Senin, 30 Juli 2007, 14:27:09 WIB
Dialog dengan Petani di Cianjur
Pemerintah Diminta Sebarluaskan Padi SRI
Presiden SBY mencicipi nasi dari padi System of Rice Intensification (SRI) Organik di Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Senin (30/7) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Cianjur: “
Uenak … ,” puji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mencicipi nasi hasil dari padi SRI. SBY memakan nasi tersebut tanpa lauk dan hidangan yang lain. “Bayangkan kalau jam segini, nasi ini dimakan dengan lalap, sambal, dan ikan gurame. Pasti nikmat sekali,” kata SBY. Untuk mendapatkan nasi seenak ini memang dibutuhkan waktu untuk pelatihan dan percontohan, kata SBY, menjawab permintaan I Ketut Subagir, salah satu petani asal Bali yang menginginkan agar pemerintah dapat memberikan informasi padi SRI kepada seluruh petani di Indonesia dalam waktu cepat.
Usai melakukan panen perdana Padi
System of Rice Intensification (SRI) Organik bersama dengan para petani di Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, SBY melakukan dialog interaktif dengan para petani untuk mendengarkan keluh kesah dan segala masukan dari mereka. Dialog dipandu Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan dan diikuti 50 penyuluh pertanian lokal serta 120 petani dari 13 provinsi yang telah mengikuti
workshop SRI di seluruh Indonesia. Mereka datang antara lain dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, NTB, NTT, Bali, dan Papua.
I Ketut Subagir juga menceritakan pengalamannya yang telah menggunakan pupuk Urea dari tahun 1985 sampai tahun 2000. “Sampai tahun 2000 hasilnya tidak meningkat lagi walaupun di tahun 1985-1990 hasilnya meningkat. Namun setelah 1990 hasilnya tidak bertambah lagi. Setelah itu struktur tanah menjadi rusak dan kandungan berasnya mengandung resiko racun,” jelas Subagir. Setelah difasilitasi pemerintah untuk menggunakan padi SRI, Subagir mulai menggunakan kebijakan sistem SRI. Menurutnya, padi SRI memberikan banyak sekali manfaat untuk menghemat biaya produksi antara lain irigasi air dan penggunaan pupuk.
Panut, petani dari Kabupaten Ciamis, Kecamatan Labok mengaku mengalami kesulitan mendapatkan peralatan untuk membina areal sawah yang digunakan untuk menanam padi SRI. Menjawab hal tersebut, Presiden SBY memerintahkan Mentan dan menteri-menteri terkait untuk dapat membantu petani-petani di daerah tersebut agar dapat mengatasi masalah ini dengan cara membuat mesin untuk mempercepat produktifitas pertanian mereka. “Pemerintah juga akan berusaha untuk mengalokasikan dana yang lebih besar untuk usaha kecil dan menengah. Pemerintah akan berusaha untuk mempermudah penyaluran modal usaha ini agar suku bunga tidak begitu tinggi, dan persyaratan dipermudah,” terang SBY. (mit/osa)