Berita Utama
Rabu, 2 Januari 2008, 11:30:49 WIB
Presiden pada Pembukaan Pasar Modal 2008:
Tidak Benar Sektor Riil Belum Tumbuh
Presiden SBY menyampaikan sambutan pada pembukaan hari pertama Bursa Efek Indonesia tahun 2008, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (2/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
“Banyak yang mengatakan, sektor riil belum tumbuh, atau jalan di tempat. Tidak benar, karena kalau ekonomi tumbuh 6,3 persen misalnya, maka itu agregat dari pertumbuhan sektor riil. Itu adalah kumpulan dari semua komponen pendukung dari dimensi ekonomi kita. Sektor riil bisa dilihat dari pajak yang dikumpulkan oleh pemerintah. Akan ketahuan bila pajak yang disampaikan kepada negara itu naik, berarti tentu pendapatannya juga naik. Itu salah satu indikator menguji apakah sektor riil itu telah tumbuh atau belum. Dan sektor-sektor riil mana yang belum memiliki pertumbuhan yang cepat, mana yang kurang cepat, memang ada yang masih stagnan,” kata Presiden.
“ Prestasi pasar modal menunjukkan kondisi lain seperti stabilitas politik, kondisi sosial masyarakat, kepastian hukum, faktor keamanan di seluruh tanah air. Karena sesungguhnya berkaitan dengan kepercayaan. Tidak mungkin kalau investor dan pelaku pasar gamang melihat keadaan Indonesia 2007 kemarin, lantas 2008 melakukan sesuatu di pasar modal. Itu sudah menunjukkan bahwa we are moving ahead.
Pada awal tahun 2008 ini , kata Presiden, patut kalau kita terus mengikuti dinamika dan perkembangan ekonomi global. “Pada era sekarang ini ekonomi semua negara, termasuk ekonomi Indonesia, sudah terintegrasi dengan ekonomi global. Oleh karena itu menjadi kewajiban kita untuk memahami perilaku ekonomi global dan faktor-faktor lain yang bisa gunakan untuk mengembangkan ekonomi di negeri kita. Banyak yang meramalkan, akan terjadi resesi pada tingkat dunia, meski banyak yang juga percaya bahwa resesi itu tidak seburuk yang diperkirakan banyak orang,” kata Presiden.
Ekonomi outlook Indonesia tahun 2008 ini, kata Presiden, dunia masih sangat concern terhadap financial market straight. “Saya sampaikan tadi, kedua volatilitas dari pasar minyak yang menjadi kepedulian semua ekonomi di dunia. Bayang-bayang tekanan inflasi, terutama berkaitan dengan food dan energy. Global warming, climate change mengubah tatanan kerjasama global. Climate change itu juga dimaknai dengan makin banyaknya bencana alam di seluruh dunia, yang tentu akan memukul ekonomi negara- negara yang bersangkutan. Inilah faktor-faktor yang mesti kita terus ikuti dan antisipasi. Kita harus siap untuk melakukan respon yang cerdas terhadap dinamika perekonomian global tersebut," lanjut Presiden.
Presiden juga mengingatkan bahwa meski diprediksikan terjadi perlambatan ekonomi tahun 2008 ini, tapi hal ini jangan membuat kita terlalu cemas. “Sejauh mana kalau akan ada economic slow down terhadap perekonomian nasional kita, kita mesti harus memahami dan mengantisipasi. Tapi saya berpesan dan mengajak, tidak perlu terlalu cemas. Perkiraan yang kita lakukan, prospek ekonomi Indonesia tahun 2008 tetap positif, tetap baik," lanjutnya.
Dampak sub prime mortgage yang memukul banyak pasar financial di banyak negara, kata SBY, hampir tidak ada pengaruhnya terhadap keuangan kita, yang bisa dikategorikan menganggu Indonesia, juga negara produsen minyak dan gas, karena itu ada plus minus. Kantong kanan dan kantong kiri. "Meskipun kita mengalami masalah dalam subsidi, tapi penerimaan negara dari minyak dan gas deggan harga minyak yang tinggi, juga menjadi satu hal yang positif. Kalau dilihat dari semua sisi tadi, maka tidak perlu kita terlalu khawatir terhadap dinamika ekonomi global, meskipun kita harus terus mengantisipasi dan merespon dengan tepat, dan harus ada policy adjustment apabila ternyata berpengaruh tidak baik bagi perekonomian kita,” kata Presiden. (nnf)



