Berita Utama

Beberapa Kepala Negara akan Hadiri Konferensi Bali

Jakarta: Pada tahun 2007 ini, Indonesia mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah UNFCCC (United Nations Framework Conference on Climate Change), tanggal 3 sampai 14 Desember 2007 mendatang. "Konferensi tersebut merupakan konferensi tingkat menteri dan akan dipimpin oleh Menteri Negara LIngkungan Hidup," jelas Jubir Presiden Dino Patti Djalal dalam konferensi persnya di Kantor Presiden, hari Jumat (30/11) siang.

Konferensi Bali ini tidak akan menghasilkan perjanjian baru yang akan menggantikan Kyoto Protocol yang berakhir tahun 2012. "Konferensi ini akan menghasilkan Bali Roadmap, suatu konsensus dari negara-negara yang hadir dalam konferensi ini mengenai proses untuk mencapai perjanjian pasca Kyoto Protocol. Yang pasti, di dalam Bali Roadmap sudah ada empat Building Blocks dalam konsensusnya yang berupa mitigasi, adaptasi, investasi dan keuangan serta transfer of technology. investasi dan keuangan dimasukkan ke dalam salah satu building blocks karena kalau kita melakukan perubahan yang mendasar dalam sistem ekonomi dan sosial kita, tentu harus ada investasi," jelas Dino.

Selain empat hal tersebut, masih ada beberapa hal yang rencananya akan dimasukkan ke dalam konsensus, antara lain deforestation dan forest degradation, response measures, energy efficiency dan international cooperation. "Namun masih ada perdebatan mengenai aspek-aspek ini apakah menjadi bagian dari roadmap atau tidak," kata Dino kepada para wartawan.

Dino menjelaskan bahwa negara yang akan mengikuti konferensi tersebut tercatat 161 negara, yang merupakan seluruh anggota PBB. "Dan negara yang menandatangani Kyoto Protocol sebanyak 175 negara. Jadi jumlah negara yang menandatangani berbeda, dan negara seperti Australia dan Amerika Serikat akan mendandatangani UNFCCC, tapi belum menandatangani Protocol Kyoto," papar Dino.

"Jadi kita berharap langsung ada perundingan usai konferensi di Bali, dan dalam 2 tahun pada tahun 2009, perundingan sudah selesai. Jadi perundingan untuk perjanjian pasca Kyoto dan antara 2009 dan 2012 adalah proses ratifikasi, dan setelah 2012 ketika Kyoto Protocol tidak berlaku lagi, perjanjian baru sudah berjalan otomatis. jadi ini adalah makna strategis dari konferensi Bali, sebagai bagian yang penting dari upaya global untuk menangani perubahan iklim," kata Dino.

Pada tanggal 3-11 Desember, di dalam UNFCCC, akan berlangsung pertemuan-pertemuan pendahukuan oleh majelis anggota UNFCCC dan majelis Kyoto Protocol. Pada tanggal 12-14 Desember, akan diadakan high level plenary meeting yang akan dihadiri oleh Presiden SBY. Pada tanggal 8 - 9 Desember akan ada side meeting antara Menteri Perdagangan, kemudian pada tanggal 10-11 Desember akan ada pertemuan Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan. "Pertama kalinya dalam sejarah pertemuan UNFCCC, ada pertemuan Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan, dan logikanya adalah apabila kita menginginkan perubahan, perlu memasukkan keuangan dan perdagangan dalam skema yang besar ini," jelas Dino.

Pada UNFCCC, Presiden SBY akan membuka pertemuan bersama dengan Sekjen PBB Ban Ki Moon pada tanggal 12 Desember 2007. Kemudian akan melakukan working lunch bersama Sekjen PBB dan pemimpin-pemimpin negara yang akan hadir dalam konferensi di Bali. Para kepala negara yang direncanakan akan hadir antara lain PM terpilih Australia, PM Papua Nugini, PM Norwegia, Presiden Polandia dan Presiden Republik Maldives. Juga diharapkan kedatangan Presiden World Bank serta tamu VIP dari Microsoft.

Ketika Presiden SBY menghadiri KTT APEC di Sydney, Presiden SBY menggelindingkan Coral Triangle Initiative (CTI), yang dimana negara-negara anggotanya antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini serta Kepulauan Solomon. "Karena kepentingan internasional dan juga kepentingan Indonesia. apa yang digelindingkan oleh Presiden sudah masuk tahap perencanaan kongkrit pada tingkat pejabat tinggi dan kita merencanakan agar setelah mengadakan pertemuan tersebut, para delegasi CTI bisa bertemu dengan Presiden," ujar Dino. (mit)