Berita Utama
Jumat, 25 Januari 2008, 22:17:45 WIB
Presiden:
Bangsa Bermartabat Memiliki Ekonomi Berkelanjutan
Jakarta: Ukuran sebuah bangsa dikatakan bermartabat dilihat atau diukur dari taraf hidup yang layak. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Kebudayaannya saat menghadiri peringatan HUT ke-15 Center for Information and Development Studies (CIDES) di Ballroom Hotel Shangri-La, Jumat (25/1) malam.Selain itu, lanjut Presiden, bangsa yang bermartabat dapat dilihat dari kehidupannya yang aman, tertib, dan jauh dari keributan. "Poin ketiga, bangsa yang bermartabat adalah apabila demokrasi dan kebebasan belum ada yang terpasung," kata SBY. "Keempat, memiliki ekonomi berkelanjutan dan tidak terjerat utang yang tinggi. Kelima, memiliki pemerintahan yang baik dan terbebas dari korupsi yang kronis. Keenam, memelihara lingkungan yang baik untuk kepentingan bangsa di masa depan," lanjut SBY.
Poin ketujuh, negara dikatakan bermartabat adalah memiliki pendidikan yang mengutamakan penguasaan iptek. Kedelapan, memiliki pelayanan kesehatan yang layak. Sembilan, maju dalam bidang olahraga. Kesepuluh, harus mempunyai peran internasional yang baik dan konstruktif.
Sementara itu, Presiden SBY menjelaskan bahwa bangsa yang mandiri dapat dikategorikan dalam enam ciri. "Pertama, tidak tergantung absolut dengan negara lain maupun pihak manapun. Kedua, dapat menyediakan sendiri kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan," ujar SBY. "Ketiga, tidak terjerat dalam utang yang tidak rasional. Keempat, tidak didikte baik secara politik, ekonomi, dan militer oleh negara manapun," tambahnya.
Sedangkan ciri kelima dan keenam dari negara yang mandiri adalah penguasaan iptek yang terus berlanjut dan dapat mengelola sumber daya alam yang dimiliki dengan baik. "List ini masih bisa diperpanjang oleh saudara-saudara sekalian," SBY menerangkan.
"Kalau kita melihat masalah itu dari perspektif budaya, maka mari kita sedikit melakukan kontemplasi," ajak SBY. "Mari kita pahami hakikat perubahan. Paham bahwa dalam gerak perubahan selalu ada tantangan, resistensi, dan perlawanan. Agar perubahan berhasil, diperlukan keyakinan, optimisme, dan pemikiran yang positif," jelas SBY.
Untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan mandiri dari perspektif budaya, SBY yakin bahwa jalan yang diambil sudah benar dan akan mencapai hasil yang diharapkan bersama. (osa)



