Berita Utama

Pertamina Diminta Siap Kelola Blok Natuna

Presiden SBY didampingi Wapres JK, hari Selasa (19/2) pagi memimpin ratas kabinet di Kantor Kepresidenan. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY didampingi Wapres JK, hari Selasa (19/2) pagi memimpin ratas kabinet di Kantor Kepresidenan. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Hari Selasa (19/2) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Rapat Terbatas Kabinet, di Kantor Presiden. Topik yang dibahas dalam ratas tersebut adalah mengenai negosiasi Blok D Alfa Natuna di daerah Kepulauan Riau. “Negosiasi sudah berjalan hampir satu tahun, dan kami melaporkan kepada Presiden mengenai perkembangan negosiasi Natuna. Ada delapan isu yang masih ditangguhkan, dan sangat sulit untuk dipecahkan,” kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.

Dengan mempertimbangkan waktu satu sampai dua tahun pada masa terminasi Exxon tetapi belum ada negosiasi yang berhasil, maka Presiden SBY minta kepada Pertamina untuk bersiap diri di dalam pengelolaan gas D Alfa Natuna. "Apabila nanti Blok D Alfa Natuna dioperasikan, maka akan menjadi investasi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar 30 milyar Dollar AS pada perhitungan saat ini," kata Purnomo.

“Pertamina diminta mempersiapkan secara rinci, kapan harus dilakukan visibilities study dan semua tekno keenomiannya untuk dilaporkan kembali kepada Presiden pada kesempatan pertama,” jelas Purnomo. “Presiden menegaskan bahwa persiapan Pertamina ini penting. Jangan sampai kesempatan yang cukup baik ini, Pertamina tidak bisa melangkahkan kakinya dengan baik,” tambahnya.

Presiden SBY juga meminta untuk dibentuk Tim Pemerintah pada tingkat menteri, karena ini adalah permasalahan yang cukup besar. “Tidak hanya mempersiapkan di dalam teknik dan keenomiannya, tetapi juga pengembangan daerah perbatasan, karena ini letaknya memang di daerah perbatasan. Tim pemerintah diminta untuk merumuskan juga langkah-langkah kedepan yang sifatnya di tingkat yang lebih makro, termasuk pengembangan daerah perbatasan agar bisa dilakukan dengan baik. Setelah itu, dalam kurun waktu dua tiga minggu Pertamina dan Tim Pemerintah diminta untuk melaporkan kembali kepada Presiden,” lanjut Purnomo.

Rapat Kabinet Terbatas ini dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukkam Widodo A.S., Menko Perekonomian Boediono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Mendagri Mardiyanto, Dirut Pertamina Ari Sumarno, dan Kepala BP Migas Kardaya Warnika. (osa)