Berita Utama
Rabu, 30 Mei 2007, 16:58:22 WIB
Indonesia Diundang Ikut Mega Proyek di Kuwait
Jakarta: Perdana Menteri Kuwait Sheikh Nasser Al-Mohammaed Al-Ahmed Al-Jabar Al Sabah menawarkan Indonesia untuk berpartisipasi dalam pembangunan mega proyek di Kuwait. Presiden SBY menyampaikan hal itu dalam keterangan pers usai melakukan pertemuan empat mata dan bilateral dengan PM Kuwait dan delegasi, di Istana Merdeka, Rabu (30/5).“Kita menyambut baik tawaran Perdana Menteri Kuwait yang tadi disampaikan kepada saya bahwa akan dilakukan berbagai proyek pembangunan di Kuwait yang saya sebut mega proyek, yang memerlukan kerjasama dengan negara-negara sahabat termasuk perusahaan-perusahaan dari mancanegara. Perdana Menteri Kuwait juga menawarkan apabila perusahaan Indonesia juga ikut berpartisipasi dalam pembangunan itu. Tentu saja saya sambut dengan baik dan mudah-mudahan dalam kerjasama ini ada swasta kita yang bekerja di Kuwait, termasuk tenaga kerja kita, apakah itu engineer, nurses, dan berbagai cabang profesi yang bisa kita ikut berpartisipasi dalam pembangunan itu,“ kata Presiden.
Presiden SBY menjelaskan, selama ini hubungan Indonesia dan Kuwait berjalan dengan baik dan terus berkembang ke arah yang positif. Sebelumnya Presiden, atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Kuwait atas bantuan mereka pada saat terjadi tsunami di Aceh dan Nias, serta gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Perdagangan antara Indonesia dan Kuwait selama ini menunjukkan pertumbuhan yang baik. Di bidang perdagangan kita mencatat pertumbuhan yang makin baik, di atas 17%, dengan total mencapai 1,6 miliar dolar AS --dengan nilai terbesar berupa impor minyak Indonesia dari Kuwait. Sementara nilai ekspor kita 100 juta dolar AS. "Dalam pertemuan tadi saya ingin lebih banyak lagi produk-produk Indonesia yang dapat dipasarkan di Kuwait. Selama ini yang kita pasarkan di Kuwait adalah garmen tekstil, manufaktur, plywood, keramik, dan juga kertas. Kami juga berharap di masa depan lebih banyak lagi produk-produk kita, termasuk handycraft, dapat dipasarkan di Kuwait, “ Presiden SBY menambahkan.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga mengundang investor dan pengusaha Kuwait untuk berinvestasi di Indonesia. “Jadi timbal balik, apakah dalam pembangunan infrastruktur bidang energi maupun cabang-cabang bisnis yang lain," ujar Presiden.
Saat ini, ada sejumlah perusahaan Kuwait yang berinvestasi di Indonesia, seperti Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC). Mereka bekerjasama dengan Pertamina dan mitra-mitranya untuk eksplorasi maupun pembangunan kilang minyak. "Sekarang sedang kita matangkan perencanaan dan persiapannya,“ jelas Presiden.
Soal kerjasama di bidang ketenagakerjaan, Presiden mengatakan bahwa saat ini ada 57 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dengan berbagai profesi, yang berada di Kuwait. “Saya menyampaikan terimakasih kepada PM Kuwait, disertai harapan agar TKI yang bekerja baik-baik mendapatkan perlindungan atas hak-haknya dan mendapatkan perlakuan baik dari tuan rumah,“ kata Presiden.
Isu regional, khususnya Timur Tengah, juga dibahas dalam pertemuan bilateral kedua delegasi. Kedua pemimpin, lanjut Pesiden, menyatakan keprihatinannya atas situasi di Palestina dan Lebanon. "Harapan kita betul-betul terjadi rekonsiliasi dan diselamatkanlah rakyat Lebanon dari kekerasan yang sekarang sedang berkecamuk," ujar Presiden. Demikian juga soal Palestina. Presiden SBY dan PM Kuwait berharap unity government antara Hamas dan Fatah bisa lebih bersatu dan menangani masalah-masalah yang ada. "Dengan demikian perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Palestina segera terwujud, dengan damai. Ini yang kita harapkan," Presiden menegaskan.
Mengenai Irak, kedua pemimpin prihatin terhadap kekerasan yang ada di sana. Dalam hal ini, PM Kuwait mengatakan, sesungguhnya bangsa dan pemerintah Irak sendiri yang lebih harus tampil untuk menyelesaikan masalahnya. "Ini segaris dengan pandangan Indonesia pula, bahwa rekonsiliasi nasional di Irak menjadi pilar penting dalam penyelesaian masalah Irak di waktu yang akan datang," lanjut Presiden SBY.
Masalah nuklir Iran juga menjadi pembahasan Presiden dan PM Kuwait. Dan posisi Indonesia, Presiden menegaskan, sangat jelas. "Kita ingin semua isu itu diselesaikan secara damai. Kita ingin IAEA (International Atomic Energy Agency) tetap berkomunikasi dan bekerjasama. Indonesia menolak setiap aksi yang hanya akan menimbulkan konfrontasi militer secara langsung, karena itu akan mengganggu stabilitas dan keamanan Timur Tengah secara utuh,“ kata Presiden.
Ketika ditanya mengenai perkembangan rencana investasi kilang minyak oleh HEMOCO Kuwait di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, yang tertunda selama 10 tahun, Presiden mengatakan bahwa hal tersebut juga dibahas dalam pertemuan bilateral tadi. “Meskipun tidak secara spesifik kita bahas, tapi kita angkat juga tadi. Sesungguhnya pembicaraan atau negosiasi antara pihak Pertamina atau pihak Kuwait itu terus berjalan. Ada beberapa isu yang harus diselesaikan dan kami ketahui ada semacam pergantian kepemilikan terhadap HEMOCO yang ada di Kuwait, dan ini harus menunggu penyelesaian yang konkret. Sebenarnya kita sudah mengajukan proposal dan dengan pergantian kepemilikan di Kuwait. Kuwait berjanji pada bulan Juli 2007 akan segera dilakukan pembahasan yang lebih intensif dengan harapan dari pihak kita juga dapat segera diwujudkan. Keberadaan kilang minyak, terutama di wilayah Indonesia timur, sangat membantu untuk distribusi bahan bakar minyak di Indonesia,“ ujar Presiden. (nnf)



