Jumat, 22 Juni 2007, 14:47:13 WIB
Alwi Shihab Lapor Hasil Kunjungan Ke Iran
Utusan Khusus Presiden RI untuk Timteng, Alwi Shihab, bertemu dengan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, di Teheran, pada 19 Juni 2007 lalu. (foto: istimewa)
Jakarta: Hubungan Indonesia dan Iran tetap terjalin hangat. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengharapkan agar hubungan yang baik ini tetap terjalin sepanjang masa dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa merenggangkan hubungan ini. Hal ini disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah, Alwi Shihab, usai menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jumat (22/6) siang.
Alwi Shihab menghadap Presiden untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di Teheran pada 19 Juni 2007 lalu. “Hubungan batin saya dengan bangsa Indonesia dari semua kalangan, kalangan intelektual pemerintah dan lain-lainnya sangat kuat , bahkan saya merasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia ini. Saya yakin bahwa hubungan saya dengan bangsa Indonesia, hubungan saya khusus dengan Presiden RI, sangat istimewa dan saya yakin bahwa hubungan yang istimewa ini akan tetap berlanjut,” kata Presiden Ahmadinejad, seperti disampaikan oleh Alwi Shihab dalam keterangan pers yang didampingi Jubir Presiden, Dino Patti Djalal.
Kunjungan Alwi ke Iran sebagai Utusan Khusus Presiden RI membawa misi untuk menyampaikan surat Presiden SBY kepada Ahmadinejad. Pada pagi hari, tanggal 19 Juni 2007, Alwi bertemu dengan Wakil Menlu Iran Mehdi Mustafavi, karena Menlu Manouchehr Mottaki sedang berada di luar negeri. Pada sore hari pukul 6.30 sore, Alwi bercerita, ia diterima oleh Presiden Ahmadinejad. Pertemuan yang semula djadwalkan 30 menit itu akhirnya molor menjadi 40 menit karena kemudian dilanjutkan dengan
one on one meeting. Dalam sesi ini, Alwi didampingi Kuasa Usaha KBRI dan salah seorang staf dari Deplu Jakarta. "Beliau (Presiden Ahmadinejad) didampingi oleh beberapa pejabat tinggi. Setelah 40 menit beliau meminta agar pertemuan dilanjutkan hanya berdua,“ Alwi menjelaskan.
Surat Presiden SBY kepada Presiden Ahmadinejad tersebut, kata Alwi, antara lain berisi soal memperbaharui kedekatan atau kehangatan hubungan Indonesia-Iran. “Diharapkan dari kunjungan ini kesepakatan-kesepakatan bilateral dibidang
oil and gas, kebudayaan,
small and medium enterprise, custom, yang selama ini masih belum optimal diharapkan dapat berjalan secara optimal. Disamping itu Presiden SBY juga menyampaikan salam hangat melalui surat tersebut dan mengharapkan Presiden Ahmadinejad dengan seksama memperhatikan posisi Indonesia, baik di PBB baik di luar PBB, dimana Indonesia tidak pernah absen di dalam mendukung posisi Iran untuk menggunakan hak Iran dalam pengembangan nuklir untuk kepentingan perdamaian bukan untuk kepentingan lain,“ mantan Menko Kesra ini menambahkan.
Presiden Ahmadinejad, lanjut Alwi, secara khusus mengucapkan penghargaan dan terima kasih kepada Presiden Indonesia. “Saya gembira bahwa Presiden Indonesia mengutus anda untuk menyampaikan surat dan saya juga ingin mengucapkan terima kasih khusus kepada pemerintah Indonesia atas sikapnya yang terakhir di PBB yang menunjukkan independensi yang tinggi dan satu-satunya negara yang tidak tidak menyetujui
statement press yang diusulkan oleh Perancis, dimana Indonesia memblok
statement press tersebut sehingga tidak jadi dikeluarkan, “ kata Alwi menirukan Presiden Ahmadinejad.
Kepada Alwi, Presiden Ahmadinejad juga menyatakan bahwa kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu sangat mengesankan. Bangsa dan pemerintah Indonesia betul-betul bersikap sangat hangat dengan Iran dan hal ini harus tetap berlanjut. "Kalau pun ada perbedaan-perbedaan, maka perbedaan itu jangan sampai dijadikan alasan atau celah bagi pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh hubungan antara Indonesia dengan Iran. Presiden Ahmadinejad juga menyampaikan salam hormat untuk Presiden SBY dan rakyat Indonesia,” ujar Alwi.
Pada kesemoatan itu, Presiden Ahmadinejad mengharapkan bahwa independensi Indonesia yang ditunjukkan pada keputusan terakhir di PBB akan tetap berlanjut, karena antara Iran dan Indonesia memiliki hubungan tradisional yang kuat dan tidak boleh ada kekuatan apapun yang dapat merenggangkan hubungan tersebut. “Antara lain beliau juga menyampaikan bahwa hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Iran, sesuai dengan kesepakatan dan nota kesepahaman yang telah ditandatangani di Indonesia, harus berlanjut. Beliau menyatakan secara pribadi akan memantau dan kalau perlu akan ikut mengintervensi apabila ada hambatan-hambatan dalam hubungan ekonomi Indonesia dengan Iran,“ kata Alwi lagi.
Kepada Presiden, Alwi juga melaporkan soal rencana pendirian pabrik pupuk patungan
(joint venture) Indonesia-Iran di Iran sudah akan sampai kepada titik pencarian
financing, melalui Asian Development Bank (ADB). Kunjungan Alwi ke Iran juga disertai rombongan dari PUSRI dan PGN (Perusahaan Gas Negara) mendapat sambutan sangat hangat dari pihak Iran. PGN ingin mengimpor gas alam cair. Namun pihak Iran bahkan memberikan peluang untuk mengembangkan gas yang ada sampai kepada industri hilir
(down stream). "Jadi disamping bisa mengimpor LNG dari Iran, hal ini sangat menjanjikan bagi kerjasama di bidang
oil and gas,“ lanjut Alwi.
Kesimpulan kunjungan ke Iran ini, ujar Alwi, Presiden Ahmadinejad menyambut dengan hangat dan tekad bahwa hubungan baik ini harus terus dipertahankan. Ahmadinejad mengharapkan, kalaupun ada perbedaan-perbedaan jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
"Dalam kesempatan itu juga saya menyampaikan bahwa posisi Indonesia jelas tidak akan mungkin mengkhianati teman," Alwi menegaskan. Posisi Indonesia dalam resolusi Dewan Keamanan PBB No.1747 itu jelas, mengharap Iran dapat menempuh jalan perundingan dan dialog. "Indonesia sama sekali tidak ingin melihat ada solusi, selain solusi dialog dan perundingan. Karena apabila ada solusi lain, apalagi menyangkut intervensi militer, maka hal itu bukan saja mengganggu Iran tapi juga mengganggu perdamaian dunia. Dan beliau (Ahamadinejad; red) juga meyakinkan bahwa Iran pun akan menempuh jalan perundingan dan jalan damai, namun mengharapkan bahwa hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan perdamaian juga harus didukung oleh Indonesia dan oleh negara negara secara keseluruhan,“ kata Alwi. (nnf)