Berita Utama
Senin, 29 Oktober 2007, 11:30:10 WIB
Presiden: Darah FKPPI adalah Darah Pejuang dan Darah Pembangunan
Presiden SBY memberi sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional VIII Generasi Muda FKPPI, di Caringin, Bogor, hari Senin (29/10) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
"Peran dan andil FKPPI dalam gerak perjuangan dan pembangunan bangsa, besar. Andil saudara besar. Saya katakan tadi di ruang tunggu kepada pimpinan FKPPI, ayahanda FKPPI, prajurit TNI dan Polri adalah darah pejuang. Karakternya adalah pejuang. Darah FKPPI itu adalah darah pejuang, karakternya adalah karakter pejuang. Darah FKPPI adalah pembangunan. Karakternya terus menerus membangun negeri kita menuju ke keadaan yang lebih baik. Meskipun selalu ada masalah dan dinamika, ada gonjang-ganjing, tetapi membangun negara satu hari pun tidak boleh berhenti. Tidak boleh absen dari situ. FKPPI juga harus terus menerus ikut dalam pembangunan bangsa di pusat maupun di daerah. Bahkan saya kira banyak putera-puteri FKPPI yang berada di luar negeri melakukan hal yang sama. Adakah peran seperti itu dapat dipertahankan, dapat disosialiasikan pertanyaannya kepada FKPPI dapatkah diteruskan? Dapatkah diaktualisasikan?" tanya Presiden. "Dapaaaat! Jawab seluruh yang hadir. "Insya Allah kalau tekadnya kuat Tuhan kasih jalan, jawabnya ada pada FKPPI," kata SBY.
"Saya ingin mengingatkan kembali bahwa negara kita ini berada dalam proses transformasi, bukan hanya reformasi. Transformasi yang besar. Pengalaman negara-negara lain, Tiongkok, sebagian Eropa Timur, sebagian negara-negara dunia ketiga itu berhasil dalam transformasi, karena pada masa yang penuh persoalan dan tantangan, bangsa itu tegar. Kita diuji ketegarannya setelah kemarin mengalami krisis yang dahsyat. Apabila kita tegar, bisa mengatasi cobaan itu dan kemudian bangkit dan maju, maka kita berhasil dalam tranformasi besar kita,"kata SBY lagi.
Presiden berkisah, saat Maret 1998 ketika Presidennya masih Soeharto waktu itu,"Saya kira beberapa senior yang hadir di sini semua masih ingat ketika itu saya masih aktif berpangkat Letnan Jendral mewakili fraksi ABRI di podium menyampaikan pandangan fraksi ABRI, pandangan akhir sebelum dilaksanakan Pemilihan Presiden dan Wapres. Saya angkat secara eksplisit reformasi yang tidak bisa tidak dilakukan. Itu saja sudah menimbulkan persoalan. Kok seorang perwira ABRI berani menyebut reformasi. Saya katakan juga, reformasi mesti punya tujuan dan arah yang jelas, dilaksanakan secara gradual atau bertahap, dikelola dengan baik, dan tentunya sesuai dengan kerangka secara nasional," lanjutnya.
SBY juga menyebut pendapat sebagian pihak yang mengatakan bahwa reformasi harus secepat-cepatnya, kalau bisa revolusi. "Saya bertahan, dan Insya Allah sampai sekarang pun saya bertahan. Tidak ada negara manapun di dunia ini yang melakukan transformasi secara revolusioner, yang berhasil dengan baik. Yang terjadi adalah kegoncangan, konflik yang panjang, bahkan tidak bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. Bukan itu yang kita pilih. Makin yakin saya ketika memimpin negara ini, setelah berkomunikasi dengan kolega-kolega saya, para pemimpin dunia, Presiden, dan Perdana Menteri, merekapun berkesimpulan bahwa harus gradual, tapi tidak boleh berhenti. Inilah ujian dantantangan. Ini yang kita harus terus melakukan perubahan secara bertahap, positif, tanpa harus terkait dengan tindakan-tindakan yang bersifat revolusioner," lanjutnya.
"Oleh karena itu, agenda kita melaksanakan reformasi setelah kita mengalami krisis, harus berjalan. Yang kedua, mau tidak mau kehidupan di negeri kita ini harus lebih demokratis. Demokratis seperti apa yang hendak kita bangun? Saya sampaikan nanti karena saya harap FKPPI bisa menjadi penjuru dalam membangun kehidupan demokrasi yang klop dan cocok untuk negeri kita. Yang ketiga adalah bagaimana kita membangun ekonomi kita agar normal kembali, dengan lebih baik lagi dibandingkan sebelum krisis, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,: kata Presiden.
Ketiga agenda itu, lanjut Presiden, harus kita tempatkan pada transformasi kita yang berdimensi luas, dan berjangka panjang. "Negara-negara lain memerlukan waktu 20 sampai 25 tahun untuk melakukan tranformasi. Tahun depan Insya Allah kita masuk 10 tahun. Mudah-mudahan 10 tahun berikutnya lagi kita lebih baik. Dengan demikian masa kalian nanti, harapan saya, Indonesia akan lebih baik. Suatu saat yang berdiri di sini adalah dari generasi muda FKPPI. Demikian juga yang menjadi walikota, gubernur, bupati. Terbuka kompetisi yang sehat, ada FKPPI, ada non FKPPI, semua memiliki hak yang sama, kewajiban yang sama, tanggung jawab yang sama. Berkompetisilah secara sehat, tanpa memutus tali silaturahim. Itu harapan saya," kata SBY mengakhiri sambutannya.(nnf)



