Berita Utama

Pemerintah dan DPR Akan Lakukan Penyesuaian

APBN 2008 Tidak Boleh Dikatakan Jebol

Presiden SBY didampingi Wapres JK dan beberapa menteri memberi keterangan pers usai  rapat terbatas kabinet,  di Kantor Departemen Keuangan, Kamis (21/2) siang. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY didampingi Wapres JK dan beberapa menteri memberi keterangan pers usai rapat terbatas kabinet, di Kantor Departemen Keuangan, Kamis (21/2) siang. (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Mengantisipasi harga minyak dunia yang telah menembus harga 100 Dollar AS/barel, pemerintah bersama DPR-RI meninjau kembali dan melakukan penyesuaian terhadap APBN 2008 yang sudah ada. Hal itu dijelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai memimpin sidang terbatas kabinet di Departemen Keuangan, Kamis (21/2) siang.

”Harga minyak yang kembali menembus 100 Dollar AS, yang tidak pernah terjadi dalam sejarah perminyakan dunia dan juga di negara kita, tentu meniscayakan pemerintah bersama DPR untuk meninjau kembali dan mengupdate APBN yang sudah ada. Defisit tentunya harus kita sesuaikan, karena bila subsidi kita biarkan tanpa solusi yang lain, nilainya akan sangat besar, bisa mencapai Rp 250 trilyun dari anggaran yang kurang dari Rp 900 trilyun, tentu sangat tidak sehat. Oleh karena itu sebagai solusi kita pilih beberapa instrumen untuk penghematan, misalnya dengan mengurangi volume BBM yang dikonsumsi di dalam negeri, “ jelas Presiden.

Instrumen lain, kata Presiden, dengan terus mempercepat konversi penggunaan minyak tanah ke elpiji, mengingat minyak tanah menerima subsidi yang paling tinggi yaitu satu liter minyak tanah sekarang menerima Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah.” Bayangkan bila dikalikan dengan pemakaian 9 juta kilo liter dalam setahun, akan sangat tinggi. Kita lakukan beberapa penyesuaian di situ, disamping tentu mesti ada efisiensi yang dilakukan oleh berbagai lembaga negara dan lembaga pemerintahan. Jadi solusi kita garap secara komprehensif agar selamat APBN kita tahun 2008 ini, mengingat tingginya harga minyak pada tingkat global. Dan yang sedang dirumuskan antara pemerintah dengan DPR akan terus kita tindaklanjuti menyangkut pertumbuhan harga minyak, lifting minyak, inflasi suku bunga SBI, dan komponen-komponen lain yang tentunya menjadi landasan dari APBN kita,” kata Presiden lagi.

Presiden menegaskan bahwa APBN tahun 2008 tidak boleh dikatakan jebol. “Saya katakan APBN tidak boleh dikatakan jebol. APBN kita masih ada, dengan penyesuaian yang sedang kita lakukan bersama dengan DPR RI. Harapan kita tetap dapat bisa melakukan pembiayaan terhadap keperluan negara, pembangunan maupun tugas-tugas rutin. Itulah sebabnya ketika ada peningkatan subsidi maka harus ada penyesuaian dari segi defisit, penghematan dan komponen-komponen lain. Yang saya katakan tadi mengkait kepada persoalan berikutnya lagi, yang perlu ditekankan bahwa bagaimanapun APBN harus bisa memberikan stimulasi pertumbuhan. Membiayai tugas-tugas umum pemerintahan, dan juga alokasi untuk sosial safety net, itu yang realistis, dan itu yang kita jadikan kerangka dari APBN yang kita revisi," jelas Presiden.

Menurut Presiden, APBN bukan satu-satunya komponen pertumbuhan.”Ada yang namanya konsumsi, yang alhamdulillah dua tahun terakhir trennya membaik, juga kontribusi konsumsi masyarakat atau private consumption pada pertumbuhan kita meningkat dengan baik. Ada lagi komponen investasi, meskipun investasi ini harus kita pacu. Dan ada komponen ekspor. Komponen ekspor kita cukup baik karena menyumbang 47 persen dari pertumbuhan tahun lalu.Tahun ini ada tantangan karena adanya resesi di berbagai dunia. Maka kita harus bekerja keras lagi untuk mempertahankan ekspor itu. Itulah sebabnya meskipun kita harus melaksanakan efisiensi, optimasi dan pengencangan ikat pinggang, tapi kita pastikan bahwa porsi untuk pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan Departemen Pekerjaaan Umum dan Departemen Perhubungan harus berjalan. Dengan demikian tetap ada komponen stimulasi pertumbuhan itu. Oleh karena itu APBN bukan satu-satunya belanja pemerintah bukan satu-satunya, semuanya harus kita sentuh agar mengamankan pertumbuhan. Harapan kita 6,4 persen tahun ini bisa kita capai," kata Presiden.

Mengenai krisis pasokan listrik yang sedang dialami saat ini, Presiden menyatakan bahwa kebutuhan berubah dengan cepat setiap tahunnya, sedangkan kemampuan listrik dan sumberdaya kurang. “Kita sadar karena sekian tahun tidak cukup menambah pasokan dengan baik, sementara permintaan naiknya luar biasa. Maka ada program-program khusus sebagaimana menambah 10 ribu megawatt listrik dalam 1- 4 tahun mendatang ini. Sementara itu kita mengetahui juga bahwa tidak boleh sumber-sumber listrik kita dan pembangkit listrik kita hanya mengandalkan satu jenis bahan bakar pemasok. Oleh karena itu harus ada kombinasi, harus ada cadangan, sistem bagaimana antara bahan bakar minyak, batu bara maupun gas. Dengan demikian kita menghadapi apapun, pembangkit listrik kita lebih reliable dan tahan terhadap berbagai persoalan. Tapi satu hal, bagaimanapun harus kita tambah daya listrik kita secara nyata di seluruh Indonesia. Dengan demikian tidak ada ketidakcocokan yang terlalu besar, antara pasokan dengan permintaan di bidang tenaga listrik,” kata Presiden lagi. (nnf)