Berita Utama

Pembukaan Pertemuan Lintas Agama dan Perubahan Iklim

Presiden SBY membuka Pertemuan Lintas Agama dan Perubahan Iklim di Hotel Melia, Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY membuka Pertemuan Lintas Agama dan Perubahan Iklim di Hotel Melia, Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Nusa Dua, Bali: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Pertemuan Lintas Agama dan Perubahan Iklim di Hotel Melia, Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12) sekitar pukul 13.35 WITA (12.32 WIB). Agama dapat memainkan peran untuk memobilisasi umatnya untuk lebih peduli terhadap perubahan iklim.

Acara diawali dengan pandangan para tokoh agama di Indonesia terhadap isu perubahan iklim. Diawali dengan sambutan Ketua MPR Hidayat Nurwahid yang menjelaskan bahwa Islam sangat concern terhadap persoalan lingkungan dan kelestarian bumi. “Bahkan seandainya kiamat terjadi hari ini, bila kita punya benih, tanamlah pohon itu saat ini juga. Itu arahan Nabi Muhammad SAW,” kata Hidayat yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh islam.

Setelah itu, berturut-turut menyampaikan pandangannya enam tokoh yang mewakili agama-agama di Indonesia. Mereka adalah Din Syamsudin (Ketua MUI dan Ketua Umum PP Muhammadiyah), Richard Daulay (Sekjen Persekutuan Gereja Indonesia), Dogma Situmorang (Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia), I Made Erata (Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia), Bhiksu Vidisasa (Sekjen Konferensi Agung Sangha Indonesia), dan Budi S. Tanuwibowo (Ketua Matakin – Konghucu).

Semua tokoh agama mengemukakan bahwa agama menekankan pentingnya menjaga keseimbangan huvbungan antara manusia dan Tuhan serta manusia dengan alam semesta. Mereka juga berkomitmen untuk membimbing umatnya menyelamatkan bumi dan kehidupan dari kerusakan akibat perubahan iklim.

Presiden SBY dalam sambutannya menyatakan gembira dengan komitmen para pemuka agama tersebut. "Dengan kebersamaan, kemitraan dan kerja sama yang baik antar pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat luas maka komitmen tinggi penyelamatan lingkungan dapat dilakukan," ujarnya.

Pertemuan lintas agama dan perubahan iklim ini diselenggarakan oleh Kementeriian Negara Lingkungan Hidup, Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Coservation International. Pertemuan diikuti para tokoh agama sejumlah negara. (har)