Berita Utama

Sudi Silalahi:

Berita Harian 'Rakyat Merdeka' Tidak Benar

Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi saat memberi tererangan pers, di Kantor Departemen PU, hari Selasa (8/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi saat memberi tererangan pers, di Kantor Departemen PU, hari Selasa (8/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi menyatakan bahwa pemberitaan Harian Rakyat Merdeka yang berjudul Besan SBY Diplot Jadi Gubernur BI dan dimuat edisi Selasa 8 Januari 2008, sama sekali tidak benar. Hal itu disampaikan Sudi kepada wartawan di sela - sela acara pemaparan kinerja oleh Menteri Pekerjaan Umum, di kantor Kementrian PU, Jakarta Selasa (8/1).

"Saya selaku Sekretaris Kabinet kepada wartawan tidak pernah tertutup untuk klarifikasi kalau ada keraguan rekan - rekan wartawan, terhadap suatu pemberitaan. Untuk harian ini, Rakyat Merdeka, sudah yang kesekian kali. Selain judulnya yang kurang baik, disebutkan di berita ini bahwa Aulia Pohan sering diajak rapat kabinet,"kata Sudi.

"Saya kira rekan -rekan wartawan hampir setiap sidang kabinet diberi kesempatan untuk meliput, sebelum sidang kabinet dimulai. Rekan-rekan bisa melihat, apakah itu sidang kabinet terbatas atau sidang kabinet paripurna, tidak pernah sekalipun kita menghadirkan Pak Aulia Pohan dalam kapasitas apapun. Sekali lagi, tidak pernah kita menghadirkan Pak Aulia Pohan," tegas Sudi.

"Jadi kalau ada pemberitaan Aulia Pohan sering diajak rapat kabinet, maka saya katakan, ini berita tidak benar. Bahkan saya bisa mengatakan, ini fitnah dan ini sangat tidak baik. Kepada rekan-rekan wartawan, saya ingin menyampaikan kalau ada hal-hal sesuai kapasitas saya sebagai sekretaris kabinet yang berkaitan dengan kabinet yang itu tidak dalam hal off the record, kapan pun, saya siap untuk dimintai klarifikasi," kata Sudi lagi.

"Tidak pernah ada klarifikasi, tiba-tiba saja menyampaikan bahwa Aulia Pohan sering diajak sidang kabinet. Saya tidak tahu ada agenda apa di balik ini. Tapi yang jelas, ini berita bohong, berita tidak benar, mendiskreditkan Presiden SBY dan mendiskreditkan kabinet. Karena sungguh-sungguh tidak betul dan tidak pernah terjadi," jelas Sudi.(nnf)