Berita Utama

Presiden Minta Lemhanas Sosialisasikan Climate Change

Presiden SBY menerima Gubernur Lemhanas Muladi, di Kantor Presiden, Jumat (9/11) sore. (foto: cahyo/presidensby.info)
Presiden SBY menerima Gubernur Lemhanas Muladi, di Kantor Presiden, Jumat (9/11) sore. (foto: cahyo/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) turut berperan secara aktif mensosialisasikan isu perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global kepada para pimpinan daerah. Hal tersebut disampaikan Gubernur Lemhanas Muladi kepada wartawan, usai bertemu Presiden SBY, di Kantor Presiden, Jumat (9/11) siang.

“Presiden memerintahkan supaya Lemhanas aktif di dalam turut serta menyebarluaskan dan memberikan masukan tentang perubahan iklim dan pemanasan global. Tidak hanya dalam rangka konferensi Bali, tapi juga untuk seterusnya, karena Indonesia adalah negara yang sangat strategis letaknya dan mempunyai hutan tropis yang luar biasa. Sehingga masalah concern terhadap lingkungan hidup merupakan suatu hal yang supaya menjadi fokus dari Lemhanas,” kata Muladi.

Muladi diundang Presiden SBY dalam kapasitas bukan hanya sebagai Gubernur Lemhanas, tetapi juga sebagai Ketua Dewan Pengurus Habibie Centre. Sebagai Gubernur Lemhanas, Muladi melaporkan soal penataran gubernur dan ketua DPRD Tingkat I yang pada 13 November nanti akan ditutup oleh Presiden. "Beliau sangat concern terhadap masalah itu, mungkin mendengar dari beberapa yang ikut serta bahwa hal ini harus diteruskan. Ini menanamkan suatu kerangka pemikiran sistem nasional yang harus dihayati bersama dalam kerangka otonomi daerah dan proses demokratisasi dalam satu kesatuan menghadapi perkembangan yang sangat dinamis,” Muladi menjelaskan.

Menurut Muladi, para gubernur peserta penataran mengakui hasilnya cukup positif. Karena itu, pada 14 November nanti akan disusul dengan konsolidasi 100 bupati/walikota dan ketua DPRD Tingkat II. "Langkah ini merupakan tugas yang berat bagi Lemhanas, tapi akan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dan semakin kita sempurnakan,” ia menambahkan.

Lemhanas juga diminta Presiden untuk memikirkan masalah globalisasi. Transformasi di dalam globalisasi, ujar Maladi, ternyata cukup mengguncangkan dunia dan berkembang menjadi ancaman non tradisional. "Globalisasi itu tidak hanya merupakan ancaman, tapi juga kesempatan. Dan Lemhanas sudah bergerak di bidang ini sebetulnya, memberikan masukan kira-kira persiapan apa yang harus dilakukan bangsa ini untuk menghadapi proses globalisasi ini ke depan,” Muladi menjelaskan.

Khusus mengenai Habibie Centre, kata Muladi, Presiden menanyakan soal kemungkinan kerjasama dengan Habibie Center. Beberapa waktu lalu, Presiden SBY mengadakan pertemuan dengan Habibie. “Terutama sejauh mana Habibie Centre bisa memberikan pengamatan yang obyektif dan independen untuk memberikan analisis tentang indeks pencapaian, indeks kinerja dari kepemimpinan Indonesia, termasuk kekuatan, kelemahan peluang dan kendalanya," Muladi menuturkan.

Muladi menjelaskan, Habibie Centre dipercaya karena memang tidak ada elemen-elemen yang subyektif di dalamnya, hanya masalah-masalah yang akademis dan ada kejujuran intelektual. Pada Desember nanti, Habibie Center akan mengadakan seminar untuk merumuskan masalah Indeks Pencapaian Kepemimpinan di Indonesia, tidak hanya Presiden tapi juga menteri-menteri gubernur, bupati/walikota sampai yang level bawah. "Apa yang telah dicapai, apa yang kurang perlu dan ditingkatkan ke masa depan. Itu merupakan satu hal yang sangat penting untuk kita lakukan," ujar Muladi.

Habibie Centre adalah lembaga non politik dan non profit. "Tidak ada rasa kebencian, betul-betul untuk kepentingan bangsa dan negara. Pak Habibie sendiri tidak ingin menjadi presiden, sehingga tulus dalam memberikan masukan,“ kata Muladi mengakhiri keterangannya. (nnf)