Berita Utama
Rabu, 12 Maret 2008, 00:24:05 WIB
Isu Listrik Tenaga Nuklir Sensitif, Tapi Bukannya Tidak Boleh Dibicarakan
Teheran: Walaupun isu membangun pembangkit listrik tenaga nuklir adalah isu yang sensitif, namun tidak berarti kalau itu sensitif lantas tidak boleh dibicarakan. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan persnya, Selasa (11/3) malam, di Joumhouri Palace, Kompleks Sad Abad, di Teheran, Iran.Menurut Presiden, apabila memang kebutuhan listrik di Indonesia sudah sangat tinggi , sangat mahal untuk dibiayai dari sumber yang konvensional, maka pembangkit listrik tenaga nuklir pada saatnya bisa dibangun. Dengan demikian diharapkan bisa membawa manfaat bukan membawa masalah. “Cuma mari kita persiapkan dengan baik, dan mari kita pilih tempat yang betul-betul tepat untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Kita pertimbangkan aspek geografinya, jangan yang rawan gempa bumi. Kita pertimbangkan aspek sosiologinya, sehingga masyarakat tidak menolak, karena dianggap tidak bagus, dan sejumlah langkah-langkah lain,” ujar Presiden.
Presiden menambahkan, kalau Indonesia hanya menggantungkan pada tenaga listrik konvensional yang bersumber dari batubara, gas, dan minyak. Itupun suatu saat akan mengalami persoalan karena kompetisi, penggunaan sumber – sumber untuk kepentingan yang lain. ”Sesungguhnya logis saja kalau kita pikirkan kelak dikemudian hari membangun listrik tenaga nuklir. Bahkan kalau tidak salah, pemerintahan Presiden BJ Habibie juga memikirkan tentang itu,” ujar Presiden.
Dari segi kebutuhan energi listrik , lanjut Presiden, sejak mendiang Bung Karno sampai kurang lima tahun yang lalu, Indonesia hanya punya listrik berkapasitas 25 ribu megawatt. Oleh karena itulah pemerintah sekarang melakukan upaya, boleh dikatakan percepatan penambahan daya listrik bertenaga uap sebanyak 10 ribu megawatt. "Tetapi itupun perkiraan kita belum mencukupi apalagi kebutuhan industri, bisnis, komersil, termasuk rakyat, yang terus meningkat," kata Presiden. (win, nas)



