Berita Utama

Dari Lima Pertemuan Bilateral

Sekjen PBB dan 4 Pemimpin Negara Harapkan Peran Lebih Indonesia

Presiden SBY Chief Caretaker Adviser dari Bangladesh, Fakhruddin Ahmed, di Hotel Meridien le President Dakar, Senegal, Jumat (14/3) siang. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Presiden SBY Chief Caretaker Adviser dari Bangladesh, Fakhruddin Ahmed, di Hotel Meridien le President Dakar, Senegal, Jumat (14/3) siang. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Selain mengikuti KTT OKI (Organisi Konferensi Islam), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengadakan lima pertemuan bilateral masing-masing dengan Perdana Menteri Lebanon, Fouad Siniora, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Sudan Omer Hassan Ahmed El-Bashir, Chief Caretaker Adviser dari Bangladesh, Fakhruddin Ahmed, dan sebelumnya pada hari Kamis malam bertemu dengan Sekjen PBB, Ban Ki-moon.

Kepada wartawan hari Jumat (14/3) malam waktu setempat atau Sabtu pagi WIB, Presiden mengatakan, sebenarnya masih banyak pemimpin negara yang juga ingin bertemu, tetapi karena jadwal terlalu padat sehingga keinginan itu tidak bisa terpenuhi. “Sekjen PBB, dalam pertemuan dengan saya, beliau mengulangi terimakasih dan penghargaan Indonesia karena telah menjadi tuan rumah UNFCCC di Bali. Sesuai dengan pembicaraan saya dengan beliau, kita akan membangun high level forum, yaitu Indonesia, Presiden Polandia, Presiden Denmark, Sekjen PBB, dan Sekejn UNFCCC.
Diharapkan sampai 2009 bisa bersama-sama memikirkan bagaimana draft pengganti Kyoto Protokol tahun 2012 yang berangkat dari Bali Road Map, “jelas Presiden.

“Mendengarkan feedback dari Prof Gambari untuk masalah Myanmar. Indonesia juga berperan mensuskseskan peran ASEAN untuk mendorong dilaksanakannya Road Map to Demokarsi, dengan penjelasan dari pemerintah Myanmar yang akan akan melaksanakan referendum, dan pemilu tahun 2010. Kita terus meningkatkan komunikasi dengan Jenderal Senior Than Shwe,” lanjut SBY. Sekjen PBB meminta agar peran Indonesia dilanjutkan, karena Indonesia dianggap mempunyai peran memperlancar komunikasi Gambari, tambahnya.

“Sekjen PBB juga mengangkat masalah Timor Leste. Indonesia pada posisi membantu apa yang diperlukan Timor Leste. Tetapi Indonesia lebih berhati-hati untuk masalah politik dan kemanan, dan Indonesia memelihara jarak untuk menghindari persepsi yang lain,” jelas Presiden.

“Waktu bertemu PM Libanon, beliau menyampaikan terimakasih karena Inonesia menggelar satu batalyon plus yang menjadi bagian peace keepeing force. Kinerja pasukan kita yang sudah kembali, dan yang masih bertugas dinilai sangat baik, dan sudah disetujui untuk menyiapkan 90 orang Polisi Militer yang akan ditugaskan ke Lebanon. Indonesia memberikan dukungan bagi pasukan pemelihara perdamanain di Lebanon, dan itu menjadi inisiatif kita untuk kebaikan Lebanon, mencegah perang baru maka Indonesia siap memberikan bantuan dibawah bendera PBB,” tambahnya.

“Saat bertemu Presiden Palestina, saya mendapat penjelasan perkembangan terkini di Gaza setelah konferensi di Anapolis. Indonesia berharap diteruskannya proses perdamaian, agar Palestina yang damai bisa terwujud. Kita tahu bahwa kondisi keamanan di Gaza sekarang seperti apa. Sebelum melangkah lebih jauh dangan Israel, harus ada kekompakan dalan Palestina sendiri,” kata Presiden.

“Saat bertemu Presiden Sudan, beliau ingin Indonesia meningkatkan kerjasama dengan Sudan, dan berpartisipasi dalam misi perdamaian di Darfur. Kita telah memepersiapkan 140 polisi kita untuk bertugas di sana atas permintaan PBB. Kalau bisa ditingkatkan menjadi 140 lagi, ini permintaan Sudan. Saya melihat progres yang baik dari Sudan untuk menegakkan perdamaian di Darfur. Sementara dengan pemimpin Bangladesh, beliau menjelaskan misi yang diemban untuk persiapan pemilu. Bangladesh memiliki tradisi demokrasi yang baik, dan Indonesia siap membantu untuk menyelesaikan masalah politik di sana,” kata Presiden SBY. (osa, nas)