Kamis, 28 Juni 2007, 15:48:56 WIB
Presiden di Ambon:
Sektor Kelautan dan Perikanan Terus Ditingkatkan
Presiden SBY menandatangani prasasti tiga proyek di Maluku, di Pasar Ikan Higienis, Ambon hari Kamis (28/6) siang disaksikan Mendikbud Bambang Sudibyo dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu. (foto: anung/presidensby.info)
Ambon: Salah satu agenda penting pembangunan yang sedang dilakukan pemerintah saat ini adalah di bidang kelautan dan perikanan bersamaan dengan bidang pertanian dan sektor kehutanan untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan dari kaum nelayan dan masyarakat pesisir. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato sambutannya saat meresmikan dimulainya pengoperasian Pasar Ikan Higienis Tantui Ambon, Industri Nelayan Terpadu Benjina Kabupaten Kepualuan Aru, serta peresmian Gedung Fakultas MIPA Universitas Pattimura Ambon, Kamis (26/7) siang.
“Yang saya tekankan dan
Alhamdulilah sudah dijalankan dewasa ini menyangkut sektor kelautan dan perikanan adalah berdayakan nelayan dan masyarakat pesisir, dan meningkatkan kemampuannya. Pemberian kapal adalah salah satu bentuk untuk memberdayakan nelayan dan meningkatkan kemampuannya,” kata Presiden. “Harapan saya, nelayan dan masayarakat pesisir bermitra dengan PT. Pusaka Benjina Resources, misalnya melaksanakan kemitraan dengan baik, hasil yang adil, berdayakan mereka, menjadikan mereka nelayan asset bagi perusahaan,” tambah Presiden.
Dengan demikian, lanjut Presiden, ada rasa memiliki yang tinggi dengan nelayan atas kemitraan itu. "Kalau itu terjadi maka semua mendapatkan manfaat dan keuntungannya. Nelayan maju, usaha maju. Kalau usaha maju maka membayar pajak pada pemerintah. Pajak itu digunakan lagi untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, mengurangi kemiskinan, dan lain-lain,” kata Presiden.
Suasana seperti itu yang hendak dikembangkan pemerintah sekarang dan kedepan. “Saya juga mendukung upaya Departemen Kelautan dan Perikanan, TNI AL, kepolisian, penegak hukum untuk memproteksi wilayah-wilayah tangkapan ikan dari mereka-mereka yang melakukan kejahatan dalam penangkapan ikan. Nelayan asing harus diawasi, dilakukan kontrol, dan dibatasi. Tidak boleh begitu saja melakukan penangkapan ikan tanpa aturan yang jelas,” ujar SBY.
Untuk kondisi cuaca yang sering tidak menentu, Presiden SBY menghimbau kepada Menteri Koperasi dan UKM untuk terus mengantisipasi, memberikan bantuan, memberi solusi manakala cuaca dan musim sedang tidak bersahabat. “Koperasi penting didirikan di tempat itu. Tolong pikirkan bentuk ketika cuaca buruk, ada mekanisme, ada bantuan bagi saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan hidup karena buruknya cuaca tersebut,” tegas Presiden SBY
Presiden SBY melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan 200 unit kapal untuk 1000 nelayan di kepulauan Aru senilai 10 milyar rupiah dan hasilnya akan ditampung oleh PT. Pusaka Benjina Resources. PIH Tantui Ambon seluas 8000 m2, berbentuk bujur sangkar, dibangun pada tahun 2005-2006. Pembangunan ini menelan dana 7.091.187.650 rupiah yang berasal dari dana APBN, berdasarkan Inpres No.6 tahun 2003.
Menurut Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dalam sambutannya, tujuan dibangunnya PIH ini adalah untuk menciptakan sarana pasar yang higienis untuk menjaga mutu produk serta adanya tempat transaksi yang
representative. Direncanakan akan dibangun di semua ibukota kabupaten di maluku. PIH dilengkapi dengan fasilitas ruang bongkar muat, ruang sortasi, ruang display, dan transaksi, instalasi pengolahan air limbah, juga gedung pengelola, restoran, laboratorium, rumah panel, menara air, akses jalan, tempat parker, dan pos penjagaan.
Usai menandatangani prasati, Presiden mengadakan
video conference dengan para nelayan yang berada di Benjina Kabupaten Kepulauan Aru yang dipimpin Bupati Kepulauan Aru Teddy Tengko. Para nelayan mengucapkan terimakasih atas bantuan 200 unit
speedboat untuk mereka. Seperti yang diungkapkan Muhammad Ali Darakay, yang mengatakan para nelayan telah menerima bantuan dengan senang hati.
Muhammad Ali Darakay, nelayan polos ini sempat membuat SBY, Ibu Ani dan para menteri tertawa terbahak-bahak, karena sambil dialog jarak jauh dengan SBY, ia juga ngupil. Memasukkan jarinya ke lubang hidung. Berapa anak Pak Ali, tanya SBY. "Anak saya delapan Pak," kata Muhammad Ali polos. Semua kaget, kemudian tertawa lagi. Sudah, berhenti Pak, jangan tambah anak lagi, kata SBY. "Iya Pak. Tapi saya minta Bapak juga ke Aru Pak, jangan cuma ke Ambon," kata Muhammad Ali, mengundang tawa lagi. Dengan sambil masih menahan tawa, SBY menjawab, "Baiklah. Saya ingin sekali bisa berkunjung ke Kepulauan Aru, tapi saat ini waktunya belum pas. Saya tidak mau janji, tapi kita tahu kepulauan Aru memiliki peristiwa sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia," kata SBY.
Seorang nelayan lain, Batu Gotanjalay juga mengucapkan terimakasih atas bantuan kapal dan sebagai penutup mengatakan sebuah pepatah kepada Presiden. "Bapak meski jauh di mata, tapi tetap dekat di hati" kata Gotanjalay yang langsung disambut tawa Presiden dan hadirin. "Jauh di mata dekat di hati juga Pak," jawab Presiden dengan senyum. Sayang, karena waktu yang terbatas,
video conference harus segera diakhiri. Presiden dan Ibu Negara beserta romongan meninggalkan acara di tengah hujan yang masih mengguyur deras. (nnf/osa).