan Militer dan Isu Internasional

Presiden SBY menerima kunjungan Kepala Staf Gabungan Tentara AS Jenderal Peter Pace, bersama Dubes AS untuk Indonesia, di Kantor Presiden, Selasa (13/2) pagi. (abror/presidensby.info)
Presiden SBY menerima kunjungan Kepala Staf Gabungan Tentara AS Jenderal Peter Pace, bersama Dubes AS untuk Indonesia, di Kantor Presiden, Selasa (13/2) pagi. (abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Chairman of the Joint Chiefs of Staff (Kepala Staf Gabungan Tentara AS) Jenderal Peter Pace, di Kantor Presiden, Selasa (13/2) pagi. Jenderal Pace didampingi Duta Besar AS untuk Indonesia Lynn B. Pascoe, Atase Pertahanan Kolonel Kevin Richards, dan Asisten Kepala Staf Gabungan Kolonel David Teeples. Saat menemui tamunya, Presiden SBY didampingi, antara lain, Seskab Sudi Silalahi, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, dan Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut dibahas dua hal, yaitu mengenai hubungan militer Indonesia dan Amerika Serikat serta berbagai perkembangan internasional seperti situasi di Timur Tengah. “Presiden SBY kembali menekankan apresiasi Indonesia terhadap normalisasi hubungan antar militer Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Dino dalam keterangan persnya. “Presiden SBY dan Jenderal Pace juga membahas situasi di Palestina, Irak, Libanon, dan Korea Utara," lanjutnya.

Mengenai perkembangan situasi Asia, terutama di Korea Utara, Presiden SBY menyampaikan harapan agar perundingan pihak enam partai (negara) yang sekarang sedang berlangsung di Beijing dapat menghasilkan sesuatu yang konkret, yang dapat mengarah kepada penyelesaian konflik dan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Jenderal Pace menjelaskan, kedatangannya ke Indonesia untuk mempererat hubungan militer AS-Indonesia. "Saya mendengarkan penjelasan dari Presiden Yudhoyono dan sangat berterimakasih dengan kesempatan yang telah diberikan,” kata Kepala Staf Gabungan AS. “Kita mempunyai kerjasama yang sangat baik dalam beberapa tahun ini. Sudah biasa bagi negara-negara demokrasi untuk saling bantu dan bekerjasama. Kesempatan kerjasama militer antara Amerika Serikat dan Indonesia adalah saling bertukar pikiran dan pengalaman bagaimana menyediakan keamanan bagi warna negara kita masing-masing. Namun yang harus dipahami, tidak semua hal yang baik untuk AS juga baik untuk Indonesia dan sebaliknya,” Pace menambahkan.

Dalam soal isu nuklir Korut ini, menurut Jenderal Pace, yang dibutuhkan sekarang adalah mendorong masing-masing negara untuk menemukan penyelesaian yang dapat membuat Korut berpartisipasi penuh dan tepat di komunitas internasional.

Mengenai masalah Irak, Jenderal Pace mengatakanbahwa Presiden SBY mempunyai ide yang sangat bagus mengenai bagaimana memperkuat pemerintahan sehingga pasukan perdamaian dapat memecahkan masalah di Irak. “Ini adalah kenyataan fundamental bahwa pasukan milter tidak dapat memecahkan masalah Irak sendirian. Ada tiga hal yang harus dikerjakan, yaitu keamanan, pemerintahan yang baik, dan ekonomi untuk kesempatan kerja,” ujarnya. (osa)