Berita Utama
Kamis, 6 Desember 2007, 17:04:00 WIB
Presiden di Hadapan Peserta PPR Lemhanas:
"Masya Allah, Mahal Benar Biaya Demokrasi"
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan mahalnya biaya untuk demokrasi di Indonesia. “Saya terus memikirkan perkembangan demokrasi di negeri ini. Apa iya pemilihan umum legislatif dan Pilpres sampai puluhan trilyun rupiah. Masya Allah, kok mahal bener,” kata Presiden di hadapan peserta Program Pendidikan Regular angkatan ke-40 Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional), di Istana Negara, Kamis (6/12) siang.Presiden membandingkan dengan anggaran untuk pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan dalam APBN. “Biaya yang kami alokasikan di APBN untuk pengurangan kemiskinan di seluruh negeri, dulu tahun 2004 sebesar Rp 17 trilyun, tahun 2005 naik Rp 24 trilyun, 2006 Rp 41 trilyun, dan tahun 2007 Rp 57 trilyun. Itu untuk pekerjaan yang sangat besar, mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan masih banyak lagi biaya pendidikan dan kesehatan. Kalau untuk biaya demokrasi itu demikian mahal apa tepat? Mengapa tidak efisien dalam sistem politik kita. Dalam aturan pemilihan kita, saya masih ingin, kita semua, pemerintah KPU, DPR marilah kita rumuskan jangan terlalu mahallah, proses politik ini ?” lanjut Presiden.
Presiden SBY juga menyinggung banyaknya pimpinan daerah yang sibuk mempersiapkan pilkada. “Pilkada masih beberapa tahun, tapi gubernur, bupati dan walikota sudah ke kiri ke kanan, diam-diam mempersiapkan Pilkada berikutnya. Berapa banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk mensukseskan program pemerintah. Rakyat bertahun-tahun dikotak-kotakkan, merugi jadinya bangsa. Election itu adalah penggal waktu tertentu, sependek mungkin, seperti negara-negara lain itu, untuk bertemu dengan publik, masa untuk election. Dengan demikian akhirnya waktu itu lebih digunakan untuk membangun rakyat, tidak terlalu lama dikotak-kotakkan. Jadi ada ekses, ada biaya, “ kata Presiden.
Presiden SBY juga mengingatkan para peserta Lemhanas mengenai globalisasi. “Think globali act locally. Mengapa kita harus berpikir global ? Di dunia masa kini banyak sekali sumber-sumber kemakmuran, banyak sekali peluang yang karena sifat globalisasi itu sendiri, banyak negara yang dengan cerdas memungut yang baik mengalirkan sumber yang baik untuk kepentingan negara masing-masing. Think globally harus cerdas mengenali peluang dan resources. Jangan yang cerdas hanya Vietnam, India, China, dan kita tidak tahu banyak seperti itu. Tapi kemudian act locally, akhirnya semua pada tingkat lokal, miskin, nganggur dan belum sejahtera," “ kata Presiden.
Sebelumnya, Gubernur Lemhanas Prof.Dr. Muladi melaporkan bahwa program pendidikan regular angkatan ke-40 Lemhanas tahun 2007, berlangsung selama 9,5 bulan, dari tanggal13 Maret – 13 Desember 2007, termasuk off campus melalui e - learning selama 3,5 bulan untuk materi yang kategori core Lemhanas. Jumlah peserta 101 orang. Terdiri atas pejabat senior terpilih tingkat eselon II di lingkungan departemen, kementrian lembaga pemerintah non departemen, pengurus pusat partai politik, lembaga sosial kemasyarakatan tingkat nasional, TNI dan Polri.
Dua orang perserta menyampaikan hasil seminar dengan tema pelaksanaan otonomi daerah dalam menunjang ketahanan politik kepada Presiden SBY. Mereka adalah Kol Laut Hari Wibowo, Dr Ir Agus prabowo .
Hadir dalam acara tersebut, Menko Polhukam Widodo A.S, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Seskab Sudi Silalahi, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, KSAD Jend. TNI Djoko Santoso, KSAL Laksamana Madya TNI Sumardjono,KSAU Marsekal TNI Herman Prayitno, Kapolri Jend.Pol.Sutanto, dan Jubir Presiden, Andi Mallarangeng. (nnf)



