Berita Utama
Rabu, 28 November 2007, 10:30:09 WIB
Presiden: Dunia Harus Berterima Kasih pada Indonesia
Presiden SBY menanam pohon untuk memulai gerakan Penanaman Serentak dan Pekan Pemeliharaan Pohon, di Desa Cibadak, Bogor, Jabar, Hari Rabu (28/11) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
"Dunia harus berterima kasih kepada negara-negara yang memiliki hutan hujan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Tapi negara-negara yang memiliki hutan hujan tropis tersebut merupakan negara berkembang. "Mestinya dunia membantu Indonesia memelihara hutannya dengan teknologi dan dengan sumber-sumber keuangan yang lain," kata SBY. "Indonesia akan terus menyerukan kepada dunia untuk melakukan kerjasama yang adil dalam rangka menyelamatkan lingkungan. Kalau buminya sama-sama ingin selamat ya berbagi. Itu kerja sama yang adil," kata SBY.
Dunia bisa alami krisis dan malapetaka yang hebat, apabila manusia Indonesia tidak peduli dengan kebersihan lingkungan. "Kalau bumi makin panas dan kalau iklim terus berubah, maka terjadi banyak bencana, dan yang jadi korban adalah makhluk hidup di dunia ini termasuk manusia. Oleh karena itu kita mendukung kegiatan melakukan penanaman pohon ini," lanjutnya.
"Hari gini baru menanam pohon? Tidak ada kata-kata terlambat untuk sebuah pekerjaan yang mulia. Kita pelihara lagi lebih giat untuk anak cucu kita. Kita harus serius menjaga hutan kita. Illegal logging musuh besar kita, dia bikin celaka negeri ini, harus kita berantas," tegas SBY. Kepada Menteri Kehutanan MS Kaban, SBY berpesan agar terus memperketat kontrol hutan di seluruh Indonesia untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Usai mengikuti seluruh rangkaian acara, Presiden SBY beserta Ibu Negara menanam pohon Puspa di lokasi, diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia di segala penjuru secara serempak. Turut hadir mendampingi Presiden antara lain Menko Polhukam, Widodo AS, Menko Perekonomian Boediono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menneg LH Rachmat Witoelar, Menkes Siti Fadhillah Soepari, Seskab Sudi Silalahi, Kapolri Jend. Sutanto serta Jubir Presiden, Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. (mit)



