Berita Utama
Rabu, 2 Januari 2008, 11:00:00 WIB
Presiden Buka Perdagangan Hari Pertama 2008 Bursa Efek
Presiden SBY didampingi Menkeu Sri Mulyani menandatangani sertifikat logo baru BEI, pada pembukaan hari pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2008, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (2/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
"Pada tahun 2008 ini, bersama pemerintah, mari kita tingkatkan komitmen, dedikasi dan kerja keras kita untuk kepentingan rakyat bangsa dan negara kita. Mari kita pastikan bahwa kontribusi pasar modal kita bagi pertumbuhan perekonomian nasional dan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat makin meningkat. Dengan pesan dan harapan itu, maka dengan mengucapkan bismillahirrakhmanirrakhim dengan diiringi doa agar industri pasar modal Indonesia lebih maju dan berkembang di tahun 2008 ini, maka perdagangan hari pertama tahun 2008, secara resmi saya nyatakan dibuka,” kata Presiden SBY dengan menekan tombol sirene, tepat pukul 09.30 WIB.
Mendampingi Presiden, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani , Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri PU Djoko Kirmanto, Meneg BUMN Sofyan Djalil, Menkominfo M.Nuh, Kapolri Jend. Pol.Sutanto, Gubernur DKI Fauzi Bowo, Ketua Bapepam-LK, A.Fuad Rahmany dan Direktur Utama PT.Bursa Efek Indonesia, Erry Firmansyah.
Dalam laporannya, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, kinerja Bursa Efek Indonesia tahun 2007 sangat menggembirakan dengan peningkatan secara signifikan seluruh indicator perdagangan seperti aktivitas transaksi, pergerakan indeks, maupun minat investor asing untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia. Dilaporkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami peningkatan yang signifikan. "Bahkan tanggal 11 Desember 2007, IHSG mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah yang mencapai level 2.810,962. Sedangkan pada penutupan perdagangan tahun 2007, IHSG ditutup pada level 2.745,826 atau meningkat 52,08% dari level penutupan di tahun 2006 yaitu 1.805,523," kata Menkeu.
“Angka tersebut merupakan prosentasi pertumbuhan indeks tertinggi di kawasan Asia ini di luar China, dan nomer tiga di Asia Pacific setelah Bursa Efek Shanghai dan Bursa Efek Shenzen. Nilai kapitalisasi pasar BEI yang mencerminkan total asset dari perusahaan-perusahaan yang listing di BEI juga pernah mencapai lebih dari Rp 200 trilyun pada tanggal 11 Desember 2007, sebelum akhirnya ditutup pada angka Rp 1982,7 trilyun pada tanggal 27 Desember 2007 yang lalu. Angka pada penutupan transaksi 2007 tersebut telah menunjukkan terjadinya peningkatan nilai kapitalisasi pasar lebih dari 57 persen pada tahun 2007. Pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar tersebut, juga cukup signifikan dalam meningkatkan kontribusi pasar modal terhadap total Produk Domestik Brutto Nasional yang tadinya hanya 37,4 persen di tahun 2006, saat ini nilai kapitalisasi pasar tersebut telah mencapai 67 persen dari Produk Domestic Brutto Nasional,” kata Menkeu.
Nilai transaksi saham tahunan dari BEI, kata Menkeu, juga meningkat lebih dari 130 persen dari Rp 445 trilyun di tahun 2006, menjadi lebih lebih dari Rp 1.043 trilyun tahun 2007 yang lalu. “Hal ini sejalan dengan meningkatnya nilai rata-rata transaksi saham harian di bursa dari hanya sekitar Rp 1,85 trilyun pada tahun 2006, telah menjadi Rp 4,2 trilyun per hari di tahun 2007,” kata Menkeu lagi.
Pada kesempatan itu Menkeu menyatakan bahwa Bursa Efek Indonesia bersama dengan PT.Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT.Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memberikan sumbangan kepada pemerintah sebesar Rp.3 miliar bagi korban bencana alam di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Presiden kemudian meresmikan penggunaan logo baru Bursa Efek Indonesia, hasil merger Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya sejak 30 November 2007, dilanjutkan dengan pengarahan Presiden dan dialog dengan para pelaku pasar. (nnf)



