Berita Utama

Presiden: Demokrasi di Indonesia Permanen

Presiden SBY memukul gong tanda dibukanya Konferensi IAPC ke-40 di Nusa Dua, Bali, Senin (12/11) pagi.  (foto: cahyo/presidensby.info)
Presiden SBY memukul gong tanda dibukanya Konferensi IAPC ke-40 di Nusa Dua, Bali, Senin (12/11) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Nusa Dua-Bali: Indonesia termasuk negara terakhir yang masuk dalam Gelombang Ketiga demokrasi yang dimulai tahun 1970-an. Proses transisi demokrasi di Indonesia adalah salah satu momen yang melanda dunia akhir abad 20. Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya usai menerima Medali Demokrasi dari IAPC di Grand Hyatt, Nusa Dua Bali, Senin (12/11).

"Saya ingat saat itu banyak yang bersikap skeptis. Demokrasi, katanya, tak akan bertahan lama di Indonesia karena rakyatnya belum siap. Negaranya terlalu besar. Demokrasi hanya akan mengantarkan menuju chaos dan bahkan memecahbelah Indonesia. Ada yang berkata juga bahwa yang terjadi di Indonesia hanyalah pergantian rezim. Bahkan kolumnis favorit saya, Thomas Friedman, mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara yang kacau. Dan ada yang memprediksikan bahwa demokrasi akan mencetuskan ekstrimisme dan radikalisasi politik Indonesia," kata Presiden.

"Hari ini kita bisa bangga, sebagai rakyat Indonesia dengan meyakinkan berhasil memutarbalikkkan pendapat-pendapat skeptis tersebut. Demokrasi kita sudah lebih kuat dan lebih berkembang daripada sebelumnya. Indonesia berhasil menyelenggarakan pemilu yang katanya paling luas dan paling kompleks, dengan damai. Dari pada terpecah belah, Indonesia menjadi semakin bersatu dengan tercapainya perdamaian di Aceh. Daripada menjadi radikal, Indonesia menjadi semakin moderat dan progresif. Bagaimanapun demokrasi Indonesia, Islam, dan modernitas berjalan bergandengan tangan. Dibandingkan kekacauan dimana Presiden berganti empat kali selama 1998-2002, demokrasi kita sekarang menghasilkan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang tertinggi setelah krisis keuangan," Presiden menambahkan.

"Bagaimanapun, saya harus mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia sudah mencapai satu titik untuk tidak mundur kembali, yang ditunjukkan dengan tanda-tanda seperti kita sudah berhasil melewati dua kali pemilu dan beberapa pergantian Presiden dengan damai. Kita telah secara radikal dan fundamental mengubah peta politik di Indonesia sebagai hasil dari pemilu lokal dan nasional. Kita telah mereformasi insitusi militer dimana fungsi TNI menjadi sebagai pertahanan negara, juga penjaga demokrasi dan reformasi. Permasalahan politik yang kadang muncul seperti di negara demokrasi, tetapi tidak pernah ada isu ancaman mengenai perebutan kekuasaan. Dan ada pendapat publik yang menunjukkan bahwa meskipun publik kehilangan kepercayaan pada politisi, lembaga atau kebijakan, kepercayaan pada nilai demokrasi tidak tergoyahkan dan dalam faktanya semakin meningkat. Kesimpulannya sangat jelas, bahwa demokrasi ada di sini di Indonesia secara permanen," Presiden menjelaskan. (nnf)