Berita Utama
Jumat, 13 Juli 2007, 12:19:55 WIB
Presiden:
Anggaran Pendidikan Tetap yang Tertinggi
Jakarta: Indonesia berada di peringkat 50 dari 125 negara berdasarkan Global Competitiveness Indeks yang dilakukan World Economic Forum, tahun 2006-2007. Dibandingkan sebelumnya, naik 19 peringkat. Untuk kualitas sistem pendidikan, Indonesia berada pada peringkat 23. ”Semakin baik. Negara ASEAN yang di atas kita hanya Singapura dan Malaysia, sedangkan tujuh negara ASEAN lainnya berada di bawah Indonesia. Mari hal ini kita jadikan semangat, kita bisa lebih bagus lagi. Indonesia memiliki kesempatan untuk bangkit,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya saat silaturahmi dengan peserta Munas ke III Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) di Istana Negara Jakarta, Jumat (13/7) pagi.Presiden SBY setuju untuk terus meningkatkan anggaran pendidikan hingga mencapai apa yang telah diamanahkan konstitusi kita. ”Pendidikan tetap prioritas dan mendapatkan subsidi paling tinggi. Oleh karena itu, percayalah bahwa pemerintah dengan segala pikiran yang jernih dan rasional yang tinggi untuk mengelola dan menata anggaran ini sehingga lebih adil,” SBY menjelaskan.
Presiden juga menginginkan dibangun hubungan tripartit antara pemerintah, institusi pendidikan, dan pasar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kualifikasi sarjana yang dibutuhkan dunia industri. ”Sistem pendidikannya tolong betul-betul yang dapat dipercaya. Memilih kurikulum harus dilihat apakah yang diajarkan sudah pas dengan yang dibutuhkan masyarakat dan ekonomi kita,” pesan Presiden SBY. ”Infrastruktur adalah tugas pemerintah. Sekarang ini makin banyak alokasi anggaran kita untuk membangun infrastruktur, bukan hanya bangunan-bangunannya tapi juga sarana dan prasarana yang lain. Kualitas pengajar, termasuk kuantitas dan kesejahteraannya, juga menjadi pekerjaan rumah kita,” Presiden menambahkan.
Untuk mengukur daya saing sebuh bangsa, menurut Presiden, ada sembilan pilar yang dapat digunakan. Pilar-pilar tersebut adalah institution, infrastructur, macro economic, helath and primary education, higher education and training, market efficiency, technological readiness, businnes, dan innovation.
Hadir mendampingi Presiden, antara lain, Mendiknas Bambang Sudibyo, Mensesneg Hatta Rajasa, Menakertrans Erman Suparno, dan Jubir Presiden Andi Mallarangeng. (osa/win)



